“Apa saja kembali kepada Al-Quran. Perasaan sempit, rezeki kurang, rumah tangga cekcok, negara kacau, baca Al-Quran maka akan turun inayah Allah. Nangis dengan Al-Quran.

Kalau baca Al-Quran itu lebih dari doa. Kita baca Al-Quran sama dengan kita ngomong kepada Allah. Allah Maha Tahu dengan maksud kita, ndak usah kita minta.” Kalam Habib Muhammad Mahdi Bin Hasan Bin Hadi Al Haddar dari Banyuwangi; pada acara Haul KH. Muhammad Tsani Ahad 11 Muharram 1429 H di Pondok Pesantren Al Falah Banjarbaru.

Dunia saat ini semakin sibuk. Setiap orang berlomba untuk meraih kesuksesan. Yang lengah dan lambat akan ketinggalan. Tak jarang kita yang sedang berada di dalamnya akan merasakan sumpek. Hidup selalu dihantui dengan masalah rezki yang sendat, keluarga yang kacau balau, pekerjaan yang amburadul.

Namun kita masih saja mengandalkan otak dan kekuatan untuk menyelesaikannya. Akibatnya Allah akan serahkan urusan yang kita sedang hadapi tersebut pada kita sendiri. Dari membuka mata hingga memejamkannya kembali, kita berpikir dan berusaha untuk membereskan masalah tersebut. 

Setelah itu apa yang kita dapat, bukan beres tetapi stres. Kenapa? Jawabannya hanya satu karena kitanya yang ngeyel. Sudah dibilangin tetapi tetap nggak mau nurut-nurut.

Barangsiapa yang berpaling dari mengingat-Ku, kata Allah dalam firman-Nya, maka baginya kehidupan yang sempit.

Sempit hatinya. Sempit pikirannya. Sempit rezkinya. Dan sempit rumah tangganya. Benar apa yang dikatakan Al-Habib Mahdi, apa saja mesti kita harus kembali kepada Al-Quran. Mari kita baca Al-Quran, pelajari isinya, ikuti petunjuknya.

Apabila kita laksanakan itu semua, tak usah bersusah payah mencari solusi atas permasalahan yang sedang kita hadapi, karena Allah telah menyiapkan solusinya untuk kita. Bahkan tidak usah kita pinta pun solusi itu akan datang sendiri.

Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa yang disibukkan dengan mengingat-Ku sehingga dia lupa meminta kepada-Ku, niscaya Aku beri dia dengan yang lebih baik dari yang dipinta oleh orang-orang yang meminta.

Membaca Al-Quran itu zikir yang paling utama, karena dengan membaca Al-Quran berarti kita sedang berbicara langsung kepada Allah. Bukankah Al-Quran itu kalamullah. Di dalamnya ada perintah dan larangan-Nya. Ada arahan dan petunjuk dari-Nya. Segala solusi dan nasihat sudah tesedia di dalamnya.

Tidak ada nasihat yang lebih baik dari nasihat Al-Quran. Tidak ada solusi yang terbaik melebihi solusi yang ada di dalamnya. Hanya saja kadang mata hati kita yang buta. Bukannya solusi dan petunjuknya yang tidak ada namun hati kita yang tidak mampu melihatnya.

Kita tak ubahnya seperti orang buta di siang hari mengatakan, “Hari ini tidak ada Mataharinya ya?” Bukan Mataharinya yang tidak ada tetapi matanya yang buta, tidak bisa melihatnya.

Dalam ceramahnya Al-Habib juga menceritakan kisah Nabi Yunus yang ditelan ikan besar kemudian Nabi Yunus berhasil keluar dari ikan tersebut. Kemudian Al-Habib bertanya, apa yang menyebabkan Nabi Yunus dapat selamat keluar dari ujian dan masalah yang sedang dihadapinya itu?

Ada tiga sebab, jawab beliau. Pertama zikir, kedua shalat, dan ketiga mengakui kesalahan. “Kalau saja tiga perkara yang dilakukan Nabi Yunus ini kita pegang, maka sudah pasti tidak ada keluarga yang amburadul, tidak ada negara yang kacau,” tutur Al Habib Mahdi.

Setelah zikir, sholat juga merupakan solusi dalam kehidupan. Dalam surah al-Baqorah ayat 45 Allah Swt. berfirman yang maksudnya:

“Carilah pertolongan—atas segala urusan dan permasalahan kalian—dengan sabar dan sholat dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat keculi bagi orang-orang yang khusuk.

Ini perintah sekaligus petunjuk bagi kita yang sedang mencari solusi dan jalan keluar bagi setiap permasalahan yang kita hadapi. Nabi Muhammad Saw, dalam sebuah riwayat, apabila beliau sedang menghadapi sesutu yang sulit, beliau bersegera melakukan sholat.

Bahkan beliau secara khusus berkata kepada Bilal, “Hai Bilal gembirakanlah kami dengan sholat.”

Begitulah teladan yang ditunjukkan Nabi Saw. Jadi untuk mendapatkan solusi itu mesti kita kembali kepada pemilik segala solusi. Banyak orang tidak melakukan itu, tetapi dia langsung menyelesaikannya sendiri tanpa meminta pertolongan kepada Allah Swt, Pemilik Kehidupan. Hasilnya sudah dapat dipastikan, bukannya selesai tetapi malah menambah rumitnya permasalahan bahkan akan menambah permasalahan yang baru.

Dr. Quraish Syihab dalam tafsirnya Al Misbah mengatakan, “Ayat di atas bisa juga bermakna Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolong kamu. Dalam arti jadikanlah ketabahan menghadapi segala tantangan bersama dengan sholat, yakni doa dan permohonan kepada Allah sebagai sarana untuk meraih segala macam kebajikan.

Firman-Nya (وانها لكبيرة الا على الخاشعين) mengandung arti bahwa keduanya–Sabar dan Sholat—tidak mudah diperaktekkan kecuali oleh mereka yang khusuk. Ia juga berarti bahwa sabar dan sholat harus menyatu, sebagaimana diisyaratkan oleh penggunaan bentuk tunggal untuk menunjukkan keduanya (وانها) Innaha/sesungguhnya ia bukan (وانهما) Innahuma/sesungguhnya keduanya, ini berati ketika Anda sholat atau bermohon, Anda harus sabar, dan ketika menghadapi kesulitan Anda harus bersabar, dan kesabaran itu harus diberangi dengan doa kepada-Nya (dan juga sholat).

Yang terakhir supaya kita dapat keluar dari suatu permasalah mesti menyadari kekurangan diri dan kemudian memperbaikinya.

Habib Mahdi dalam ceramahnya, membaca solusi ini dari tasbih yang dibaca oleh Nabi Yunus ketika dia di dalam perut Ikan. Tasbih tersebut berbunyi: La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu min adzzolimin/ tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau, maha suci Engkau, sesungguhnya aku dulu termasuk orang-orang yang dzolim. Kalimat di akhir tasbih ini bermakna pengakuan terhadap suatu kesalahan yang pernah dibuat pada masa lalu.

Pada titik inilah yang menjadi kunci jalan keluar serta keberhasilan pada apa yang ingin kita raih. Kita mesti merenung untuk kemudian menemukan kekurangan dan kesalahan yang telah kita perbuat pada masa yang lalu, dan apabila kesalahan tersebut sudah ditemukan, cepatlah bertobat dan berusahalah mengganti setiap kesalahan dengan kebaikkan.

Sesungguhnya bermula dari sinilah kesuksesan dunia dan akhirat akan kita raih. Semoga Allah selalu menunjuki dan memberikan taufik kepada kita untuk selalu mengikuti kebaikkan dan menyalahi keburukkan. Aamiin.

Oleh: Imron Abu Farhan.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: