Wuk, ini cobeknya dibawa, ya? Terus itu cawik kecil sama tutup gelas juga jangan lupa kamu siapin.”

Nggih (iya), Bu.”

“O, iya lupa, ini sprei baru buat solan-salin (ganti), masukin juga ke koper, ya?”

“Udah, Bu. Jangan banyak-banyak bawanya. Ini koperku udah nggak muat lagi. Kayak aku nggak bakalan pulang lagi aja.”

“Ya sudah, tinggal di-blusuk-blusukke (diselipkan) aja, kok nggak bisa. Banten itu jauh, kamu kalau pulang, kan butuh ongkos.”

Hadeh, siang itu jadi lebih ribet dari biasanya. Aku yang mau pindahan tapi Ibu yang justru repot, sibuk mondar-mandir sembari mengingatkan barang-barang printilan yang harus kukemas dalam kardus-kardus kecil. Mulai dari selusin piring, gelas, mangkuk sampai cobek, wajan dan teman-temannya. Jadi berasa mau pergi camping ke hutan saja. Rencanaku yang cuma mau bawa satu koper dan dua kardus besar malah justru beranak pinak.

Geli saja, sih. Mengapa juga aku mesti membawa begitu banyak barang, yang harusnya bisa kubeli di sana. Tapi aku nggak mungkin menolak pemberian Ibu. Menurut Ibu, wajar kalau orang tua itu nyangoni (membekali) anak perempuannya yang akan mulai hidup berumah tangga. Bukan dalam bentuk rupiah, tapi dalam rupa barang pecah belah dan alat memasak.

Apalagi, semua tetek bengek itu sudah dipersiapkan Ibu jauh-jauh hari, bahkan sebelum aku menikah. Jadi, ya sudahlah, akhirnya aku memilih untuk menurut saja. Aku tak mau mengecewakan Ibu di detik-detik terakhirku tinggal serumah bersamanya.

Buatku, hari itu adalah hari yang sangat penting, karena ini momen pertamaku meninggalkan rumah untuk mengayuh hidup baru. Aku memilih untuk merantau mengikuti imamku, menikmati pahit dan manis hidup bersamanya. Itu semua karena kami memang telah lama merencanakan untuk berdiri di atas kaki sendiri. Meski aku harus rela berpisah jarak sekian ratus kilometer dari keluarga tercinta, terutama dari wanita yang sangat menyayangiku-Ibu.

***

Selama dua puluh lima tahun aku tumbuh dalam dekapan Ibu. Tak sekali pun aku diizinkan untuk pergi jauh darinya. Waktu kelas tiga SMA, aku sempat punya keinginan untuk melanjutkan kuliah ke Bogor, namun Ibu tak mengizinkan. Hingga akhirnya aku hanya mendaftar di universitas yang sekota dengan tempat tinggal kami. Karena jarak kampus yang lumayan jauh dari rumah, aku juga pernah meminta izin untuk ngekos.

Lagi-lagi Ibu tak merestuinya, karena alasan aku ini anak perempuan yang harus benar-benar dijaga, nggak boleh bergaul sembarangan. Padahal aku yakin sudah bisa menjaga diri dari hal-hal buruk yang dikhawatirkan Ibu. Tapi Ibu belum juga percaya bahwa anak gadisnya ini telah tumbuh dewasa dan bisa memilah mana yang baik bagi masa depannya.

Aku sempat merasa bahwa Ibu sangat mengekangku dan selalu menganggap aku ini anak balita yang masih harus didikte dalam melakukan apa saja. Aku kadang iri pada teman-teman yang terlihat begitu leluasa menentukan keinginan dan pilihan hidup mereka sendiri. Mereka mau main seharian, tidak pernah kena murka ibunya.

Berbeda sekali denganku, yang mau kemana saja harus jelas pulang jam berapa, dan kalau pulang tidak tepat waktu, harus bersiap-siap menghadapi omelan beliau. Entahlah, mungkin itu memang cara Ibu mengungkapkan kasih sayang pada anak perempuannya. Hanya saja aku yang salah meresponnya, sehingga yang tampak olehku, Ibu itu sangat over protective.

Namun kali ini sungguh berbeda. Aku masih merekam jelas kejadian senja itu, tepat seminggu sebelum hari bahagiaku tiba. Saat pulang kerja, aku mendapati Ibu terisak di ujung gagang telepon. Awalnya kupikir ada berita duka dari keluarga atau ada yang menyakiti hati wanita yang telah melahirkanku itu.

“Bu, kenapa nangis? Itu telepon dari siapa? Siapa yang meninggal?” tanyaku penasaran saat Ibu menutup teleponnya.

“Nggak apa-apa,” jawab Ibu pendek.

“Kenapa, Bu? Ada masalah sama siapa? Itu tadi yang nelpon siapa, sih?” Aku makin tak sabar.

Sesaat beliau hanya terdiam, sembari menyeka air matanya. Ibu tak mau menatapku lama. Aku sempat dibuatnya bingung dan bertanya-tanya. Ibu memang tak biasanya begitu. Beliau itu sosok yang blak-blakan, apalagi sama anaknya. Apa yang beliau rasakan, selalu diungkapkan tanpa ada yang ditutup-tutupi. Beliau juga suka sekali bercerita tentang semua hal yang terjadi padanya, baik itu tentang masa lalunya atau pun yang baru saja dialaminya.

Ibu sangat senang jika ada yang mendengar semua kisah-kisah beliau, meski itu terdengar seperti kaset lama yang selalu diputar ulang. Dan di rumah, hanya aku anak satu-satunya yang setia mendengarkannya, karena dua adik laki-lakiku, menurut Ibu bukan teman yang asik diajak curhat dan ngobrol panjang lebar. Sebenarnya aku pun hanya berusaha untuk tidak pernah bosan menyimak dari awal hingga akhir tentang perjalanan dan pengalaman hidup beliau, demi menyenangkan hatinya saja.

 “Itu tadi Mbak Ning yang nelpon,” jawab Ibu kemudian sambil berusaha tersenyum.

Mbak Ning adalah salah seorang keponakan Ibu yang sangat akrab dengan keluargaku. Beberapa kali dalam sebulan kami sering bertukar kabar satu sama lain, meski hanya lewat telepon. Apalagi saat itu adalah hari-hari yang cukup sibuk menjelang pernikahanku dan Mbak Ning terlibat sebagai panitia inti. Jadi nggak heran kalau Mbak Ning lebih sering telepon untuk saling berkoordinasi dengan Ibu membicarakan tentang persiapan acara, gedung, catering dan lain-lain.

“Emang Mbak Ning ngomongin apa? Kenapa Ibu sedih?” tanyaku untuk ke sekian kalinya menuntut rasa ingin tahu.

Kulihat Ibu sudah tak kuasa lagi menyembunyikan resah yang ada di dadanya. Dahinya mulai berkerut. Matanya tetap tak mau menatapku dan kini mulai memerah, kembali menumpahkan tetesan bening satu-satu di pipinya yang mengeriput.

“Siapa yang nggak sedih, kalau mau ditinggalin anaknya pergi jauh?”

Aku terhenyak mendengar ucapan Ibu. Suara parau beliau yang menahan isaknya merenggut keindahan langit sore itu, yang seolah menjadi muram seketika dalam penglihatanku. Sekarang aku yang mematung, larut dalam rasa takut kehilangan yang selama ini ternyata menggelayuti pikiran Ibu. Tak kusangka Ibu memendam rasa sedihnya dan malah curhat dengan Mbak Ning tentang kegundahan hatinya saat beliau tak bisa lagi menahanku untuk pergi.

Ya Allah, mengapa aku begitu dungu untuk mengerti perasaan Ibu yang sebenarnya? Kupikir selama ini semua baik-baik saja, karena Ibu tak pernah mengeluhkannya, ketika aku mantap mengutarakan niatku untuk pergi melanjutkan hidup bersama lelaki yang kucintai.  

Kupeluk tubuh Ibu sambil kuusap punggungnya, berharap dapat mengurangi gundah yang beliau rasakan. Namun aku pun tak sanggup merangkai kata untuk meredakan tangis beliau. Mulut ini seperti terkunci dan air mataku tiba-tiba telah menggenang. Betapa aku ingin meyakinkan Ibu, bahwa aku takkan pernah melupakannya, walau aku jauh nanti. Kepergianku semata hanya bentuk pengabdian seorang istri pada suaminya.

Ibu memang pernah meminta agar aku tetap tinggal di Semarang setelah menikah. Bahkan sebuah rumah mungil sudah beliau siapkan untuk kutinggali bersama suamiku. Dan sebenarnya aku dan suami pun bukannya tidak berusaha untuk mencari sumber penghidupan di kota ini demi untuk membahagiakan kedua orang tua kami.

Karena walau bagaimanapun juga, mereka tetap tak mau berpisah dari anak-anaknya. Ada kekhawatiran yang tak bisa diungkapkan jika itu terjadi. Tapi apa daya, the life must go on (hidup ini harus terus berjalan), kami hanya mengikuti garis yang telah direncanakan oleh-Nya untuk tinggal jauh dari keluarga demi mengikuti jalan rezeki.

***

Baru dua bulan saja berada di tanah rantau, sudah membuat rasa kangenku pada Ibu dan keluarga demikian membuncah. Aku hanya bisa mendengar suara merdu orang-orang yang kucintai itu lewat handphone, atau kalau pulsa sedang limit, kami hanya saling mengirim pesan singkat melalui SMS. Dahulu, aplikasi chat belum secanggih saat ini, yang bisa chat dan video call gratis, sehingga telepon dan SMS adalah sarana yang paling berharga untuk meluapkan rasa rindu kami.

Dan rasa itu kian tak terbendung ketika sampai di penghujung Ramadhan. Malam yang biasanya kusambut bersama keluarga dengan penuh kebahagiaan, kali ini kulalui berdua saja. Sekejap, kilas balik masa-masa indah itu terpampang di kelopak mata. Aku masih sangat hafal berbagai kesibukanku bersama Ibu di saat-saat seperti ini.

Sedari pagi Ibu pasti sudah mempersiapkan bumbu untuk aneka masakan yang dibuatnya sebagai hantaran pada tetangga dan keluarga dekat kami. Aku yang biasanya membantu Ibu di dapur, walau cuma mengiris bawang, memerah kelapa atau menyiangi sayur-mayur yang akan dimasak. Dan saat itulah, sambil meracik bumbu, Ibu selalu menghujaniku dengan segudang nasihat.

“Jadi perempuan itu harus bisa masak. Tidak hanya pintar berdandan dan melahirkan anak saja. Bahkan kalau bisa juga harus bisa cari uang sendiri. Kalau kamu pintar masak, kamu bisa lebih hemat. Tidak jajan terus, meskipun nanti suamimu punya banyak uang. Kalau kamu bisa cari koyo (harta) sendiri, kamu juga nggak tergantung sama suami. Lihat Ibu, kan? Walau capek kayak apa pun, Ibu tetep kerja. Sepulang kerja, Ibu belanja dan masak buat kalian. Kamu harus bisa seperti itu nanti.”

Dan kini dadaku sesak mengingat nasihat panjang Ibu itu. Betapa apa yang beliau katakan itu benar dan kini jadi bekal serta teladan bagiku dalam mengarungi samudera kehidupan yang baru saja kutempuh. Dalam hati, aku bertekad untuk bisa memenuhi apa yang Ibu amanatkan. Walau aku tahu itu butuh perjuangan dan proses yang tidak sebentar.

Kuakui dengan setulus hati, bahwa Ibu adalah salah satu wanita hebat diantara semua sosok feminin yang ada di dunia ini. Di tengah kesibukan beliau berkarir sebagai guru dan pejabat struktural di lingkungan yayasan tempatnya mengabdi, Ibu masih selalu menyempatkan diri menunaikan kewajibannya sebagai istri dan Ibu bagi ketiga anaknya, terutama dalam menyiapkan masakan yang diolahnya sendiri dengan penuh rasa cinta. Dan bagiku, kelezatan aroma semua masakan Ibu tak pernah tertandingi oleh restauran mana pun.

Namun sayang, keahlian itu tak pernah kuwarisi. Aku tak pernah mampu menyamai Ibu. Bahkan untuk menghafal berbagai macam bumbu masakan, aku menyerah. Karena jujur, setiap kali memasak, aku harus mengintip kamus resep masakan Ibu yang kususun sendiri. Aku sengaja mencatatnya, setiap kali ada kesempatan untuk bertanya pada Ibu. Sampai-sampai aku tersipu, jika suami meledek saat aku ingin menyiapkan hidangan istimewa untuknya.

“He-he-he …. Kamu sedang buka kamus dulu ya, Sayang?”

Namun aku tak memedulikan olok-olok itu, karena setidaknya aku sudah berusaha menjadi istri yang baik, dengan menghidangkan sajian spesial dari tanganku sendiri.

“Sayang, kamu nggak apa-apa, kan kalau lebaran ini kita nggak pulang dulu?” tanya suami, membuat lamunanku tentang Ibu, buyar seketika.

“Iya, Mas. Nggak apa-apa kok. Aku tahu sisa tabungan kita sudah terkuras untuk bayar kontrakan, beli kasur dan almari, jadi nggak akan cukup untuk berlebaran di kampung. Buat ongkos naik bus saja masih kurang.” sahutku berpura-pura tenang di tengah gejolak rinduku pada Ibu dan keluargaku.

Sayup-sayup gema takbir yang bersahutan dari masjid dan mushola sejak lepas waktu magrib tadi, terasa makin menyayat hati. Aku pun memilih melantunkannya perlahan. Kupuji asma Allah dengan penuh khusyu dalam deru rindu yang bergemuruh. Tak terasa buliran bening deras meluncur membasahi pipi. Rupanya suamiku menangkap kegelisahan itu. Dia merengkuhku dalam hangat pelukannya, mengelus rambutku, seolah ingin mengatakan, jangan sedih, sayang. Ada aku di sini. Namun isakku justru makin menjadi. Tak kusangka aku jadi serapuh ini.

Meski jauh, aku bisa merasakan bahwa Ibu juga sama sepertiku, menahan kerinduan untuk berkumpul kembali. Aku tahu Ibu sedih tatkala mengetahui bahwa aku takkan bisa sungkem di hari nan suci itu. Aku pun tak tahu, kata-kata maaf seperti apa yang esok akan kuucapkan pada Ibu melalui telepon, tanpa bisa bersujud dan mencium kedua kakinya.

Dan nyatanya kata-kata itu sungguh tak sanggup meluncur dari bibirku. Hanya isak tangis yang bisa kupersembahkan pada Ibu melalui udara. Ibu pun sama, seolah kehabisan kata. Dan akhirnya untuk beberapa saat kami hanya saling mendengar suara sesenggukan. Ah, sungguh ini masa-masa yang berat bagi kami.

Namun sejak itu, aku jadi lebih menghargai waktu-waktu bersama Ibu. Walau aku hanya bisa pulang sekali dalam setahun saat mudik lebaran dan hanya menghabiskan tiga hari masa cuti. Ada kebahagiaan batin yang tak ternilai saat kembali melihat Ibu. Cerita demi cerita tentang tanah rantau seolah tak pernah habis kukisahkan padanya. Dan ada rasa pilu ketika harus kembali berpisah darinya. Butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa membuatku benar-benar kuat menjalani hidup mandiri, jauh dari Ibu.

***

Ah, Ibu …, kini atas kekuasaan Allah, kita kembali bersama dalam satu atap. Mungkin doa-doa panjangmu telah menemui jawabannya, Bu. Aku bisa terus menemani hari-hari di masa tuamu, walau aku sendiri masih harus berjuang menempuh episode paling sulit di hidupku. Namun justru inilah salah satu hikmah dari semua ujian ini.

Sungguh rencana Allah itu tidak ada yang buruk dan rasa syukurku masih tetap berlimpah untuk-Nya. Seperti nasihat yang selalu kau dengungkan di telingaku, bahwa syukur dan sabar itu segalanya dalam hidup ini. Terima kasih atas semua pengorbananmu, Bu dan maafkan putrimu ini yang belum bisa selalu membuatmu tersenyum bahagia.

***

Oleh: Nailuss Sa’adah.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: