Hijrah Cinta: Nikahi atau Sudahi. Berani?

Hijrah. Satu kata yang sepertinya mudah dilakukan. Tetapi dalam menjalaninya banyak sekali tantangan. Hijrah yang dimaksudkan penulis ialah hijrah dari kebiasaan-kebiasaan buruk diganti menjadi perbuatan baik.

Saat kita memutuskan untuk hijrah, itu artinya kamu siap mengubah seluruh bagian kehidupanmu agar sesuai dengan tuntunan Islam. Mulai dari hal kecil seperti saat hendak tidur, makan, bahkan BAB, berusaha mengikuti ajaran Islam. Apalagi untuk urusan besar seperti menjaga shalat lima waktu, cara berpakaian, dan cara menjemput jodoh.

Wah, berbicara soal jodoh, dan kamu sudah hijrah, jelas tidak mau dong sama hubungan yang tidak jelas seperti pacaran. Tapi bagaimana bila ternyata kamu sudah memutuskan untuk hijrah, tetapi sulit melepaskan pacar?

Apalagi pacaran sudah bertahun-tahun dan kamu merasa sangat mencintainya. Ayo lah. Kalau belum siap menikah, ini lah alasan mengapa pilihan putus itu jauh lebih baik daripada tetap pacaran:

Pacaran tidak menjamin dia jodohmu

Mau kamu pacaran bertahun-tahun sekalipun, kalau bukan jodoh, tetap akan putus. Sebaliknya, meski hanya kenal beberapa hari kalau sudah jodoh, tidak ada satu manusia pun yang bisa menolak.

Sebab pacaran terus tidak menjamin bahwa si dia akan menjadi jodohmu. Jadi buat apa ragu untuk mengatakan putus? Toh Allah yang tahu siapa jodoh kamu. Dari pada sibuk pacaran, lebih baik sibuk membuat senang Allah sebagai Pengatur jodoh.

Pacarmu tidak dapat menjamin cerahnya masa depanmu

Begitu pun pacarmu, tidak dapat menjamin bahwa masa depanmu akan cerah bersamamu. Yang ada, dia hanya menyita waktumu. Serta membuat kamu tidak bisa fokus melakukan sesuatu yang membuat masa depanmu lebih baik. Yap.

Pacaran memang hanya membuat masa depanmu tidak jelas. Mungkin menurutmu, bersama pacar, selama ini kamu lebih semangat melakukan sesuatu. Tapi apa itu bisa bertahan seterusnya? Tentu tidak.

Akui saja kalau pacaran itu semangatnya cuma di awal. Pas di saat kamu sedang jatuh cinta, katanya. Setelah masa itu lewat, semangat kamu ikut lenyap. Belum lagi kalau bertengkar. Kamu tidak akan pernah bisa fokus mengerjakan banyak hal.

Putus tidak akan membunuhmu

Memang ada beberapa kasus orang bunuh diri karena putus cinta, atau cinta ditolak. Tapi kalau kamu memang seorang muslim sejati, tidak akan goyah hanya lantaran putus cinta. Apalagi bila sejak awal kamu memang sudah memutuskan untuk hijrah.

Tapi kalau tekadmu sudah bulat untuk berhenti pacaran, putus tidak akan menyebabkan nyawamu melayang. Sebab sudah ada keyakinan bahwa Allah akan menjaga hatimu.

Kalau hati sudah terjaga, kemungkinan untuk mati akibat putus cinta itu tidak berlaku. Patahkan saja hati dan jiwamu kepada Allah. Maka Allah akan menjaganya.

Galaunya hanya sebentar

Putus cinta mungkin akan menyebabkan kamu galau untuk sementara. Sekali lagi, perasaan sedih itu hanya bersifat sementara. Kalau masa galau sudah lewat, kebahagiaan dan ketenangan hidup akan menyambutmu.

Boleh saja kamu galau. Tapi jangan sampai melalaikan kamu dari mengingat Allah. Seiring berjalannya waktu, rasa galau itu akan pergi secara perlahan. Kamu hanya perlu terbiasa tanpa dia.

Kamu hanya perlu menyesuaikan diri tanpa telepon atau chat dari dia, tanpa perhatian dari dia. Segala hal memang perlu proses yang tidak instan. Jadi nikmati saja proses ‘melupakan’ yang memang sedikit sulit tersebut. Waktu yang akan menyembuhkan.

Putus membuat kamu lebih bebas melakukan apa pun

Daripada kamu galau karena putus dari pacarmu, lebih baik gunakan kesempatan sendiri itu untuk melakukan hal yang kamu suka. Misalnya jalan-jalan, berkumpul bersama teman, atau mencoba hobi baru yang menyenangkan.

Pokoknya jangan berlarut-larut dalam kesedihan. Hidupmu terlalu berharga untuk menghabiskan waktu bersama kesedihan. Apalagi persoalannya hanya jangan karena putus cinta, yang itu merupakan keputusanmu sendiri. Inilah kesempatan kamu untuk melakukan hal positif, yang sebelumnya tidak bisa kamu lakukan saat masih pacaran.

Cinta boleh tetap ada, tapi hidup harus sesuai tuntunan Islam

Qolbun atau hati bermakna berbolak-balik. Itu artinya hati tidak bisa kita atur sesuka kita. Ia berubah sesuai dengan kehendak Allah. Saat Allah ingin cinta itu tetap ada dalam hatimu meski sudah berhenti pacaran, apa boleh dikata.

Tapi bila belum saatnya, cinta itu tidak boleh dituruti kehendaknya. Cintamu padanya boleh tetap ada. Namun berkomitmenlah agar hidup kamu sesuai dengan tuntunan Islam. Suka, kagum, cinta, boleh saja ada di dada.

Tapi jangan biarkan ia melalaikan kamu dari jalan hijrah yang telah kamu ambil. Bila tiba saatnya bersama, bila dia adalah jodohmu, kamu dengan dia pasti bersama kembali. Jadi tidak perlu khawatir.

Pilih lamaran, atau putus

Atau kalau kamu sudah siap menikah di saat memutuskan untuk berhenti pacaran, pilihlah lamaran. Kalau kamu perempuan, minta dia melamarmu. Katakan bahwa pacaran hanya semakin menambah dosa.

Atau kalau kamu laki-laki, lamar dia, ajak dia nikah. Katakan bahwa jalan terbaik hubungan kalian adalah dengan menghalalkan. Bukan dengan pacaran.

Kalau ternyata dia tidak mau entah dengan alasan apa pun, jangan ragu untuk putus. Percayalah bahwa Allah telah menyiapkan jodoh terbaik untuk orang yang sudah memutuskan hijrah pada kebaikan.

Nah, jadi kalau kamu belum siap menikah, jangan coba-coba pacaran. Bila sudah terlanjur, lebih baik langsung lamaran. Kalau belum siap, jangan ragu katakan putus. Siap?

Oleh: Gafur Abdullah.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan