Namaku Efa Rusdiana. Terlahir di kota Jeddah 19 tahun yang lalu. Banyak orang yang bertanya kepadaku. Namamu Indonesia banget, padahal kamu kan lahir di Jeddah. Aku hanya bisa tersenyum. Dengan spontan kujawab, “Itu kan nama pemberian orangtuaku, masak aku tolak?” 

Bahkan ada yang kepo banget, “Eh biasanya anak-anak para TKI yang kerja di Jeddah namanya singkat lho, cukup satu kata. Ismail atau Tabroni. Aisyah atau Fatimah. Maa fi murakkab katanya. Nggak boleh rangkap-rangkap,” katanya.

Setelah mereka kembali ke Indonesia, mereka terkadang jadi minder karena teman-teman mereka di Indonesia namanya panjang-panjang, minimal tiga kata.

Apalah arti sebuah nama, kalau hidup kita hanya begitu-begitu aja. Sebenarnya nama asliku adalah Haifaa. Nama yang tertera pada akta kelahiranku terbitan pemerintah Arab Saudi. Sejak kecil hidupku dikelilingi orang-orang yang penuh perhatian padaku. Mulai dari orang tuaku, sampai saudara-saudara ibuku. Maklumlah, sebagai TKW senior, ibuku banyak menampung para TKW dari Madura di rumah kontrakannya. Termasuk bibiku, adik ibuku. Selain itu majikan ibu dan ayah juga sangat baik. Ayahku sebagai sopir sedangkan ibuku sebagai pembantu rumah tangga. Nasib orangtuaku memang beruntung dibanding para TKI yang lainnya. Yang sering jadi korban ketidakadilan di negeri orang.

Sampai detik ini ibuku masih tetap berjuang demi aku. Bertahan di negeri orang meskipun sendirian. Ayahku sudah kembali ke Indonesia 14 tahun yang lalu. Sejak usia 3 tahun aku harus long distance relationship dengan ayahku. Kini aku harus long distance relationship dengan ibuku. Aku harus menuntut ilmu di salah satu pesantren di kota Jombang. Perjuangan seorang ibu yang ingin kehidupan anaknya menjadi lebih baik. Sering aku bertanya kepada ibuku, “Kapan ibu pulang ke Indonesia?” Jawabannya selalu sama. Kalau kamu selesai kuliah, ibu akan pulang ke Indonesia. Dan ibu berjanji tidak akan kembali ke Jeddah. Aku hanya bisa terdiam. Tetap berdoa agar keinginan beliau tercapai atas ijin Allah Swt. Meskipun saat ini aku tidak lagi LDR dengan ayahku, tapi bagiku sama seperti dulu. Maklumlah, sejak balita aku sdh terpisah dari ayahku.

***

Kerinduanku dengan ibuku selalu mengingatkan masa laluku. Masa-masa indah di kota Jeddah. Orang-orang di sekitarku sangat menyayangiku. Bahkan majikan orangtuaku juga menyayangiku. Kalau ada acara pesta perkawinan, aku dibelikan baju dan dirias juga. Aku boleh berteman dengan anak-anaknya. Bahkan bebas bermain dengan mereka. Aku juga sering diajak jalan-jalan ke mall dengan majikanku. Hingga saat inipun aku masih sering chating dengan anak majikanku. Eh, jangan membayangkan anak majikanku itu cowok, ya …  namanya Ebtisaam.

Pada waktu senggang selalu kusempatkan untuk chatting dengannya via facebook. Meskipun ibuku tidak bekerja lagi di majikannya yang dulu, aku tetap bersahabat dengan anak majikanku, karena mereka kuanggap sebagai saudaraku sendiri.

Haifaa, de’ennak nik melleaghinah kelambih anyar.”

Sekalangkong maa”

“Wa abuki isytarilik hidzak”

Hidzaki helwaah sah .”

Itulah kehidupan dulu, sejak lahir yang kukenal hanya bahasa Madura dan bahasa Arab. Itu pun bahasa Arab pasaran, amiyah istilahnya. Aku baru mengenal bahasa Indunusy ketika aku belajar di TPA, yang bertempat di Masjid dekat rumah kontrakan. Orang-orang di Jeddah lebih suka menyebut nama Indonesia dengan Indunusy. Akhirnya para pendatang pun ikut-ikutan menyebut Indunusy. Bahkan orang-orang Indonesia di sana juga ikut-ikutan menyebut Indunusy.  

Memang di sana nama Indunusy lebih familiar dibandingkan nama Indonesia. Aku benar-benar bisa membaca dan berbicara bahasa Indonesia ketika usiaku 9 tahun. Ketika aku masuk sekolah dasar Indonesia – Jeddah. Bayangkan di usia 9 tahun, aku baru duduk di kelas 1 SD. Maklumlah, itu pun karena keterbatasan orangtuaku akan informasi tentang keberadaan sekolah Indonesia-Jeddah.

Dari situlah mulai ada perubahan namaku. Karena syarat masuk sekolah tersebut harus punya akta lahir terbitan pemerintah Indonesia. Maka orangtuaku dibantu salah satu kenalannya di kantor Konsulat. Akhirnya Namaku pun berubah jadi Efa Rusdiana.

***

Semula kehidupanku banyak berinteraksi dengan penduduk asli Jeddah. Kehidupan yang mengharuskan wanita dan anak-anak perempuannya untuk hidup di dalam rumah. Menghabiskan waktu sepanjang hari di dalam rumah. Akhirnya ada perubahan dalam hidupku, sejak aku masuk sekolah Indonesia-Jeddah. Senang rasanya dengan pergaulan baruku.

Teman-teman di sekolahku, orang Indonesia semuanya. Bahkan guru-gurunya juga PNS dari Indonesia. Hidupku pun terasa lebih bermakna. Dan ibuku mulai bergaul dengan banyak wali murid. Maklumlah, status keimigrasian ibuku memang ilegal. Jadi beliau tidak bisa bebas keluar dan berhubungan dengan orang Indonesia lainnya.

Mereka mulai mengobrol banyak hal. Mulai dari masalah peluang kerja sampai kenaikan pajak, keamanan dan ketertiban, bahkan masalah pulkam. Ada yang memberikan informasi tentang  berbagai aliran Islam garis keras yang berkembang di timur tengah.

Banyak tindakan yang tidak berperikemanusiaan yang mereka lakukan. Mendatangkan banyak korban tentunya. Negara-negara di timur tengah mulai diadu domba oleh pihak asing. Yang berujung dengan banyaknya konflik dan pertumpahan darah. Sehingga membuat sebagian penduduknya mengungsi ke negara-negara terdekat yang dipandang aman untuk mencari suaka. Ibuku dan para wali murid lainnya takut hal tersebut akan merembet ke negara Arab Saudi.

“Kita harus menyelamatkan anak-anak kita dari paham-paham radikal seperti itu.”

“Kita harus bisa membawa pulang anak-anak ke Indonesia.”

“Demi anak-anak, kita harus rela membiarkan mereka hidup jauh dari kita.”

“Lebih baik kita kirim anak-anak kita ke Indonesia, kita masukkan pesantren saja.”

Jika disuruh memilih, aku pasti memilih tetap tinggal di Jeddah. Kota tanah tumpah darahku. Kehidupan yang serba nyaman dan damai rasanya. Mudahnya mengakses barang-barang impor dengan harga murah mulai dari kosmetik, gadget dan baju-baju bermerk serta produk lainnya. Itu semua membuatku hidupku terasa baik-baik saja.

Meskipun panas, tapi aku merasa biasa saja. Karena yang kuketahui hanya kota Jeddah dan sekitarnya. Sementara itu aku hanya mengerti tentang negara Indonesia dari sekolahku. Mulai dari iklimnya, kehidupan masyarakat dan keberagamannya sampai pada keanekaragaman hayatinya. Aku hanya bisa berandai-andai saja. Terkadang saking penasarannya, akhirnya aku searching dan browsing.

Maklum kurikulum yang dipakai sama dengan yang dipakai di sekolah-sekolah di Indonesia. Dan juga cerita dari ibu dan ayahku. Hingga akhirnya Ketika aku lulus SMP, ibuku memutuskan agar aku melanjutkan tolabul ilmi di Indonesia.  Itulah hijrahku, aku ingin hijrahku ini yang pertama dan terakhir kali. 

Awalnya aku berat menerima keputusan itu. Tapi apa daya, wajib bagiku mematuhi perintah ibuku. Di usiaku yang menginjak 17 tahun aku sudah bisa merasakan kekhawatiran ibuku. Memahami apa kemauannya. Beliau merasa bahwa di sekolah Indonesia-Jeddah, pendalaman materi keagamaan sangat kurang.

Maklumlah, sekolah tersebut hanya mengadopsi kurikulum tingkat SD, SMP, dan SMA. Sama sekali tidak mengadopsi kurikulum produk Kementrian Agama. Sebelum berangkat ke Indonesia, aku mulai berpikir, “Sanggupkah aku beradaptasi di sana?”

Dalam diam, aku hanya bisa pasrah saja.

***

Tiada terasa sudah 2 tahun aku tinggal di Indonesia. Alhamdulilah, proses adaptasi berjalan dengan lancar. Tak seburuk yang kubayangkan. Begitu banyak anugerah dan pertolongan di sini. Aku pun bisa mengukir prestasi di sekolahku. Aku hanya bisa bersyukur atas segalanya.

Meskipun tanah tumpah darahku berada jauh di negeri orang, tetapi darah yang mengalir di tubuhku adalah tanah airku, Indonesia. Aku tidak ingin hijrah lagi. Kuanggap ini adalah  hijrahku yang pertama dan terakhir kali. Dan aku semakin yakin, Indonesia adalah tujuan hijrahku yang terakhir.

Terimakasih ibu, tetesan darah jihadmu akan senantiasa mengalir dalam relung jiwaku. Akan kuukir sepanjang hayatku hingga kugapai cita-citaku. Akan kupersembahkan untuk ibuku, yang kutunggu kedatangannya di ujung suksesku. Kesuksesanku di bumi tumpah darah ibuku.  

Oleh: Siti Zainab Yusuf.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

This is a demo store for testing purposes — no orders shall be fulfilled. Dismiss

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: