Hijrahkan Diri Sendiri Sebelum Menghijrahkan Orang Lain

Orang-orang yang baru berhijrah pasti merasakan sama dengan apa yang kurasakan. Aku ingin mengubah lingkungan yang tidak kondusif pergaulannya secara Islami, namun sayangnya aku terlalu takut untuk membagikan nasihat kebaikan. Takut dibilang sok alim atau kata lainnya yang memekakkan telinga.

Aku menginginkan orang-orang di sekitar mengikuti jalan hijrahku dalam waktu yang singkat, sayangnya aku lupa tentang diri sendiri yang membutuhkan waktu bertahun-tahun menerima hidayah untuk hijrah. Aku sempat merasa jengkel kepada mereka yang seenaknya meninggalkan sholat dan suka bermaksiat, padahal aku juga pernah pada posisi itu.

Aku terlalu egois mengatakan orang-orang yang tidak berhijrah adalah orang yang hatinya tertutup. Padahal itu adalah bagian dari hak Allah untuk memberikan atau mengambil hidayah kepada siapa pun.

Aku menghakimi banyak orang karena tidak sepemahaman denganku. Lama-lama aku lelah memaksakan banyak orang untuk sama denganku. Sampai-sampai aku merasa sudah menjadi orang yang begitu baik hingga menginginkan semua orang untuk sepertiku yang sudah mendapat hidayah.

Astaghfirullah, di situlah aku merasa bersalah. Aku berlagak seperti orang yang sama sekali tidak pernah melakukan dosa, padahal aku orang yang baru kemarin menyatakan taubat kepada Allah. Lagi-lagi dalam keadaan mendapat hidayah pun setan begitu pandai menggelincirkan aku melalui sikap sombong ini.

Aku teringat dengan teman-teman yang begitu hangatnya menyambut kedatanganku dulu dengan jilbab dan pakaianku yang masih pendek. Tanpa kelembutan dan kerendahan hati mereka, mungkin hidayah Allah tak bisa menyinggahi hati ini. Dari situlah aku tersadarkan seharusnya aku memperbaiki diri dulu dengan baik. Menyibukkan diri untuk belajar bukan menghakimi orang lain. Seharusnya aku juga turut menghijrahkan hatiku, bukan hanya penampilanku.

Aku belajar untuk tidak mencaci maki dalam batin saat melihat teman-teman melakukan hal yang kurang baik. Setiap melihat tingkah laku mereka, aku memutar kembali diriku yang dulu agar tidak ada rasa sombong dalam diri ini. Aku berusaha menerima dan bersikap biasa kepada mereka.

Seharusnya aku melangitkan doa agar mereka diberikan hidayah oleh Allah. Sekeras apa pun aku mengajak mereka untuk berhijrah, jika Allah memang tak membukakan hati orang-orang itu, maka tak akan pernah ada hidayah menghampirinya.

Aku belajar untuk menjadi diriku yang dulu. Membersamai teman-temanku tanpa ada kata-kata selipan dakwah yang disengaja. Pertemananku mengalir begitu saja. Jika mereka bertanya tentang agama, aku akan menjawabnya. Jika tidak, maka tidak ada yang perlu kujelaskan.

Saat mereka melakukan kesalahan pun tidak serta merta aku menghakimi mereka dengan menyalah-nyalahkan. Aku mendengarkan apa kata mereka, aku melihat dari sudut pandang mereka. Hingga aku merasa mereka sudah begitu nyaman denganku tanpa pernah aku sengaja membuat mereka nyaman.

Aku memperlakukan mereka dengan sebaik-baiknya semata-mata agar aku bisa menghindar dari sifat besar kepalaku. Nyatanya, yang terjadi lebih dari apa yang kuduga.

Pelan-pelan temanku mulai terbuka denganku bahwa dia sendiri mengatakan pacaran itu haram, namun dia masih berat untuk melepaskan pacarnya. Kalian tahu? Sekali pun dia belum berproses untuk bertaubat, namun perasaanku girang pada saat itu.

Bagaimana pun aku menghargai prosesnya sekecil apa pun perkembangannya. Aku mendengarkan setiap ceritanya, bahkan dia juga menjadi sering meminta pendapatku tentang hal-hal beragama. Aku merasa dia sendiri yang memberi celah untuk aku mendakwahinya. Aku tak menyangka hatinya selembut itu menerima dakwahku.

Setelah itu aku dikejutkan lagi oleh seorang teman. Dia bercerita dengan terbukanya kepadaku bahwa dia sekarang malu mengenakan jilbab yang terbuka bagian dadanya. Bukannya senang, aku malah terheran-heran. Kutanyai kenapa dia sekarang malu, dia menjawab tidak tahu. Lagi-lagi hidayah memang seperti itu. Kita tidak akan pernah tahu alasannya karena memang Allah yang menggerakkan hati berbuat seperti itu.

Di tengah keramaian musik dan suara gaduh game online di rumah kosku, aku mendengar suara gemericik air seperti orang berwudhu di kamar mandi. Lalu aku keluar kamar untuk berwudhu karena adzan isya’ sudah berkumandang. Saat aku melihat sosok orang yang keluar dari kamar mandi dan aku terkaget. Saat kutanya mau apa? Dia jawab mau melaksanakan sholat Isya’.

Teman yang kutahu selama ini sholat Isya’ menunggu jarum jam menyentuh angka 12 malam, sekarang dia akan melaksanakannya dengan tepat waktu. Bahkan beberapa kali kutahu dia lupa sholat isya’ karena ketiduran sampai pagi. Hati siapa yang tidak girang melihatnya. Ini adalah yang membahagiakan namun kututupi rasa bahagia itu.

Aku memperlihatkan sewajarnya saja. Apalagi dia bilang seperti ini, “Mungkin ini karena aku sering melihatmu berwudhu saat adzan jadinya kebawa.”

Awalnya aku tidak ingin berdakwah atau menggiring orang lain untuk berubah, nyatanya dia sendiri yang berusaha mengubah dirinya. Dari hal ini aku sadar, sebaik-baiknya dakwah adalah melalui sikap (teladan) kita. Orang lain akan mencontoh sikap kita yang dilakukan berulang-ulang sampai membentuk kebiasaan dan tanpa sadar mereka akan terpengaruh dengan sendirinya.

Hal yang dipaksakan itu bukanlah hal yang baik. Biarkan orang lain memilih jalannya sendiri asalkan kita sudah berusaha untuk memberikan bimbingan yang terbaik untuknya. Masalah hidayah itu adalah hak Allah, kita tak punya wewenang akan itu. Tugas kita hanya memperbaiki diri dan menebar kebaikan dengan cara yang baik.

Justru dakwah yang dilakukan dengan cara yang keras tak akan sampai pada hati. Karena hati manusia itu lembut, maka cara menyinggahinya juga harus lembut. Biarkan orang-orang memilih hijrah karena kelembutan orang-orangnya, bukan karena terlalu keras dakwahnya.

Poin yang paling penting adalah hijrahkan diri sendiri sebelum menghijrahkan orang lain.

Oleh: Anik Cahyanik.

Tinggalkan Balasan