Amat banyak ayat dalam al-Qur’an yang menyatakan bahwa ia adalah dari Allah, kalamullah, petunjuk bagi manusia, pemberi kabar gembira dan ancaman, dan dijaga kesuciannya oleh Allah langsung.

Semestinya, banyaknya banjaran ayat tentang keagungan al-Qur’an itu sudah cukup untuk membuat semua makhluk Allah mengimaninya, mengaribinya, dan selalu menjadikannya pegangan hidup.

Nyatanya, tidak, ya. Lebih banyak dari kita kini, muslim dan muslimah yang mengaku beriman pada Allah dan pengikut Rasulullah Saw., enteng saja menyepelkan dan mengabaikan al-Qur’an.

Jangankan menjadikannya pegangan hidup (hudan), memegangnya saja tidak. Jika membacanya saja tidak, lalu bagaimana mungkin menjadikannya rujukan dan panduan?

Mustahil.

Dan situasi begini telah diterakan dalam al-Qur’an sendiri sejak ribuan tahun silam. Masyaallah.

Simaklah surat al-Waqi’ah ayat 75-81. Rentetan ayat tersebut menyajikan: pertama, sumpah Allah bahwa al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Allah, dari sisi Allah, dan tak boleh ada keraguan sedikit pun padanya.

Kedua, bahwa hanya kelompok orang yang bersih saja yang akan ‘menyentuhnya’ (yamassuhu). Ketiga, ‘olok-olok’ Allah kepada manusia yang meragukannya, tak menjadikannya pegangan hidup, atau tak mengimaninya.

Mari kita renungkan.

Pertama, gerangan apakah dalam laju hidup ini yang tak dikandung dan diberikan fondasi nilai dan ajarannya oleh al-Qur’an?

Al-Qur’an bicara tentang dua lautan yang tak bercampur seolah ada pembatas antarkeduanya di surat ar-Rahman, itu telah terbukti benar secara sains ilmiah.

Al-Qur’an bicara tentang pertemuan sel sperma dan sel telur di rahim, lalu jadi gumpalan daging, ada tulang, dll., hingga lahir manusia, itu pun terbukti sahih secara sains ilmiah.

Al-Qur’an bicara tentang garis edar bulan, matahari, dan bintang-bintang yang teratur, itu telah pula terbukti benar secara sains ilmiah.

Al-Qur’an bicara tentang siklus terjadinya hujan, lalu tumbuhan, yang menjadi makanan dan penghidupan kita, itu juga terbukti benar secara sains ilmiah.

Al-Qur’an bicara tentang bangsa-bangsa terdahulu yang dihancurkan akibat serangan gempa, banjir, dan angin badai, semua itu terbukti benar keberadaanya secara sains ilmiah.

Semua itu hanyalah sejumlah kecil contoh dari keseluruhan testimoni al-Qur’an yang diturunkan ribuan tahun silam kepada rasul yang ummi (surat Jum’at, 2), di tengah ketiadaan sains, teknologi, dan sarana-sarana yang memungkinkannya logis diketahui, dan kini terbukti benar adanya.

Kita mengimaninya. Mempercayainya. Tetapi, mengapa kita meragukan testimoni-testimoni al-Qur’an yang belum mampu atau mustahil kita buktikan kebenarannya secara sains ilmiah kini?

Mengapa kita bersikap tebang pilih?

Al-Qur’an bicara tentang kiamat, kita ragu. Bicara tentang hari pembalasan, kita menyangsikan. Bicara tentang surga neraka, dianggap khayalan. Bicara tentang semua karunia adalah milik Allah dan Allah pulalah yang menentukan kepada siapa dan seberapa karunia-karunia itu diberikan, kita tak percaya.

Kita bersipongah bahwa kesuksesan, pencapaian, kejayaan, kemajuan, semua adalah buah dari capaian kecerdasan dan kegigihan kerja kita. Bukan karunia Allah.

Bukankah hati kita begitu? Bahkan selalu begitu?

Kedua, ada begitu banyak ayat al-Qur’an yang ‘mengolok-olok’ kepongahan kita yang meragukan atau tak menyandarkan seluruh aspek hidup kepada kebenaran kandungan al-Qur’an. Ungkapan-ungkapan “lau kanu ya’lamun, la’allakum tatafakkarun” (jika mereka mengetahui, semoga kalian berpikir) merupakan sindirian atau cemooh terhadap kebodohan dan kebebalan kita yang celakanya mengatasnamakan kecerdasan dan kehebatan diri kita.

Al-Qur’an misal menolok kita perihal air yang kita minum,

“Apakah air itu kalian turunkan dari balik awan ataukah Kami yang menurunkannya? Umpama Kami mau, akan Kami jadikan asin semua itu, laku bagaimana mungkin kalian tidak bersyukur?”

Itu sungguh olokan dengan logika yang sangat sederhana yang menampar kesombongan kita untuk mengimani Allah dan kandungan al-Qur’an. Coba saja cerna. Bagaimana jadinya jika tak diturunkan hujan?

Bagaimana bila kita lalu kehabisan air? Bagaimana kita bisa bertahan hidup tanpa air? Apakah kita mampu menciptakan air? Dan, bagaimana bila semua air di bumi ini tiba-tiba jadi asin? Bisakah kita hidup?

Tepat di hadapan tamparan ini, segala kecongkakan akal, sains, dan kitab ilmiah apa pun seketika ompong tiada daya. Tapi, kenapa kita masih ingkar kepadaNya, menyepelekan kandungan al-Qur’an? Kenapa hati kita sedemikian beku, bebal, dasn kerasnya?

Ketiga, iman. Inilah kunci pokoknya, pertamanya. Maka syahadat dijadikan rukun pertama Islam.

Tanpa fondasi iman, termasuk di antara rukun iman ialah beriman kepada kitab Allah (al-Qur’an), mustahil kita bisa menerima segala apa yang dituturkan al-Qur’an, dari bagian yang telah terbukti secara sains ilmiah hingga yang belun atau muskil dibuktikan. Sebutlah hari kebangkitan dan pembalasan.

Perihal iman sudah pasti adalah urusan hati. Maka, tugas pertama kita, ialah membuka hati demi masuknya Cahaya HidayahNya, dengan cara menyingkirkan segala keakuan (ego-diri) di hadapan isyarat-isyarat kemahakuasaanNya. Lalu, merenungkan secara mendalam perihal kewujudan kita dan relitas yang melingkupi kehidupan kita.

Simaklah dengan hati luas dan renungan mendalam bagaimana proses ada kita di dunia ini: orangtua kita, masa kecil kita, hingga kita bersekolah, bekerja, menikah, beranak-pinak dan seterusnya. Bagaimana semua itu terjadi, kadang dalam kesempitan dan kadang lain dalam kelonggaran, sedemikian teraturnya hingga membentuk diri kita kini.

Permenungan terhadap tamsil sejenis ini tertera jelas dalam al-Qur’an.

Tamsil-tamsil lainnya jelas sangat bisa kita jelentrehkan dalam pelbagai aspek dan material di hadapan hidup kita. Seluasnya, bahkan tanpa batas. Semakin jauh, luas, dan mendalam kita merenungkan, ternyata semuanya memiliki landasan etik dan nilainya dalam al-Qur’an.

Maka, bagaimana mungkin keluasan maha luas tamsil ini dikandung penuh oleh al-Qur’an yang turun 15 abad silam?

Iman. Imanlah satu-satunya jawaban finalnya.

Lalu logikanya kini apa alasan untuk tidak bisa berdekat, berkarib, dan merujuk selalu kepada al-Qur’an?

Inilah di antara letak kemukjizatan al-Qur’an, “Takkan menyentuh (al-Qur’an) kecuali orang-orang yang disucikan.” (Qs. al-Waqi’ah ayat 79)

Silakan saja kamu setinggi gunung kuliahnya, semelimpah air laut bacaannya, dan seluas cahaya matahari pergaulannya, tetapi itu bukan jaminan sama sekali kamu akan bisa intim sama al-Qur’an.

Secara logis, sebagaimana telah dituturkan di bagian awal kajian ini, semakin dalam ilmu pengetahuan kita, semakin kagumlah kita pada kandungan al-Qur’an yang penuh kejutan dan keajaiban. Tapi, nyatanya, prinsip logis tersebut tak selalu bekerja, kan? Itulah kemukjizatan al-Qur’an.

Hanya orang-orang yang disucikan alias menghunjam imannya yang akan mampu bersahabat karib dengan al-Qur’an. Dengan kata lain, frase “orang-orang yang disucikan” (oleh Allah) berpangkal pada mutu iman di hati.

“Siapa yang beriman pada Allah niscaya Allah akan memberikan pertunjuk kepada hatinya” (Qs. at-Taghabun ayat 11).

Kita paham dengan sederhana bahwa semakin hunjam iman di hati, semakin jauhlah kita dari segala keburukan, kekotoran, kekejian, kemungkaran. Bentuk sederhana dari segala keburukan itu ialah kemaksiatan.

Maka, logikanya, jika kelakuan keseharian kita dekat dengan praktik-praktik maksiat (dari yang kecil sampai besar), sebagai cerminan dari dangkalnya iman di hati, PASTI kita berjarak dengan al-Qur’an. Tidak mungkin tidak.

Semakin jauh jarak kita dengan al-Qur’an, itu tanda semakin leburnya kita dalam kemaksiatan kepadaNya (bisa dalam bentuk ‘ubudiyah maupun mu’amalah).

Sekali lagi, perhatikan, dekat/jauhnya kita dari al-Qur’an adalah cermin nyata dari dalam/dangkalnya iman di hati dan bersih/kotornya hidup kita.

Hati yang kotor, akibat hidup yang berlumur dosa, MUSTAHIL menyentuh al-Qur’an.

Apakah ini masih belum cukup untuk dijadikan alat muhasabah (introspeksi) diri?

Oleh: Edi AH Iyubenu.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: