sekali hijrah selamanya istiqamah

Hijrahlah Secara Kaffah, Jangan Setengah-Setengah

Aku kuliah di jurusan hukum. Empat tahun belajar, gelar sarjana berhasil aku gondol. Setelahnya aku langsung melanjutkan jenjang S2 di universitas yang sama. Selama 2 tahun kurang 2 bulan belajar, gelar Master Hukum resmi aku sandang. Lulus cepat, dengan IPK cumlaude benar-benar membuatku senang. Terlebih Bapak Ibuku. Kebahagiaan tidak berhenti sampai di situ.

Pada tahun yang sama dengan kelulusanku, ada pembukaan CPNS di daerahku. Aku ikut dan aku diterima. Aku, Bapak, Ibu, dan simbah tentunya sangat bahagia mendengar aku diterima PNS.

Kehidupan baru sebagai PNS aku jalani. Pagi berangkat ke kantor. Tidak lupa finger print kehadiran, jangan sampai terlambat. Aku bertugas di bagian perancang peraturan daerah. Di divisi ini praktis aku bekerja bersama para legislator yang duduk di DPRD daerahku.

Awalnya aku hanya bertugas sebagai “kacung’. Meski aku diterima sebagai PNS dengan ijazah S2, artinya aku langsung menduduki golongan IIIb, namun sebagai newbie tetap saja aku diperlakukan sebagai orang suruhan. Fotokopi, menyajikan kudapan ketika rapat, menyiapkan peralatan rapat dan lain-lain sering aku jalani. Seiring berjalannya waktu, aku memberanikan diri untuk berpendapat dalam setiap rapat yang aku ikuti. Hingga pada suatu waktu, aku dipanggil atasanku.

“Mas Angga, saya melihat potensi dalam diri Anda sangat bagus. Kiranya sekarang sudah saatnya, Anda menjadi asisten pribadi saya. Tugas lebih berat akan Anda emban demi berjalannya pemerintahan di daerah kita ini. Anda siap?”

To the point! Itu yang terlintas dalam benakku. Harus senang ataukah sedih aku? Selagi aku masih kaget dengan perintah ini, tiba-tiba terdengar suara lagi.

“Bagaimana Mas Angga?”

“Oh, Bapak sangat mengejutkan saya. Bagaimana Bapak akhirnya memutuskan untuk mengangkat saya menjadi asisten Bapak? Sedangkan saya baru satu tahun berdinas, belum banyak pengalaman yang saya miliki. Apa Bapak sudah mantap memilih saya?”

“Ini yang saya suka dari Anda. Beberapa kali ganti asisten, setiap mereka saya panggil di ruangan, tidak ada satu pun yang berani dengan tegas menanyakan keputusan saya. Baru Anda yang berani melakukannya. Itulah karakter yang saya butuhkan. Belum lagi luasnya wawasan Anda serta keilmuan Anda yang sudah cukup mumpuni dalam bidang ketugasan ini. Semoga Anda akan menjadi partner kerja yang baik untuk saya.”

Tercatat mulai hari itu, aku menjadi asisten bosku. Rapat ke manapun aku selalu diajaknya. Bahkan aku sudah sampai level bisa masuk ring 1. Rapat bersama para petinggi provinsi sudah biasa aku jalani. Kepala Dinas sudah seperti kawanku. Anggota dewan sudah sangat hafal denganku.

Banyak pekerjaan dapat aku selesaikan dengan baik. Semua pihak puas dengan kinerja timku. Satu hal yang mengganjal di hati, aku tahu banyak kehidupan intern pemerintahan yang selama ini tertutup rapat. Bahkan sering kali aku mendapat uang yang sebenarnya itu tidak sah untuk aku miliki. Dalam kondisi ini aku mulai bimbang.

***

Pada malam hari, aku sering bertafakkur. Memohon petunjuk kepada Allah Swt. Bagaimana aku harus bersikap? Bagaimana aku harus menjalankan tugasku, sementara godaan setan terus menungguku? Sempat terpikir olehku untuk melawan sistem yang ada, namun siapa aku? Tanyaku dalam hati. Jika harus resign sebagai PNS, apakah itu pilihan yang tepat? Akan bekerja ke mana aku nanti? Bagaimana perasaan orang tuaku nanti?

Di luar sana banyak sekali orang yang antre bahkan rela membayar ratusan juta untuk dapat menjadi PNS. Sementara aku, satu rupiah pun tidak keluar dari kocekku untuk menjadi PNS. Aku benar-benar PNS murni tanpa relasi maupun upeti kepada suatu pihak. Sayang jika harus aku lepas posisi ini. Belum lagi jenjang karier yang terbuka lebar untukku. Atasan sudah mengakui kemampuanku. Kinerja sudah aku buktikan pula. Aku yakin, karierku akan mulus, juga tanpa relasi atau sogokan ke sana-ke mari. Aku bingung.

Salat istikharah aku lakukan. Berdiam diri dalam keheningan malam tak luput dari lakuku. Hingga suatu malam aku mendapat kemantapan hati. Mengubah sistem, atau keluar dari sistem adalah pilihanku. Untuk mengubah sistem hanya akan dapat dilakukan ketika kita menduduki suatu jabatan. Kapan dan bisakah aku mendapatkan jabatan itu? Entah, aku pun belum tahu.

Keluar dari sistem adalah pilihan kedua. Risiko akan lebih tinggi baik dari intern keluarga dan tentunya jadi kantor tempatku bekerja. Masalah omongan orang luar tentu akan dapat dengan mudah aku atasi.

“Simbah, Bapak, Ibu, saya mau matur. Selama ini saya bekerja di kantor sesuai dengan harapan kita semuanya. Dari mulai saat studi hingga penerimaan CPNS semua lancar bahkan dapat saya katakan tidak ada hambatan. Namun, setelah kurang lebih 3 tahun bekerja, saya merasa tidak nyaman. Banyak hal tdak sesuai dengan hati nurani saya. Simbah, Bapak, Ibu sudah mendidik saya dengan sangat baik sedari kecil. Didikan itu sudah terpatri dalam diri saya. Mohon berkenan Simbah, Bapak, dan Ibu ikhlas terhadap pilihan saya. Saya akan keluar dari PNS di Pemprov.”

Mereka kaget sekali mendengar kata-kataku. Simbah juga terlihat sangat terpukul. Semua yang ada di ruangan itu tentu sangat menyadari bagaimana sulitnya menjadi PNS di negeri ini dengan jalur yang murni. Bagaimana bisa sesuatu yang banyak diinginkan orang harus dilepas tanpa suatu alasan yang jelas.

Aku ceritakan kondisi lingkungan kerjaku. Meski sedikit banyak orang tuaku sudah tahu dari cerita-ceritaku, namun kegalauanku baru tertumpah saat itu. Mereka memintaku untuk memikirkan kembali keputusanku. Aku telah mantap dengan pilihanku. Orang tuaku, simbah juga ada akhirnya mendukung keputusanku. Aku sangat berterimakasih kepada Allah Swt karena telah memberikan keluarga yang telah mendukung keputusan besarku ini. Aku menjadi semakin mantap dengan pilihanku.

Pada hari yang sudah aku persiapkan fisik dan mentalku, aku menemui atasanku. Aku sampaikan seluruh uneg-uneg. Atasanku memang terkenal bertangan dingin menangani berbagai intrik baik di kantor maupun di luar kantor. Termasuk ketika aku curhat kepadanya kala itu.

“Hehehehe. Ya beginilah Mas kondisi kantor kita. Pekerjaan kita sangat vital dan berkenaan dengan hajat hidup orang banyak. Saya tahu, Anda mungkin tidak nyaman dengan pendapatan-pendapatan di luar gaji kita, kan? Itu lumrah Mas. Dinikmati saja. Tidak perlu takut, semua aman. Sebagai pengimbangnya, sebagian sumbangkan ke masjid, gereja, vihara, atau panti asuhan. Itu untuk mmbersihkan harta kita kan? Hahahaha.”

“Justru itulah Pak kegundahan saya. Hati saya tidak pernah bisa tenang. Setiap malam saya bertafakkur, memohon petunjuk kepada Yang Maha Kuasa. Hingga akhirnya saya telah menentukan pilihan saya. Saya sudah mantap memutuskannya.”

Bosku tampak serius menatapku. Pandangannya tajam, namun entah apa artinya. Ancaman? Ketakutan? Atau sekedar menantang keseriusanku.

“Kamu yakin Mas dengan pilihanmu? Pesanku, kuatkan dirimu dengan berbagai risiko atas pilihanmu. Jangan ada sesal di kemudian atas pilihanmu. Pesan penting dariku, jaga rahasia kantor kita, aku yakin kamu adalah lelaki yang amanah. Aku yang masih bertahan di sini, akan mengambil porsi lain dari pilihanmu. Akan aku ubah pola-pola negatif yang selama ini seakan telah mengakar. Semoga kita sukses di jalur kita masing-masing.”

Sebuah angin segar, permohonan resignku dikabulkan secara pribadi oleh atasan. Selesaikah sampai di situ? Oh tidak. Jalan terjal lain harus aku lalui demi meloloskan usul pengunduran diriku. Berbagai alur birokrasi harus aku tempuh. Selalu ada pertanyaan di setiap bagian yang aku datangi. Sudah mantapkah dengan pilihanku? Jaga rahasia kantor, adalah kalimat-kalimat yang selalu aku terima.

Bahkan di suatu bagian aku mendapat respon agak tidak mengenakkan. Kalimat berbau ancaman aku terima. Tidak berhenti sampai di situ. HPku pada malam harinya mendapat teror ancaman fisik atas usul pengunduran diriku. Mundurkah aku? Tidak. Justru hal-hal tersebut membuatku semakin mantap untuk mundur.

Kurang dari 6 bulan, setelah melalui proses yang berliku dan melelahkan, akhirnya permohonan pengunduran diriku dikabulkan. Surat Keputusan pengunduran diri dari gubernur aku terima. Syukur kepada Allah Swt aku haturkan. Kehidupan baru sebagai non PNS aku jalani. Bagaimana kemudian dengan karier pekerjaanku?

Bersama dengan aku mengurus usul pengunduran diri, beberapa lamaran ke perguruan tinggi aku masukkan. Ya, potensiku sebagai seorang pendidik harus aku berdayakan. dari sekitar 5 lamaran yang aku ajukan ada tiga yang berkenan menerimaku. Setelah melalui proses interview, dari ketiganya sebenarnya siap menerimaku semua. Namun, dengan berbagai pertimbangan, aku jatuhkan pilihan pada universitas tempatku mengabdi saat ini. Bukan dengan status PNS memang, namun hatiku lebih merasa tenang di tempat kerja baruku ini. Janji Allah pasti ditepati.

Dua tahun mengabdi, aku mendapat beasiswa doktor ke Hungaria. Empat tahun belajar di sana, aku akhiri dengan lulus cumlaude dan menjadi lulusan terbaik se-angkatanku. Kini aku dipercaya menjadi sekretaris jurusan Hukum Internasional di kampusku.

Janji Allah adalah pasti, hijrah dengan kaffah, tidak setengah-setengah akan membawa berkah berlimpah.

Oleh: Wawan Murwantara.

Ilustrasi dari sini.

Tinggalkan Balasan