Hidup Memang Banyak Pilihan, Pilihlah yang Baik Saja

Pagi itu, sebelum ujian dimulai, ada beberapa teman yang menawarkan contekan padaku. Versi A, B, hingga bisa jadi sampai Z. Ada yang mendapatkannya dengan harga selangit, ada juga yang gratisan. Entah dari mana sumbernya, yang jelas contekan itu beredar dengan cepat. Tiba-tiba saja sudah menyebar luas lewat grup, pesan berantai, maupun dari mulut ke mulut sampai-sampai membuat seisi ruangan menjadi ramai.

Ada yang mencatat di ujung papan jalan yang ditutupi oleh kertas nomor ujian, ada yang di meja, ada yang di kertas kecil dimasukkan ke dalam tempat pensil atau kolong meja, ada yang di tangan hingga di betis. Semua tampak serius dengan caranya masing-masing.

“Kamu nyatet?” tanya Sarah, teman satu kelas yang kini satu ruangan denganku.

“Iya, buat jaga-jaga. Kamu?” ucapku sambil mencatat jawaban di papan jalan.

“Aku enggak, mau usaha dulu. Soalnya, bagi aku, ada rasa bangga tersendiri kalau bisa menggunakan kemampuan sendiri. Btw, itu kamu nyatet gitu ga takut ketahuan? Kamu kan bukan tipe orang yang biasa nyontek.”

“Hmm… yang biasa dapat nilai bagus mah beda ya, kamu mah udah pasti lulus! Takut sih, tapi lebih takut lagi kalau ga lulus.”

“Amiin… Aku juga sebenarnya takut, tapi aku percaya proses ga akan mengkhianati hasil. Harusnya kalau kamu udah belajar mah percaya diri aja, hehe.”

Dia tersenyum padaku, aku pun membalas senyumannya. Mendengar ucapannya, aku jadi ingat pesan ibu tadi sebelum pamit berangkat dan meminta doa, ”Iya mama doain, kamu juga jangan lupa doa ya, ingat harus percaya diri! Kerjakan yang mudah dulu.”

Ujian pun dimulai, pikiranku kacau, aku kesulitan mengingat semua yang telah dipelajari sebelumnya. Tanganku keringat dingin, mataku waswas melihat para pengawas yang sedari tadi berkeliling. Apalagi jika salah satu dari mereka berdua mondar mandir di dekat mejaku, benar-benar membuat jantung berdebar.

Fokusku terpecah, mataku memang sedang menatap soal, tetapi pikiranku seakan dihantui rasa takut ketahuan. Padahal, menyontek saja belum. Tetapi, perasaan cemas dan takut ini begitu menyiksa.

“Kalau ga nyontek, ga bakal ketahuan.” Aku berusaha menanamkan kata-kata ini ke dalam pikiranku.

“Harus selesai cepat-cepat sebelum dicurigai.”

“Aduh, itu matanya ngeliat ke sini mulu lagi.”

“Itu dia curiga kali ya?”

Pertanyaan dan pernyataan mulai bermunculan di kepalaku, menyebabkan pusing yang tidak karuan.

“Ya Allah, semoga bisa lulus.”

Aku mencoba mengalihkan pikiranku, mencoba berdamai dengannya. Dan perlahan, aku mulai bisa fokus mengerjakan soal hingga selesai. Aku menghapal jawabanku dan keluar dari ruangan, segera mencatatnya di kertas untuk membandingkan hasilnya dengan contekan yang aku catat.

“Hah? Cuma beda dikit?” Aku pun membandingkannya lagi dengan hasil contekan versi lain, “Lah, kok beda jauh?”

Entah versi mana yang benar, aku tak tahu. Tapi yang pasti, aku percaya dengan jawabanku. Jadi, untuk yang selanjutnya aku pakai versi yang awal aja. Aku memang takut ketahuan, akan tetapi aku lebih takut tidak lulus.

Tak lama kemudian, ujian mata pelajaran selanjutnya pun tiba. Kali ini aku mencatat jawabannya di sobekan kertas yang dimasukkan ke dalam tempat pensil.

“Kamu … kumpulkan sekarang dan keluar!” ucap salah satu pengawas yang mondar mandir sedari tadi memperhatikan papan jalan anak-anak.

Tenang, selama ga nyontek, kamu aman kok. Ga boleh panik! Aku berusaha menenangkan diri sendiri.

Soal demi soal aku selesaikan, hingga beberapa soal terakhir. Tanpa sadar, aku tergoda juga. Aku jadi ingin membuka contekannya. Namun, saat ingin melakukan aksi, rasa takutku bertambah begitu drastis. Terlebih saat mataku dengan mata salah satu pengawas saling bertemu. Aku buru-buru malingin wajah.

Ya Allah, semoga lancar. Ucapku dalam hati.

Situasi seperti ini terjadi berkali-kali dan pada akhirnya, sampai masa ujian selesai pun aku tidak punya kesempatan untuk menggunakannya. Aku hanya berharap semoga aku bisa lulus dengan baik.

***

Hari pengumuman tiba, aku melihat papan pengumuman dan mendengar gosip-gosip yang beredar.

Alhamdulillah … aku lulus dengan nilai yang aku anggap cukup.

“Eh, si ini yang pake contekan mahal itu kan? Kok bisa nilainya jelek banget ya?”

“Iya sih, aneh ya, yang lain padahal standar-standar aja nilainya. Kok bisa sih dia malah rendah gitu, untung aja masih lulus.”

Mendengar ucapan-ucapan itu aku jadi teringat seseorang dan segera mencari namanya.

Benar, kan. Dia pasti lulus! batinku.

Oleh: Achipina.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan