cara kuliah ke luar negeri

Hello, Girls! Setelah Lulus Sarjana, S2 Dulu atau Nikah Dulu nih?

Seringkali merasa dilematis, apalagi sudah berhubungan dengan kedua orang tua. Yang satu berharap pendidikan tinggi, yang satu tidak. Heeemmm.

Nikah atau S2?

Kamu pasti akan menemukan jawabannya!

Oke, aku akan nikah. Tapi … setelah lulus S2. Seperti dia … ya aku juga harus terpelajar, punya karir yang bagus! Baru kita berdua akan jadi jodoh yang pas.

Setiap kali TV hidup dan iklan produk fair and lovely ini lewat, adik aku yang masih sekolah dasar langsung menyahut, “Waahh … Kayak Kakak ini mah, hahaha.” Dia tertawa sambil meledek.

Aku hanya mendengus dan mengacak rambutnya yang tak pernah rapi. Bayangkan! Anak sekecil itu sudah paham arah pembicaraan orang dewasa. Padahal, setahuku dia tidak pernah ikut nimbrung jika aku sama Ibu sedang ngobrol. Dia selalu asyik dengan kesibukannya sendiri, entah bermain atau nonton TV.

Dua bulan yang lalu setelah aku lulus sarjana, suasana telah membuat dunia ini menjadi misteri yang menyeramkan. Sebuah kebimbangan dan keraguan menyatu dalam pola pikirku. Sangatlah biasa jika mendengar nyinyiran tetangga, Sudah lulus kok nganggur? Sudah lulus kok belum nikah? Dan sejenisnya. Malah ada juga yang bilang, Lihat tuh si Neneng, gak kuliah aja sekarang sudah nikah dan jadi guru! Lengkap sudah berbagai nyinyiran yang menggelitik di telinga.

Dulu ketika aku masih semester enam, ibuku sering menceritakan beberapa lelaki muda yang dikenalnya. Aku sering mengabaikan. Tak ingin membahas perihal jodoh dulu, tapi ibu berkali-kali mengingatkan bahwa hal ini tidak boleh dianggap ringan. Meski tugas wanita hanyalah menanti, tapi dia sebaiknya sadar, harus ada usaha untuk memperbaiki diri, mempersiapkan diri, dan tak lupa berdoa untuk meminta kepada Allah. Begitulah nasihat ibu kala itu.

“Eh, iniloh anaknya temennya Ibu, dia sudah lulus kuliah dan sekarang jadi angkatan laut!” ucap ibuku dengan nada menggoda. Berbagai jenis lelaki yang ditawarkannya, dari model ustadz, dosen, polisi, hingga angkatan laut. Aku mendengar ucapannya, tapi sengaja kuabaikan.

“Apa jangan-jangan ada lelaki yang sedang disukai yaaa. Kok selalu mengabaikan kalau Ibu mau nunjukin laki-laki lain.” Ibu menatapku dengan penuh curiga.

Dengan santai aku menyodorkan ponsel, ibuku terkejut melihat fotoku di depan monas yang di crop sengaja oleh Irfan. Lelaki yang secara to the point menyatakan perasaannya terhadapku.

“Jadi … ini toh laki-laki yang….” suaranya terputus ketika aku memberi isyarat untuk diam.

“Jadi, Bu…, waktu itu kami satu kelas jalan-jalan ke Jakarta, kebetulan ketika mampir di monas, bertemu dengan lelaki ini. Dia sudah lulus satu tahun yang lalu, secara tidak sengaja dia ikut foto ketika aku foto bersama teman-teman, nah lalu dia minta nomor teleponku setelah perkenalan singkat.”

“Lalu selanjutnya? Kamu suka sama dia?” tanya ibu semakin penasaran.

“Hemm…, tidak mudah bagi Lina mencintai dengan secepat ini, Bu.”

“Yaahh … dianya suka enggak sama kamu?”

“Dia malah bilang kalau dia itu klik sama aku. Kalau aku menyetujui tawarannya, dia pasti langsung bertindak.”

“Heeh, tawaran apa emang, Lin?”

“Dia bilang, bagaimana kalau setelah lulus kami nikah, lalu lanjut S2 bersama, gitu. Heemm, cita-cita Lina banget kan ya kalau bisa S2 dibersamai suami.”

“Ya sudah, suruh saja dia datang kesini kalau memang serius.”

“Tapi Lina kan belum lulus, Bu?”

“Ya, gak apa-apa. Nanti nikahnya tetap kalau kamu sudah lulus, Lin.”

Hari-hari berlalu secepat kilat. Irfan datang ke rumah tanpa memberi kabar. Dia hanya memberi kode dengan sengaja mengumandangkan adzan shalat dhuhur di masjid sebelah rumah. Sempat bergetar hebat hati ini ketika mendengarnya, diantara terkejut dan heran jika mendengar adzan dari anak muda, apalagi suaranya merdu. Padahal biasanya yang adzan suaranya itu-itu saja. Bapak-bapak dan kakek-kakek yang terkadang bercampur batuk ketika adzan. Jangan heran, memang di desaku belum ada generasi pemuda yang sosoknya rajin ke masjid, paling maksimal ya anak-anak kecil itu, semoga mereka bisa istiqomah meski di masa remaja dan dewasanya nanti.

Jelas saja ibuku terkejut dan menanyakan siapa yang adzan ini, bahkan ibuku sudah menduga melalui firasatnya. Ayah yang baru saja pulang dari masjid dan meletakkan kopyahnya, diserbu dengan beberapa pertanyaan dari ibu.

“Yah, tadi di masjid siapa yang adzan?”

Ayahku menggeleng, sifatnya yang cukup pendiam sering membuatnya bertindak dengan isyarat.

“Eh, serius loh, Yah. Kenal tidak kira-kira?” tanya ibu lagi.

“Sepertinya plat motornya dari kota Blora,” jawab ayah singkat.

“Nah, kan benar dugaanku. Lin, Lina. Segera siapkan menu apa adanya yang sudah Ibu masak!” Ayah bengong melihat sikap ibu, tapi dia tak segera bertanya karena penasaran atau sekadar iseng. Ayah selalu membiarkan dirinya tahu ketika sudah waktunya, intinya tidak kepo.

Dengan tubuh gemetar aku menuruti perintah ibu, sesudah itu aku mengaktifkan telepon dan benar saja, semakin terkejut diriku membaca pesan Irfan.

Lina, setelah jamaah dhuhur nanti aku ke rumahmu. Maaf, jika mendadak dan tidak memberi kabar sebelumnya.

Apakah ini kejutan yang membahagiakan atau sebaliknya, aku tak tahu. Rasaku kali ini seolah diambangkan antara suka karena disukai atau suka murni dari hati. Aku tak pandai masalah ini. yang jelas, kali ini aku welcome saja dengan apa yang dilakukan Irfan.

Setelah beberapa menit jamaah shalat dhuhur pulang, Irfan dengan gagah mengetuk pintu rumahku. Dengan gesit aku bersembunyi, sialnya ibu memanggil-manggil namaku.

“Lin, Lina. Itu tamunya sudah datang, temui sana!”

“Ah, jangan Lina ah, Ibu saja, yaa….”

“Yahhh, Ibu kan tidak kenal, dia kan kenalnya Lina. Sudah ah sana temui, sudah gede juga. Harusnya berani dong!” Ibu tak pernah bosan menggodaku.

“Yasudah kalau begitu kita temui sama-sama, yuk!” ajakku cari aman.

Ibu menggandeng lenganku dan menuntun ke arah ruang tamu. Seperti apa coba dituntun begini. Duh, memalukan kali ya kalau dibayangkan. Ibu menjawab salam dan mempersilahkan duduk, setelah bincang ringan tentang latar belakang Irfan dari mana dan sejenisnya, Irfan langsung mengutarakan tujuan kedatangannya.

“Bu, sebelumnya sudah pernah diceritakan belum sama Lina?” tanya Irfan basa-basi.

“Cerita tentang apa? Ibu belum tahu,” jawab ibu pura-pura tidak tahu, karena ibu ingin langsung mendengar semuanya dari lisan Irfan.

“Jadi begini, saya punya niat yang serius untuk merancang masa depan bersama Lina. Itupun kalau ibu merestui kami.”

Ayah tiba-tiba datang dan duduk di samping ibu. Perempuan paruh baya itu sedikit terkejut dan langsung terdiam, seolah sudah menduga apa yang ada dalam pikiran suaminya.

“Jangan terburu, biarkan Lina sekolah sampai tinggi dulu. Katanya mau cari beasiswa S2?” tanya Ayah dengan nada datar dan suara rendah. Tatapannya menyelidik pandanganku. Aku hanya tertunduk, tak mampu bertindak apapun, bahkan lisanku saja seolah terkunci serapat mungkin.

Obrolan itu berlanjut sampai ayah pun terbawa suasana. Sikap Irfan yang overfriendly itu begitu mudah mencuri hati seseorang yang baru dia kenal, seperti kedua orang tuaku, ayahku yang sangat pendiam pun mampu ditaklukkannya.

***

“Apa yang sebenarnya kamu inginkan toh, Lin? Ibu gak paham. Dulu kamu sering meyakinkan Ibu dan Ayah untuk merestui hubungan kamu dengan Irfan. Giliran kami sudah merestui, eh … kok kenapa tiba-tiba kamu menginginkan semuanya tidak dilanjutkan. Padahal Irfan sudah dapat restu orang tua dan segera melamar secara resmi loh,” kata ibu sedikit kecewa.

“Bukan begitu, Ibu. Dengarkan semua penjelasan Lina yaaa. Sebenarnya Lina tidak ingin menyusahkan Ayah dan Ibu. Apalagi membuat kecewa.”

“Iya, iya. Lalu apa yang membuatmu tiba-tiba berubah pikiran seperti ini?”

“Sejak satu tahun yang lalu kedatangan Irfan ke rumah, dia sering sekali menelponku, chat iseng atau bahkan sama sekali tidak penting. Seolah dia berkuasa atas diriku, apalagi sejak tahu bahwa Ayah dan Ibu merestui, dia seenaknya pajang foto aku di semua medsosnya. Lina tidak suka seperti ini, Bu.”

“Hem … apa Lina terganggu dengan sikapnya?”

“Ya pasti to, Bu. Awalnya Lina suka sih dia perhatian seperti itu. Tapi lama-lama Lina sadar bahwa seperti ini itu salah. Kami belum sah, meski melalui sosmed ya seharusnya tidak terlalu over begini teleponnya. Jadi Lina risih, Lina sengaja menjauh dan tidak meresponnya. Lina ingin fokus menulis skripsi saat itu, Bu.”

“Sekarang kamu sudah lulus, skripsi sudah kamu rampungkan. Kamu tetap kokoh dengan pendirianmu untuk tidak melanjutkan hubungan dengan Irfan?” tanya ibu mencari jawaban yakin dariku.

“Bismillah, sekarang Lina yakin saja, Bu. Lina mau pilih lanjut S2 dulu saja. meskipun sempat gagal waktu daftar kemarin, tapi masih banyak kesempatan kan, Bu untuk meraih impian? Lina sekarang tidak mau memikirkan tentang siapa jodoh Lina nanti. Minta doa Ayah dan Ibu ya untuk masa depan Lina.”

“Seratus persen yakin, Lin?”

“Iya, Bu. Bilhaqq-diucapkan dengan qalqalah-Lina yakin mengambil keputusan ini.”

“Yasudah kalau begitu gak apa-apa. Semua terserah kamu, jangan khawatir masalah S2, bisa bisa bisaaa … bismillah yaaa, sekarang Ibu tidak buru-buru punya menantu deh, supaya Lina fokus dulu kuliah S2, baru nanti nikah. Gak lama kan S2 nya?” usil ibu dengan nada selidik, aku menangkap pandangannya dengan balasan mata tajamku, lalu kami beradu pandangan dengan tawa kecil bersama.

Oleh: Sayyidatina Az-Zahra.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan