Hiiih … Ngerinya Kalau Diabaikan Allah

Saya sepakat dengan ungkapan lama bahwa sesakit-sakitnya keadaan sakit ialah dicuekin. Diabaikan. Kata semboyan (maqalah) orang Arab, “Wujuduhu ka’adamihi, keberadaannya sama dengan ketiadaannya.”

Andaikan saja di sebuah tempat kumpul rame-rame, kalian hanya bisa diam menekur diri lantaran tak seorang pun dari mereka yang menyapa kalian. Apalagi mendengarkan kalian atau menawarkan sesuatu kepada kalian.

Ada seorang anak yang karena bandelnya luar biasa, telah berkali-kali ditegur, dinasihati, bahkan dimarahi oleh orang tuanya, lalu suatu saat ia diabaikan begitu saja. Pilihan mengabaikan ini semata akibat sudah capeknya orang tua berusaha mengarahkannya kepada kebaikan. Sudah mentok, sudah menyerah.

Mau datang, silakan. Mau tak pulang, silakan. Mau berangkat sekolah atau ngaji, silakan. Mau tidur aja di depan tivi, silakan. Pokonya sak karepmu (terserah kamu).

Niscaya, saya yakin amat niscaya, lubuk hatinya sangat sedih atas sikap abai tersebut. Sebab memang tiada lagi yang lebih berharga dari maujud kita ini kecuali dianggap, diwongke, alias dihargai.

Ironisnya, kita jauh lebih peduli pada perhatian sesama manusia ketimbang Allah. Iya, kan?

Kita lebih resah sama sikap abai kawan, kerabat, tetangga, atau orang di sekitar ketimbang diabaikan oleh Allah.

Dicuekin oleh Allah adalah kondisi istidraj yang amat mengerikan sesungguhnya. Istidraj adalah tatkala kita dikabulkan keinginan-keinginan kita tetapi di detik yang sama kita kufur kepadaNya.

Malas shalat, tapi rezeki naik. Pelit sedekah, tapi order meningkat. Gemar menyakiti dan menzalimi orang lain atau bawahan, tetapi bisa terus membeli ini dan itu. Bahkan, sehari-hari bergelimang kemaksiatan, tetapi derajat ekonomi dan sosial terus cemerlang.

Jelas Allah tidak tidur. Mboten sare, kata simbah-simbah kita. La ta’huduhu sinatun wa la naum, tidak pernah mengalami ngantuk dan tidur. Itu artinya, diksi tersebut, setara untuk dipahami bahwa Allah tak pernah lupa pada apa pun dan siapa pun, termasuk kita, pula kelakuan-kelakuan kita.

Seyogianya, beginilah logika kita dinyalakan selalu, sesuai dengan hukum Allah dalam al-Qur’an, orang yang kufur akan mendapatkan azabNya dan orang yang bersyukur akan menuai anugerahNya.

Tetapi mengapa ada begitu banyak orang yang kelakuannya kufur namun hidupnya mancur oleh kelimpahan harta dan kehormatan? Dan mengapa ada orang yang ahli ibadah, ahli syukur, namun hidupnya lekat dengan keterbatasan dan bahkan kerendahan?

Kita meyakini seyakin-yakinnya sebagai buah iman kita bahwa Allah tidak pernah salah, lupa, tidak adil, dan mengingkari janjiNya. Itu sifat mustahil bagiNya. Lalu, kita pun meyakini dengan buah iman kita bahwa Allah akan memberikan ganjaran pada hambaNya yang taat dan balasan kepada manusia yang bejat sesuai janjiNya dalam al-Qur’an.

Tetapi Allah pula kita yakini sebagai buah iman kita betapa Dia adalah Maha Tahu, Maha Kuasa, dan Maha Segalanya. Menjadi hak mutlak bebas bagiNya untuk menghadirkan apa pun, termasuk hal-hal yang tak logis, sebutlah pelbagai mukjizat yang telah diriwayatkan (misal ditidurkannya Ashabul Kahfi selama 300 tahun tanpa rusak dan mati), termasuk diumbulkanNya orang kufur dan direndahkanNya orang soleh.

Bebas-bebas saja semua itu diterjadikan olehNya.

Tentu saja, kita lantas mendapatkan riwayat dan nasihat hikmah di balik semua keganjilan fakta itu, yang bila diterima oleh hati yang jernih akan meningkatkan keimanan dan bila ditangkap oleh hati yang kotor berisiko makin memurukkannya pada kekufuran.

Fakta memperlihatkan bahwa orang yang gemar bermaksiat tetapi hidupnya makin tahun makin moncer amatlah berisiko untuk makin lupa pada balasanNya. Ia rentan semakin menjadi-jadi dalam gelimang kemaksiatannya. Seorang tetangga toko di pasar tempat almarhum abah jualan dulu, seorang rentenir, pernah berkata bahwa semakin ia tak shalat rezekinya semakin berlipat. Lalu kenapa harus shalat?

Itulah istidraj.

Adapun bagi orang yang imannya kuat niscaya akan memaknai segala kejadian, mau kemajuan dan kemunduran ekonomi, sebagai ujian bagiNya. Nabi Sulaiman, misal, berseru kepada Allah tatkala mendengar omongan raja semut, “Ya Tuhanku berilah aku ilham (ilmu, kemampuan) untuk tetap mensyukuri nikmatMu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal soleh yang Engkau ridhai…” (Qs. an-Naml ayat 19).

Memang, perihal hidup yang tengah dibuaikan istidraj ini amatlah melenakan. Lazim dan umum belaka kini bagi kebanyakan kita untuk mendekat kepada Allah, memohon dan menangis padaNya, tatkala didera musibah. Kita menjadi sangat dekat pada Allah dalam keadaan menderita. Parahnya, itu pun secada ekonomis.

Ketika sedang lancar jaya, rawanlah benar kita untuk bisa tetap istiqamah merawat hubungan dekat denganNya. Kita cenderung jauh dariNya, melupakanNya, seolah semua kejayaan itu bukanlah anugerahNya, tapi hasil mutlak jerih payahnya.

Jika terus begitu keadaannya, itulah deraan istidraj pada hidup kita. Itulah malapetaka terbesar bagi hidup kita. Sungguh malang bila kita tak kunjung menyadarinya sebagai malapetaka. Apalagi sampai nyawa dicabut olehNya.

Ada batometer sederhana untuk mengetahui dan lalu menyadari apakah kita sedang di-istidraj olehNya. Yakni tatkala jalan hidup kita dimudahkan tetapi di detik yang sama kita ingkar dan bermaksiat kepadaNya. Baik dalam aspek ibadah mahdhah maupun hubungan sesama manusia (hablun minallah wa hablun minannas).

Situasi ingkar, kufur, dan maksiat itu jelas bertentangan dengan syariat Allah. Logisnya, pelanggaran tersebut menisbatkan nestapa azab ada hidup kita. Ada berjubel ayat dalam al-Qur’an yang sangat benderang mendedahkan hukum tersebut.

Maka tatkala kita melanggar hukumNya tetapi secara duniawi kita tetap bergelimang kejayaan, waspadalah dengan segera. Itu pastilah istidraj. Itu adalah bentuk ujian yang jauh lebih berat dibanding ujian-ujian langsung akibat kekufuran kita; bentuk ujian yang amat rawan malah makin melenakan kita dalam kemungkaran.

Andai bisa memilih dengan penuh kesadaran bahwa dunia ini hanyalah permainan sementara dan akhirat adalah kehidupan yang abadi, niscaya kita takkan sekalipun rela menukar nikmat akhirat dengan pesona dunia seisinya. Dengan kata lain, jika kini kita merasakan bahwa sesungguhnya amaliah kita jauh dariNya, dekat pada kemungkaran dan kekufuran, tetapi hidup kita mulia, alias sedang di-istidraj olehNya, tak ada kepantasan lain bagi kita kecuali bersegera memohon ampunan padaNya. Mumpung hayat masih dikandung badan; selagi kesempatan bertaubat masih terbentang.

Umpama pada suatu masa kita dijatuhkan oleh Allah dari menara tinggi kemewahan duniawi, sebagai jalan yang dipilihNya kepada kita untuk memijarkan kesadaran akan segala dosa kita selama ini, sungguhlah itu jauh lebih baik bagi masa depan ukhrawi kita ketimbang kita terus di-istidraj dan tak sadar-sadar diri. Pada suatu kondisi, boleh jadi begitulah cara Allah menyayangi dan memberikan kesempatan terbaik kepada kita.

Mari cernati diri masing-masing dari sekarang: apakah kita sedang di-istidraj olehNya?

“Ini adalah karunia Tuhanku untuk mengujiku apakah aku bersyukur ataukah kufur. Siapa yang bersyukur sesungguhnya ia bersyukur (balasannya) kepada dirinya sendiri dan siapa yang kufur maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dibanding seluruh isi alam semesta ini.”

Oleh: Edi AH Iyubenu.

Tinggalkan Balasan