Hati ‘Orang Pintar’ yang Telah Dimatikan oleh Allah

Logika paling sederhana untuk menumbuhkan dan memperkukuh iman di dalam hati ialah memperdalam ilmu. Ilmu agama dan umum.

Itulah sebabnya senantiasa dianjurkan untuk rajin-rajin ikut majelis, kajian, liqa’ hingga baca buku. Majelis ilmu amatlah berperan penting bagi proses kematangan iman dan amaliah kita.

“Allah akan mengangkat derajat-derajat orang-orang beriman dan berilmu di antara kalian ….”

“(Ulul albab) adalah orang-orang yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, dan dalam berbaring pun memikirkan penciptaan langit dan bumi ….”

Dan masih banyak lagi khazanah ayat dan hadits serta maqalah para ulama yang menunjukkan perihal urgennya memperdalam ilmu pengetahuan.

Logika sederhana itu mudah sekali untuk kita mengerti.

Ambil misal begini:

Orang yang beriman dan berilmu akan mikir bagaimana bisa ya al-Qur’an ini mewartakan tentang proses kelahiran manusia melalui sebutan “lengket” (bagai lintah yang menempel di dinding rahim) di saat tak ada sarana sains dan teknologi apa pun—dan kini terbukti benar itu.

Akal sehat akan takjub, kagum. Jika bukan karena mikjizat, mustahillah Nabi Muhammad Saw mampu menyatakan hal tersebut.

Pun dengan ilmu ekonomi kekinian, misal, kita mengerti kenapa al-Qur’an mengharamkan praktik riba yang hanya akan makin melebarkan jurang keadilan ekonomis antara si kaya dan si miskin.

Mau pakai teori ekonomi Marxis, umpama, kita bisa semakin menohokkan bukti-bukti kejahatan sistem ekonomi yang hanya berorientasi pada profit, termasuk dengan menggelar riba.

Dengan metodologi riset sosial seputar pernikahan (rumah tangga), kita makin bisa mengerti kenapa di dalam rumah harus ada imam dan makmum. Tak bisa atas nama kesejajaran gender dan egalitarianisme ala-ala feminis liberal, suami dan istri jadi imam semua, atau imam kolegial, dalam artian yang harfiah. Pasti pecah dan remuk rumah tangga itu.

Juga dengan ilmu psikologi kita mafhum mengapa Rasulullah Saw meletakkan aspek “baik agamanya” di atas segala syarat baik mencari pasangan, sebab semua orang yang baik iman dan amaliahnya, sudah pasti akan baik pulalah akhlaknya.

Mustahillah seorang imam (lelaki) yang luhur iman dan ibadahnya akan mendiskriminasi dan menomorduakan marwah istrinya. Mustahil.

Saya kerap guyon sama teman-tekan yang masih muda dan belum menikah:

Kelak jika cari pasangan, pastikan calonmu bukanlah pemuja feminisme. Sebab itu akan jadi biang kerok tradisi konflik dalam rumah tanggamu. Tidaklah mungkin ada dua singa jantan dalam satu sarang. Cukuplah kualitas iman dan ibadahnya dijadikan ukuran dasarnya.

Seyogianya cukuplah senarai-senarai logis dan faktual itu menjadi bukti akan besarnya manfaat ilmu pengetahuan bagi makin baiknya mutu iman, amaliah, dan akhlak kita.

Tapi, kenapa makin banyak saja orang yang makin tinggi sekolah dan kuliahnya, makin jauh dolannya, makin luas pergaulannya, malah makin jauh ia dari ajaran agamanya?

Imannya makin tak terawat, amaliah-amaliahnya (bahkan yang mahdhah) makin disepelekan (bahkan diragukan). Ilmu pengetahuan yang mereka asup makin menjurangkan mereka dari Allah Swt.

Ada apa ini?

Surat al-Baqarah ayat 6-7 mengatakan, “Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman.

Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.”

Urutan masalahnya jika berdasar dua ayat pendek tersebut adalah:

Pertama, beriman. Nomor satunya adalah beriman. Ya, beriman saja. (Suatu hari insya Allah saya akan mengulas tentang “bagaimana bisa kita hanya perlu beriman saja sebagai langkah awalnya?”).

Kedua, dampak berikutnya dari tiadanya iman (atau makin punahnya iman yang dulunya telah ada di dalam hati, misal karena keturunan keluarga muslim) ialah lahirnya penyangkalan-penyangkalan.

Makin luasnya ilmu pengetahuan yang diasup, pertanyaan-pertanyaan kritis yang timbul akan makin meneguhkan keraguan-keraguan di dalam hati, lalu mengerucut berupa penyangkalan-penyangkalan logis, analitik, dan argumentatif.

Makin sempurnalah samudera keimanan yang (CATAT) tak mungkin dijangkau keseluruhannya oleh nalar manusia manapun tercampakkan. Ilmu pengetahuan yang tabiatnya memang mendorong lahirnya kritisisme-kritisisme malah menjungkalkannya pada pengingkaran-pengingkaran yang berargumentasi (seolah) kokoh, ilmiah, dan otoritatif.

Penting diingat bahwa tabiat kritisisme ilmu pengetahuan bukanlah hal nista. Tidak. Ia netral saja. Sampai kemudian individu yang mengasupnya, yang melahirkan kritisisme-kritisisme itu, mengarahkannya berdasar (1) arah hatinya (2) kepentingannya (3) kontrol moral dan sosialnya.

Tepat di sini kita mengerti mengapa ada sejumlah orang yang makin tinggi ilmunya malah makin dekat kepada kefasikan, manipulasi, dan oligarki busuk. Dan, jelas, termasuk pengingkaran pada kemahakuasaan Allah Swt.

Itu karena kritisisme-kritisisme ilmu itu tidak berlandas kepada keimanan, sehingga lalu mendorongnya hanya mengacu pada empirisisme (yang tentu saja gagap menjangkau keseluruhan samudera iman dan Tuhan).

Walhasil, lajunya hanya akan mengarah pada dua kemungkinan: keserakahan survival khas insting makhluk (misal, kuasa ekonomi yang menghasilkan si kaya makin kaya si miskin makin miskin) dan (paling banter) etika sosial material (nilai-nilai sosial humanistik tanpa ontologi Ruhaniah).

Sikap-sikap kritis tanpa iman itu makin lama akan makin mendesakkan keyakinan akan kemahakuasaan mutlak dirinya pada dirinya. Tidak ada selainnya, apalagi Allah. My life is in my hand, itu di antara slogannya.

Benarkah mereka menemukan hidup yang sungguh-sungguh hidup dengan cara demikian? Jelas tidak.

Niscaya pada derajat-derajat tertentu, ia akan terjengkang di hadapan realitas hidup yang tak kuasa dimengerti akalnya belaka. Muncullah kementokan, lalu kalut, stres, dan depresi.

Mau tahu kelebihan orang beriman? Di antaranya adalah mengobati risiko-risiko kehampaan batin demikian.

Sebab kepongahan kritisisme ilmu itu terus dilazimkan, dikukuhkan, didarahdagingkan, Allah lalu memberlakukan hukuman rohani: menutup hatinya, menguncinya, mematikannya, sehingga jadi bebal, mati rasa, lebih keras dari batu; matanya dibutakan dan telinganya ditulikan.

Maka wajarlah kendati mau ditunjukkan alasan, ulasan, logika, argumentasi, rujukan, fakta, dan temuan sains terkini apa pun, ia sama saja: tetaplah kufur dan ingkar pada Allah.

Sama saja, kata al-Qur’an. Sebab hatinya telah dimatikan oleh Allah. Mereka akan terus menyangkal, menolak, bersipongah, bahkan di saat bangunan argumentasinya telah sangat telanjang, rapuh, dan memalukan untuk dipertahankan oleh akal sehat yang menyatakan diri menghormati intelektualitas.

Dalam ayat lain, Allah melukiskan manusia yang telah dihukum demikian seperti hewan, bahkan lebih bodoh lagi (ulaika kal an’am balhum adhal).

Oleh: Edi AH Iyubenu.

Tinggalkan Balasan