Ibu Mertuaku, Sungguh Aku Menyayangimu

Jika mendung begini, cucian bisa memasuki episode baru alias minta dikeringkan hingga esok hari. Rintik air mulai menampiaskan percikannya ke kaca jendela. Gegas aku berlari ke halaman belakang. Sampai di sana kudapati setumpuk pakaian sudah berada di tangan ibu mertuaku. Dadaku terasa dicabik-cabik, menantu macam apa aku ini sampai-sampai banyak hal di rumah ini yang masih harus selalu ditangani oleh ibu.

Dengan canggung aku mendekati Ibu. Kulihat Ibu meletakkan tumpukan baju yang masih pada gantungannya itu ke salah satu kursi di sudut dapur, lantas Ibu menaiki satu kursi lain dan membenahi gantungan baju memanjang di atasnya. Postur Ibu yang tinggi jangkung masih harus jinjit untuk meraihnya.

“Biar saya saja, Bu,” pintaku pelan mengingat Ibu harus bersusah payah berjinjit-jinjit seperti itu.

“Hanum bisa?” tanya Ibu lembut.

Aku terdiam lalu menunduk malu. Bagaimana mungkin aku menggantikan Ibu yang setinggi itu saja masih berjinjit, sedangkan tinggiku jauh di bawah Ibu. Aku konyol. Ya, lagi-lagi aku terlihat konyol di depan Ibu.

Aku baru tinggal di rumah ini tak lebih dari tiga bulan, tapi entah mengapa aku merasa hubunganku dengan ibu mertua masih jauh dari yang aku inginkan. Demi taat pada suami aku berkenan ikhlas tinggal bertiga, juga demi pesan-pesan ibu kandungku yang selalu mengingatkan bahwa aku harus memperlakukan ibu mertuaku sama seperti menghormati ibu kandungku sendiri.

Kepayahan dalam memasak tak menjadi masalah besar bagi suamiku, meskipun aku tahu apa yang aku masak di dapur ketika Ibu sedang berkunjung ke rumah kakak ipar untuk beberapa minggu, suamiku selalu memakan apa pun yang aku masak. Tak peduli rasanya karuan atau tidak. Di rumah ini aku mengakui dengan segenap kesadaran dan tanpa merasa direndahkan sebagai seorang menantu, sebagai seorang istri, bahwa koki terhebat meski seluruh keluarga besar suami berkumpul adalah ibu mertuaku.

“Boleh aku bantu, Bu?” tanyaku pelan ketika melihat Ibu sedang berjibaku di sudut dapur dengan beberapa sayur mayur dan ikan segar.

Ibu menoleh lantas tersenyum padaku. “Tidak, Hanum. Sudah hampir selesai, Ibu bisa mengatasi ini sendiri, kembalilah ke dalam, kerjakan yang ada di sana.” Suara lembut Ibu yang bukan pertama kali kudengar perihal penolakannya.

Terkadang kekhawatiran menghampiri segenap pikirku, mengapa Ibu memperlakukan aku seperti ini. Apa karena pernah suatu ketika aku membuktikan ketidakpecusanku perihal urusan dapur? Aku salah memasukkan santan yang seharusnya dituang perlahan sedikit demi sedikit, bukan sekali tuang seperti yang aku lakukan. Aku pernah terlalu banyak memberikan garam pada lauk yang sedang kami olah bersama. Aku pernah menghaluskan bumbu di atas cobek yang hasilnya tak sehalus hasil tumbukan Ibu dengan tangannya yang kurus namun bertenaga.

Dan perasaan ini seperti yang aku khawatirkan, ia menjelma menjadi bom waktu yang meledak saat sumbunya telah sampai pada waktu di mana aku merasa sesak tanpa sebab lain selain perasaanku sendiri.

“Katakan, ada apa, Sayang?” Suamiku tercekat melihatku menangis sesenggukan. Sebelumnya hampir tak pernah ia dapati aku berada dalam kondisi seperti ini. Ia merasa bersalah sendiri, ia bertanya lagi apakah ada sesuatu yang telah ia katakan atau lakukan sehingga membuatku berada pada puncak kesedihan seperti ini.

Aku menggeleng kencang dengan kepala masih terengkuh dalam dekapannya. Dekapan lelaki yang sempurna selama ini menjadi lelaki yang mengkondisikan kebaikan bagi hubunganku dengan ibu kandungnya. Ia teramat adil bagaimana memperlakukan surganya dan surga calon anak-anaknya kelak.

“Apa Ibu benci padaku, Mas?” Pertanyaanku untuk kesekian kali.

“Ssst, Ibu menyanyangi Adek seperti ia menyayangi Mas, seperti ia menyanyangi putra-putri kandungnya.”

Tidak, aku merasakannya berbeda. Aku telah bisa menyayangi Ibu dan menganggapnya sebagai ibu kandungku sendiri seperti pesan ibu kandungku. Aku sering memulai pembicaraan pada Ibu untuk mencoba mengakrabkan diri, mencoba mendekat dan belajar peka. Tapi hasilnya nihil.

“Adek tahu mengapa Ibu bersikap demikian, itu memang sudah watak Ibu. Tapi bukan berarti ia membenci Adek.” Lelakiku tak pernah menyerah menenangkan istrinya.

Pagi itu demamku tinggi dan membuatku rebah sepanjang hari di tempat tidur. Suamiku rela izin dari kerja demi menemaniku. Mengambilkan makanan untukku, menyiapkan segala keperluanku, dan segala yang ia bisa. Tapi Ibu …  Ibu sama sekali tak nampak menjengukku di kamar. Apakah Ibu sama sekali tak memedulikanku? Aku menyerah, air mataku tumpah. Aku menyayangi Ibu, tapi mengapa Ibu belum bisa menyayangiku. Pertahananku runtuh. Sejenak samar-samar kudengar sebuah suara dari luar kamar.

“Bagaimana kondisinya?” Aku kenal itu suara Ibu.

“Demamnya masih tinggi, Bu. InsyaAllah akan Radit bawa ke dokter sore ini.”

 “Mbak, maafkan saya ya, belum bisa menjadi menantu terbaik buat Ibu.” Kesempatan bertemu kakak ipar yang tinggal di luar kota kali ini aku gunakan untuk sedikit membahas Ibu. Entahlah, mengapa aku bisa mengatakan hal seperti itu. Mungkin karena rasa bersalahku yang besar.

“Apa sih definisi menantu terbaik itu?” tanya kakak iparku satunya lagi yang juga bergabung bersama kami di sudut dapur saat Ibu sedang beristirahat di kamarnya.

“Ketika putra-putrinya tak khawatir lagi tentang apakah ibu mereka mendapat teman terbaik di rumah, mendapat tempat bercerita terbaik. Sedangkan aku belum bisa melakukannya.” Aku mengakui kelemahanku.

“Begitulah Ibu. Ibu memang pendiam,” lanjutnya.

Lepas pulang dari periksa demam tinggi aku dan suami duduk bersama Ibu di ruang keluarga.

“Hanum merasa bersalah telah merepotkan Ibu dengan sakitnya meski Radit sudah menasihatinya agar ia tidak berpikiran seperti itu.” Keterkejutanku membuat bibirku membentuk huruf O kecil mendengar suamiku mengatakan hal itu pada Ibu. Aku segera merengkuh wajahku untuk menunduk.

Lamat-lamat kutatap wajah Ibu yang ternyata juga sedang menatapku. Aku semakin tak karuan. Kulihat mata bening di usia senjanya, wajah teduh yang selalu tersapu air wudhu pada setiap kesempatan. Dahinya yang menghitam karena seringnya ia bersujud.

“Jangan berpikiran yang macam-macam, Hanum. Seperti inilah Ibu, yang tak bisa berbicara banyak kecuali hal yang memang perlu kita bicarakan. Bukan karena Ibu membencimu, sungguh. Tapi karena beginilah Ibu.” Pelan sekali suara itu kudengar.

Waktu memang tiba-tiba melambat dan kulihat dengan jelas gerakan bibir Ibu saat mengatakannya. Aku seperti terbius, terhipnotis. Seolah sebuah tamparan dalam hatiku mencoba menyadarkanku. Satu hal yang baru aku sadari mulai detik ini, bahwa satu masalahku adalah bukan berpusat pada Ibu, tapi pada rasa syukur. Aku menunduk, malu pada lipatan sayang yang nampak dari wajah Ibu yang lama kuabaikan.

Oleh: Ummu Ayyash

Tinggalkan Balasan