Selepas Zuhur, aku masih diam di dalam kelas. Suara azan telah berkumandang beberapa waktu yang lalu. Teman sebangkuku sudah pergi ke masjid sekolah setelah mengajakku ke sana.

“Ehm, nanti aja. Aku sholat di kos aja.”

Jam pulang sekolah kami pukul 14:00 WIB. Itu berarti aku bisa sholat nanti. Rasanya agak janggal harus sholat di masjid. Aku tak terbiasa melangkahkan kaki ke rumah Allah itu untuk sholat lima waktu. Pernah sih di rumah, saat Ramadan saja. Itu juga karena aku harus mengisi buku tugas yang diberikan guru agama. Daftar sholat dan rangkuman ceramah. Selain itu, tanda tangan penceramahnya harus diisi. Mau tak mau aku harus datang.

Keluargaku tidak biasa sholat berjamaah. Ayah biasanya sholat sendiri. Paling hanya Ibu yang mengajakku. Itu saja sudah jarang semenjak beliau sibuk. Tak ada pembiasaan soal agama di rumah kami. Aku bisa baca Alquran sih, karena ada guru ngaji yang tiap minggu datang. Selain itu, aku ikut pengajian tiap Magrib di tempat guru ngaji dekat rumah Mbah. Namun, di rumah kami tidak diajarkan untuk rutin mempelajari agama. Pun Ayah sering sekali kulihat tidak sholat.

“Yah, kok enggak sholat?” tanyaku saat Ayah pulang saat Zuhur lalu cepat-cepat balik ke kantor.

“Enggak sempat.” Ayah menjawab sambil buru-buru menyalakan motor.

Dulu aku biasa saja mendengar jawaban ini. Namun sekarang, entah kenapa mulai berpikir. Semenjak kenal bangku SMA, teman-temanku banyak yang berjilbab. Dulu sewaktu SMP, teman yang berjilbab bisa dihitung jari. Aku semakin sering melihat mereka. Lengan panjang putih dengan kancing di ujung tangan. Rok span dengan satu lipitan di tengah, bahkan diberi resleting agar bisa dibuka lebih lebar tanpa memperlihatkan kaki saat naik motor.

Perasaan apa ini? Aku kecanduan melihat seragam panjang itu. Belum dengan jilbab putih yang diberi peniti atau jilbab tinggal slup (instan). Aku kok jadi ingin memakainya. Tapi, apa aku pantas ya? Pertanyaan-pertanyaan ini selalu menggangguku. Sampai beberapa bulan aku masuk SMA ini, seragam yang kukenakan masih pendek juga. Dengan rok pendek sampai ke bawah lutut dan kemeja pendek, aku berangkat ke sekolah.

“May, kamu nanti ikut liqo (pengajian) sore?”

Maya menoleh ke arahku ragu. Hari ini kami belajar Kimia. Bu Sri, begitu kami menyebutnya, sedang asyik mengajar di depan kelas. Materi stokiometri kali ini memang agak sulit. Kami harus menghitung tiap-tiap zat dan menebak apa bentuknya di akhir jawaban.

“Kenapa? Ikut kayaknya,” bisik Maya sambil melihat ke depan, takut Bu Sri menegurnya.

“Nanti kita bahas lagi.” Aku cepat-cepat melihat ke papan tulis saat Bu Sri mulai mengitari kelas. Ini saatnya beliau mencari relawan untuk mengerjakan soal stokiometri.

“Oke, kamu yang dari tadi cerita sendiri, maju!” Beliau menunjukku langsung di depan muka. Maya di sebelahku menahan tawanya. Sial!

Bel istirahat mulai berbunyi. Maya segera menatapku dan lantas mentertawakanku.

Sukurin tuh. Udah tau kelas Bu Sri malah ngajakin aku cerita.”

Aku memonyongkan bibir. Masih terngiang ujaran yang makjleb dari Bu Kimia tadi kepadaku. Aku cepat-cepat mengalihkan pembicaraan ini. Aku ingat ada hal yang harus banget dibahas untuk kegiatan sore kami.

“May, tadi aku tuh mau tanya, kamu nanti pakai baju apa buat liqo?”

“Baju?” Maya mengamatiku lama. Setelah beberapa detik, dia membuka mulutnya seraya barkata, “Ah iya!”

Menghadiri liqo artinya kami diharapkan memakai baju muslim. Untuk teman-teman lain yang sudah pakai seragam panjang, mereka tak perlu berganti baju. Nah, kalau bagiku dan Maya, kami harus mencarinya, dong. Aku tak membawa jilbab yang ibuku punya. Aku memang belum punya satupun. Ke manapun aku pergi, kaos pendek dengan ukuran S dan celana pendek selutut menemani. Dengan rambut cepak macam tentara, aku dijuki ‘laki-laki cantik’.

“Bagaimana kalau kita pinjam?” Maya yang sama-sama tak punya baju panjang memberi usul.

Seseorang datang mendekati kami. Ina, teman sekelas kami ternyata. Dia dengan anggunnya merapikan rok panjangnya sebelum duduk di sebelah kami.

“Hei, lagi diskusi apa nih? Udah ke kantin?” tanya Ina yang penasaran.

“Belum. Kami lagi bingung nih nanti buat liqo.” sahutku.

“Kenapa?”

“Baju kami, Na.” Kali ini Maya yang menjawab.

Ina mengamati kami lekat-lekat, dia lalu mengangguk-anggukkan kepalanya. Entah maksudnya apa.

“Kalian bingung mau pakai baju apa?”

Kali ini aku dan Maya yang mengangguk-angguk kegirangan. Yes! Ada bantuan nih, pikirku.

“Pakai baju itu aja,” jawab Ina santai. Kami melongo. “Iya, enggak apa lagi pakai baju biasa. Tenang aja.”

***

Langit tampak cerah dengan warna jingga di kanvasnya. Aku, Maya, Ina dan beberapa akhwat (begitu Murabbi kami menyebut perempuan) sedang duduk melingkar. Murabbi kami yang membimbing liqo (kajian) kali ini adalah alumnus SMA kami. Namanya Mbak Nurul. Dengan jilbab panjangnya, aura keanggunannya terpancar.

Kali ini hatiku benar-benar bergetar. Sangat jarang kulihat seseorang yang berjilbab panjang sampai menutupi kemejanya berbicara akrab dan ramah kepadaku. Di rumahku tinggal ada sih, tapi aku tak pernah berkomunikasi dengan mereka. Aku merasa ada jarak, tapi pandanganku sekarang berbeda.

“Dulu Mbak mulai hijrah saat SMA. Orangtua kalut, kenapa sih anaknya kok berubah. Gitu, Dek.”

Mbak Nurul mulai bercerita saat aku bertanya apakah dia berhijab dari kecil. Ternyata, Mbak Nurul baru beberapa tahun memakai jilbab. Awalnya, orangtuanya malah enggak setuju. Ini bener-bener mengubah pandanganku selama ini. Kukira orang-orang yang memakai hijab adalah orang yang berasal dari keluarga alim. Orangtua merekalah yang membiasakannya. Oh, ternyata ada juga ya yang memang berubah setelah mendapat ilmunya.

Aku manggut-manggut mendengar kisahnya. Rasanya ada persamaan antara aku dan Mbak Nurul. Bedanya, hanya satu. Aku tak berani memulai. Setelah kami berbincang, akhirnya ada satu keinginan yang mulai menguncup dalam hatiku. Aku ingin memakai jilbab! Walau kutahu entah kapan akan memulainya.

Beberapa kali aku datang ke liqo, aku masih sama saja. Berseragam pendek plus rok di bawah lutut. Aku masih belum bisa meyakinkan diriku. Pun aku belum berani cerita ke orangtua bahwa aku ingin berjilbab. Sebenarnya, ibuku sendiri sudah memakainya beberapa tahun ini. Hanya saja, beliau memakainya saat mengajar saja. Jadi, aku masih ragu memintanya menjahitkanku baju seragam baru.

“Coba saja, Dek. Bilang dulu saja bahwa kamu ingin memakainya.”

Setelah menceritakan semua latar belakangku, Mbak Nurul memberikanku semangat. Dia malah ingin aku cepat-cepat memberi kabar baik ini ke orangtuaku. Katanya, ayah dan ibuku pasti tidak keberatan. Toh ibuku juga sudah memulainya.

“Ehm, aku coba Mbak nanti telepon Ibu.”

“Jangan lupa bismillah ya,” sahut Mbak Nurul memberi semangat.

Aku sebenarnya agak malu juga saat menghadiri liqo. Selain itu, aku sudah bertekad masuk Rohis (Rohani Islam). Dari bantuan Ina, aku bisa masuk seleksi penerimaan anggotanya. Alhamdulillah, aku menajdi salah satu seksi usaha dana di Rohis SMA-ku. Tapi, semua teman organisasiku memakai jilbab. Hanya aku yang enggak pakai.

Sebenarnya, teman-teman rohis tak ada yang mempermasalahkan pakaianku sih, tapi dari lubuk hatiku yang paling dalam memaksaku untuk memberanikan diri memakai jilbab sesegera mungkin. Jujur, dari dukungan teman-teman, aku semakin sadar bahwa berkumpul bersama di organisasi Rohis ini menenangkanku.

Ada semacam obat jiwa yang selalu membersihkan saat aku berinteraksi dengan mereka. Mengajakku sholat berjamaah dengan santun, mengkaji agama secara intens, bercerita seru hanya soal hal-hal yang bermanfaat, juga membahas persoalan organisasi bersama dengan hijab tentunya bagi ikhwan (laki-laki) dan akhwat. Okay, aku harus memantapkan diri.

“Assalamualaikum. Bu, lagi apa?” Aku menelepon Ibu saat malam hari di dalam kamar kos. Untung Ibu masih terjaga.

“Waalaikumsalam. Lagi nonton TV saja ini. Kamu gimana sekolahnya, lancar?”

“Alhamdulillah, lancar, Bu. Hari ini aku rapat lagi. Mau ada acara Mabit di sekolah.”

“Mabit?”

“Malam Bina Iman dan Takwa, Bu. Jadi semacam kegiatan rohani semalam suntuk.”

“Oh ya, jaga diri ya. Ibu seneng kamu aktif dalam kegiatan agama.”

“Ehm … Bu, aku mau tanya sesuatu, boleh? Tapi jangan marah.”

Aku mulai melancarkan rencanaku. Ada rasa takut menyelimuti. Aku ingat, dulu ibuku menegurku memakai jilbab saat ada acara keluarga. “Kuno banget kayak Mamak-Mamak!” begitu katanya saat melihatku memakai rok panjang dan jilbab saat itu. Duh, bakal marah enggak ya kalau aku minta seragam baru dan mulai berjilbab?

“Ada apa memangnya?” tanya Ibu menyelidik. Aku benar-benar ragu mengatakannya, tapi aku sudah maju. Ini sudah bulat, aku tak bisa mundur lagi.

“Begini, aku …” Akhirnya aku menceritakan semua kegelisahanku. Ibu mendengarnya dalam diam, menungguku selesai berbicara. Setelah selesai, aku kembali bertanya, “Jadi, gimana menurut ibu?”

“Lah, ya bagus dong. Ibu setuju banget!”

Huaaaaaaa! Kaget banget dan aku malah menangis. Sungguh tak ada hal yang lebih indah selain jawaban ibuku saat ini.

“Lah kenapa kamu malah minta Ibu jangan marah? Masak ibumu marah gara-gara anaknya minta hal yang baik?”

“Ehm, dulu ibu kan pernah menegurku memakai jilbab. Aku jadi takut kalau minta pakai itu lagi, Bu.”

“Ah yang dulu pas SMP itu ya? Maaf ya Nak, ibumu masih bodoh pas itu. Maaf ya.”

“Ah, enggak apa, Bu. Yang penting kan sekarang aku sudah bisa pakai.”

“Gini aja, mudik besok, kita belanja kain ya. Lalu jahitkan saja di Bu Slamet.”

“Iya, Bu, siap 86!” sahutku lantang bak tentara.

Kami lalu tertawa bersama. Ternyata memang kudu ngomong ya biar jelas. Kalau tetap diam, kita enggak bakal tahu apa yang ada di pikiran orangtua. “Setiap hati itu milik-Nya. Dia Maha Membolak-Balikkan Hati,” begitu Mbak Nurul menasihatiku. Maka, aku kini yakin, hal yang paling gampang ya meminta petunjuk-Nya lalu mengusahakannya.

Aku sudah membayangkan beberapa minggu lagi aku memakai seragam yang sama dengan Ina. Sebuah kemeja putih berlengan panjang dengan kancing di ujungnya. Aku pun sudah merencanakan akan memakai rok model payung berimpel. Jilbabku akan kujulurkan sampai ke dada. Semoga Allah memberiku jalan yang lurus untuk meraih ketenangan ini. Bismillah!

Oleh: Dhita Erdittya.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: