Senja sedang termenung, menikmati pagi yang sejuk di kota Malang. Secangkir kopi panas dan pisang goreng menjadi teman setianya memandangi taman di halaman belakang rumah. Pikirannya melayang jauh, menelusuri potongan demi potongan kejadian selama dua minggu belakangan ini.

Hingga tiba di pagi ini, sebuah pagi di hari Ahad yang merupakan hari libur di tengah padatnya aktivitas mengajar. Senja merupakan seorang guru di sebuah Sekolah Dasar Islam Terpadu di kota Bogor. Kurang lebih dua tahun ia sudah mendedikasikan dirinya untuk terjun di dunia pendidikan. Dan dua tahun itu pulalah belum terbesit dalam pikirannya untuk melepas masa lajang, sehingga ia harus menghindari kesempatan untuk pulang ke Solo setiap bulannya. Karena sudah tentu keluarga dan tetangga akan sibuk mempertanyakan kapan dia akan melepas masa lajangnya.

Namun hari ini beda. Ahad ini adalah hari dimana ia tidak bisa mengelak dari keinginan ibunya untuk memintanya pulang kampung. Bahkan sederet alasan yang sudah ia siapkan pun tak sempat ia ungkapkan ketika mendengar kalimat Ibunya, “Pulanglah nduk. Ibu sudah siapkan calon suami untukmu. Mungkin waktu ibu ndak banyak lagi nduk. Ibu pingin liat kamu nikah.”

Demi mendengar perkataan ibunya yang menyangkut pautkan waktu hidupnya, Senja manut. Ia sadar kesehatan ibunya semakin menurun. Usia sudah mulai menggerogoti fisik ibunya sehingga tak lagi bugar seperti dulu. Ayahnya pun sudah tak lagi berjualan batik di Pasar Beringharjo. Kini toko milik ayahnya itu dialihkan kepada kakak Senja satu-satunya yang sudah memiliki dua orang anak.

Dan begitulah, Ahad ini, Senja dengan perasaannya yang campur aduk, sedang memandangi segelas kopi kesukaannya yang tak lagi terasa nikmat, seakan suasana pagi ini begitu suram. Nanti selepas dhuhur, calon suami yang sudah dipilihkan untuknya itu akan datang beserta keluarganya. Lamaran katanya.

Senja sadar, saat ini ia sedang menjadi wayang yang dalangnya adalah sang ibu. Sekuat apapun batinnya bergejolak menolak perjodohan ini, namun mulutnya tak kuasa mengeluarkan sepatah kata pun. Adalah haknya untuk menolak perjodohan ini, namun lagi-lagi demi melihat wajah bahagia ibu dan ayahnya, Senja memaksakan dirinya untuk terlihat bahagia.

Ketika sedang menyeruput kopi yang tak lagi hangat itu, Senja merasakan sebuah belaian lembut di punggungnya. Ia mendongak ke belakang, dan melihat ibunya sedang tersenyum memandangnya.

“Gedhang gorenge ora mbok pangan nduk?” tanya ibunya.

“Nggih buk,” jawabnya lirih.

Ibu beranjak duduk di sebelahnya. Kursi rotan itu sedikit berdecit ketika diduduki oleh sang ibu. Nampak ibu Senja menghela nafas panjang. Kemudian memandang Senja yang sedang menunduk dan memainkan ujung jilbab kaosnya.

“Nduk, maafin ibu ya mengabarkan ini mendadak,” ibu memulai percakapan.

“Mboten nopo-nopo buk. Kulo ikhlas,” jawab Senja santun.

“Opo kowe masih inget-inget si Bayu kuwi?” tanya ibunya.

“Mboten bu. Alhamdulillah,” jawab Senja seraya menghela nafas.

Bayu adalah sebuah nama yang sudah lama Senja kubur. Baginya nama itu sudah hilang tertelah waktu. Dua tahun lalu tepat sebelum Senja memutuskan untuk mengajar di Bogor, nama itu menjadi sebuah momok menakutkan bagi Senja. Mendengarnya saja rasanya Senja ingin berteriak, menangis dan menumpahkan segala kesedihannya.

Sosok Bayu merupakan teman kuliah Senja. Perkenalan mereka terjadi saat masa KKN, di mana keduanya merupakan satu kelompok yang ditempatkan di sebuah desa di pelosok Malang Selatan. Semua terjadi begitu cepat, perkenalan yang awal mulanya hanya sebatas teman itu ternyata menumbuhkan benih-benih di antara keduanya. Hingga di suatu sore, di hari terakhir masa KKN mereka, keduanya berjalan menyusuri pantai Goa Cina.

“Bayu, kamu nggak ikut bakar ikan dengan yang lain?” tanya Senja sambil terus menyusuri pasir.

“Nggak senja. Aku sudah kenyang,” jawab Bayu.

“Ohh. Lihat deh, mereka begitu gembira ya,” ujar Sekar seraya tersenyum ketika melihat teman-teman kelompoknya sedang bersenda gurau di depan api.

“Hehe iya. Waktu dua bulan ini membuat kita sekelompok bagaikan keluarga. Kamu sendiri kenapa nggak ikut Senja?,” tanya Bayu sambil terus berjalan di sisi Senja.

“Tadi sudah ikut bakar beberapa ikan. Lalu aku pergi karena ingin ke tepi pantai,” jawab Senja.

“Mau ngapain?” tanya Bayu.

“Aku mau melihat senja,” jawab Senja sambil menunjuk ke arah barat. Matahari nampak bersiap kembali ke peraduannya.

“Senja koq lihat senja, hehe,” Bayu bergurau.

“Iya Bayu. Aku suka sekali senja. Mungkin karena namaku senja ya? Hehe. Yang jelas melihat senja itu menyenangkan bagiku. Melihat senja membuatku semakin kagum dengan kekuasaan Allah. Kalau ciptaannya saja seindah ini, bagaimana penciptanya ya bay?” tanya senja.

Kemudian ia berhenti, sambil tetap berdiri ke arah barat, Senja tersenyum. Ia siap melihat indahnya senja. Bayu tertegun, takjub dengan jawaban perempuan itu. Ia ikut berhenti dan berdiri di samping Senja. Dilihatnya ujung jilbab Senja melambai-lambai terkena angin.

Beberapa saat kemudian matahari mulai tenggelam, menyisakan semburat merah dan jingga di angkasa. Perlahan kilau keemasan tampak. Air di laut pun menjadi emas. Deburan ombak menambah syahdu suasana senja itu.

“Bayu, lihatlah! Betapa indah bukan senja ini? MasyaAllah!” teriak Senja kegirangan.

Bayu terdiam. Menatap senja yang sangat indah di depannya. Ia tahu senja di langit sangat indah. Tapi tiba-tiba hatinya merasa bahwa Senja di sebelahnya lebih indah.

“Senja, maukah kamu mewarnai hidupku? Menjadi senja di setiap hariku?,” ujar Bayu dengan suara lirih.

Senja yang sedang girang menatap senja di depannya tiba-tiba terdiam, menunduk. Kemudian ia menoleh kepada pria di sebelahnya. Tertegun. Tak menduga Bayu akan mengucapkan kalimat itu.

“Maksudnya?” tanya Senja dengan muka yang memerah.

Dua minggu setelah sore itu, Bayu datang ke rumah Senja dan mengungkapkan keinginannya untuk melamar Senja kepada orangtua Senja. Senja menerima dengan hati berbunga, dan kedua orangtua Senja pun setuju. Kemudian Bayu berjanji sebulan lagi akan segera membawa keluarganya untuk lamaran secara formal. Namun, setelah sebulan berlalu, keluarga Bayu belum juga datang.

Tiba-tiba, di suatu Malam, Bayu menelpon ayah Senja. Kemudian menyampaikan permintaan maaf, bahwa ia tidak bisa melanjutkan proses itu. Karena orangtuanya meminta Bayu untuk melanjutkan studinya terlebih dahulu. Senja hancur mendengar kabar itu. Bayangan indah tentang merajut masa depan bersama Bayu hilang sudah. Ia kecewa dan terluka begitu dalam.

Selama beberapa hari, ia mengurung diri di dalam kamar. Kedua orangtuanya pun sedih. Hingga akhirnya, pada suatu hari Senja pamit dan meminta restu kedua orangtuanya untuk mengajar di Bogor atas tawaran temannya. Senja merasa harus pergi sementara dari kampungnya untuk mencari suasana baru dan menghilangkan trauma.

Karena itulah selama dua tahun mengajar, Senja menutup diri dari laki-laki. Ia sedang mengobati lukanya dan sedang berusaha menghilangkan bayangan Bayu. Segala kesibukan dan kebersamaannya dengan para muridnya mampu membuatnya melupakan Bayu.

Hingga hari Ahad itu, di halaman belakang rumah, ketika ibunya sedang menanyainya tentang Bayu, luka lamanya terbuka, ingatannya kembali memutar semua memori bersama Bayu. Jauh di dalam lubuk hatinya, nama Bayu masih ada.

“Yawis nduk, siap-siap ya. Nanti habis Dhuhur mereka datang,” ibunya mengelus lembut kepalanya.

Senja mengangguk. Kini ia pasrah, siapapun jodoh yang dipilihkan ibunya, ia akan berusaha menerima. Ia yakin ibu dan ayahnya tentu akan memilihkan yang terbaik.

Selepas dhuhur, rumah Senja mulai ramai. Para kerabat berkumpul dan bersiap menyambut kedatangan rombongan calon suami Senja. Ketika sebuah mobil mewah memasuki halaman rumah Senja, seluruh kerabat berdiri dan bersiap menyambut.

Ketika pintu mobil dibuka, turun seorang lelaki dengan kemeja batik dan celana hitam. Ia berdiri dan kemudian tersenyum kepada Senja. Senja yang sedang berdiri di sebelah ibunya dapat melihat dengan jelas senyum itu, kemudian ia tertegun, matanya membelalak, nafasnya tercekat. “Bayu!” gumam Senja. []

Oleh: Senja.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: