Sebab Hidup Penuh Pilihan, Inilah Pilihanku

Hari itu, saat semua siswa sudah mendapat pengumuman ujian, masing-masing sibuk melengkapi administrasi pendaftaran kuliah. Sementara aku, sibuk mencari lowongan kerja. Mungkin benar kata nenek (sudah meninggal), lebih baik bekerja. Aku harus membantu Emak juga kelima adik yang masih sekolah. Bukan hanya untuk keperluan harian, tapi juga membayar hutang. Iya, aku harus bekerja. Lalu, bagaimana dengan impianku?

Keputusan Bapak benar-benar membuatku frustasi. Harapan yang sudah kurajut sejak di bangku SMP hilang seketika. Apa salahnya jika aku mencoba? Bukankah beasiswa ada di mana-mana? Tapi beliau tetap melarangku melanjutkan sekolah dengan berbagai alasan.

“Bukankah dengan bekerja, aku bisa sambil menabung untuk biaya kuliah,” pikirku waktu itu. “Tapi aku tidak mau ikut saudara, tidak mau kerja di Jakarta. Aku ingin mandiri.”

Akhirnya aku memutuskan kerja di Malaysia. Melalui sebuah agen dari Yogyakarta. Ya, salah seorang karyawan pernah presentasi di sekolah. Entah mengapa aku langsung tertarik. Siapa tahu dengan bekerja di sana, aku bisa mendapat banyak pengalaman.

Lalu aku beserta sepuluh teman mengikuti seminar di SMK Penabur. Ternyata banyak sekali yang hadir. Saat memasuki ruangan, beberapa temanku ketakutan. Mereka pun pulang, tinggallah kami berlima. Saat sesi pemberian formulir, ketiga temanku juga ikut keluar. Mereka tidak tahu kalau ternyata ini bukan hanya seminar, melainkan rekrut tenaga kerja.

“Dwi, beneran kita akan mendaftar kerja? Kamu serius?” tanyaku pada sahabat, rumah kami berdekatan.

“Iya, La. Aku mau kerja saja, kita bareng, ya?”

Kami pun mengikuti acara sampai selesai. Dari pengisian formulir, sesi wawancara, dan menjawab soal. Sekitar jam tiga sore baru selesai.

“Wi, aku belum bilang sama Emak kalau mau kerja.”

“Aku sudah, Mamak mengijinkan. Asal bareng kamu.”

Aku termenung, kira-kira Emak marah gak, ya.

Sampai di rumah, aku segera mengatakan apa yang baru saja terjadi.

“Kenapa harus ke luar negri tho, La? Jauuuuuhhh, kalau Mak kangen bagaimana?” Kulihat air mata mengalir di wajahnya.

“Cuma dua tahun kok, Mak. Kontrak. Lila gak bayar, biar potong gaji saja. Mak jangan takut. Agen ini di bawah koordinasi Depnaker. Minta doa restunya, ya, Mak.”

“Iya, tapi ….” Emak memelukku erat. “Maafkan Emak, Nak.”

Masih ada tahap lagi yang harus dilalui, yaitu tes kesehatan.

Pagi itu, kami semua yang lolos seleksi sebelumnya berangkat ke klinik Yogyakarta. Nama klinik itu aku lupa. Yang jelas, di sana antri sangat panjang. Kami pun pulang sore.

Sepanjang perjalanan pulang aku terus berdoa. Kok, jantungku berdebar-debar, ya? Dalam kondisi batuk yang teramat sakit, apa aku lolos? Kalau tidak bagaimana?

“Ya Allah, jika aku memang ditakdirkan bekerja di sana, tentu aku akan lolos tes kesehatan ini. Tapi jika tidak lolos, pasti ada jalan lain yang harus ditempuh.”

Pemikiran itulah yang tertanam dalam hati. Seminggu menunggu kabar dari panitia, seperti menunggu hasil ujian sekolah. Untung saja Dwi punya hape, jadi bisa mendapat kabar darinya.

“Lila …. Lila, ada sesuatu nih,” Dwi berlari menghampiri rumahku.

“Ada apa?” tanyaku sedikit berteriak. Emak pun ikut heran.

“Kita lolos tes kesehatan, La. Seminggu lagi kita berangkat.” Dwi tersenyum riang.

“Alhamdulillah, terima kasih ya Allah.”

Di sudut rumah, Emak hanya terdiam. Kupeluk erat beliau, kucium tangannya.

“Mak, maafkan Lila. Mohon doanya, Mak.”

Oleh: Lila Sulis.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan