Ilustrasi dari Maicih.

“Sembilan dari sepuluh pintu rezeki ada di perdagangan. Seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad salallahu allaihi wasalam.” Begitu yang diucapkan suami, ketika meminta izin ingin kembali berwirausaha, setelah beberapa waktu yang lalu pernah mengalami kegagalan.

Sebelumnya, suami pernah mencoba berjualan makanan kecil; pisang krispi dan gandasturi, kemudian beralih ke es buah dan campur, lalu balik lagi menggeluti pisang krispi, tetapi, semua usaha dagang sampingannya tersebut gagal, salah satu faktor dikarenakan pekerja yang tidak amanah.

Suami saya bekerja di sebuah pabrik, sedangkan saya saat itu memiliki bayi, jadi, kami tidak dapat mendampingi karyawan dan mengontrol pemasukan uang secara langsung. Barang dagangan yang habis, selalu saja tidak seimbang dengan uang yang masuk. Daripada kami terus merasa su’udzon, akhirnya suami mengakhiri usaha dagang dan memberhentikan pekerja tersebut.

Hingga suatu hari, suami kembali tergoda dengan bisnis makanan kecil yang digeluti saudara. Modalnya tidak banyak, pemasukkan lumayan sebagai sampingan, tetapi, lagi-lagi usaha tersebut tidak dapat dipegang sendiri.

“Andi katanya mau kok, Mi, kerjasama bareng kita. Dia yang jualin, kita sistem bagi hasil.”

Saya masih sangsi untuk kembali memulai usaha dagang, bagaimana jika gagal lagi?

“Kita nggak boleh kapok, Mi. Harus kreatif dan giat dalam menjemput rezeki Allah. Jangan bersantai-santai,” ucap suami di suatu waktu. “Pengeluaran semakin lama semakin banyak. Jadi, harus tambah rajin nyari pemasukan.”

Mau tak mau, saya akhirnya setuju dengan ucapan suami. Mungkin memang benar, tidak ada salahnya mencari penghasilan tambahan, di samping pendapatan pokok suami sebagai buruh pabrik. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan, bukan? Misalnya saja, PHK. Akan bingung mencari pemasukkan nantinya jika sumber penghasilan satu-satunya tersebut terhenti. Akhirnya, saya pun mendukung niat suami kembali berdagang.

Suami tertarik jualan kue pukis seperti yang dijalani saudaranya. Modal tidak terlalu banyak, proses tidak terlalu ribet, dan tidak memakan waktu lama saat berjualan.

Bersama temannya, suami mencari tempat jualan yang kira-kira strategis. Beberapa hari berputar-putar, akhirnya dapat juga tempat. Di Jalan Rambutan, daerah kota, kebetulan tidak jauh dari tempat tinggal kami. Tempat tersebut, setiap pagi sangatlah ramai. Banyak penjual makanan dan jajanan yang mangkal. Bismillah. Semoga saja kami bisa menemukan jalan rezeki di tempat tersebut.

Suami sudah membeli peralatan yang dibutuhkan seperti gerobak, cetakan, bahan baku, sejak jauh-jauh hari, sehingga saat sudah menemukan tempat, tinggal mulai berdagang saja. Jualan hari pertama alhamdulillah lancar, dagangan yang digelar pukul enam, habis pukul sepuluh pagi.

Dagangan kedua pun tidak ada hambatan, ludes di jam smbilan. Syukur alhamdulillah, setiap hari, kue pukis yang dijajakan selalu tak bersisa, dan hal tersebut terus berlangsung, hingga sebulan lamanya. Kami juga bersyukur, teman suami yang menjualkan dagangan tersebut amanah. Etikanya baik, dan rajin.

Betapa gembiranya kami. Akhirnya, setelah beberapa kali gagal mencoba berdagang, kali ini bisa berhasil. Suami mulai membeli bahan baku lebih banyak. Jika awalnya tepung, gula dan telur dibeli eceran, maka setelah dagangan berjalan lancar, bahan-bahan dibeli karungan, dan untuk telur di-stock satu peti. Alhamdulilah.

Hari berganti. Ternyata, kebahagiaan kami tidak abadi. Ada kabar tak enak yang berembus. Teman suami tersebut, konon berdagang di tempat lain tanpa sepengetahuan suami. Siang dan malam setelah pulang dari tempat berjualan yang pertama. Kebetulan, alat dagang dan bahan dititipkan di rumah teman suami, kerena suami yang juga bekerja di pabrik tidak bisa selalu membantu membuat adonan dan mengantar ke tempat jualan.

Suami mencoba memastikan berita tersebut, dan ternyata memang benar. Setiap siang dan malam hari, teman suami berdagang di tempat lain tanpa konfirmasi terlebih dahulu. Suami meradang, murka, karena merasa dikhianati oleh sahabat yang ia percaya.

Keesokkan harinya, suami menegur. Beruntung masih ada kontrol, sehingga tidak terjadi konfrontasi. Teman suami pun kemudian meminta maaf, dan memberikan alasan bahwa ia sedang butuh banyak uang untuk biaya ketiga putranya yang masih kecil. Selain berjualan pukis milik kami, teman suami ini tidak bekerja tetap. Serabutan. Sang istri, terpaksa membantu mencari nafkah sebagai guru TK.

Setelah kejadian hari itu, setiap siang dan malam hari selepas jualan di tempat pertama, teman suami diperbolehkan berjualan di tempat lain, tetapi dengan konfirmasi dan soal pendapatan harus terbuka. Alhamdulillah, semua berjalan lancar. Selama sebulan, penghasilan meningkat. Kami turut senang, teman suami dapat memenuhi kebutuhan untuk keluarganya.

Beberapa bulan kemudian, teman suami meminta izin berhenti bekerja pada kami. Katanya, ia ingin mencoba berjualan sendiri. Sebenarnya, kami sedikit berat dengan keputusannya tersebut. Usaha yang dirintis sedang berkembang baik, sangat disayangkan jika kami harus berganti pekerja baru, dan mengajarinya sedari awal lagi. Apalagi, sangat sulit mencari pekerja yang amanah. Tetapi, apa mau dikata. Kami tidak boleh egois. Mungkin, dia memang lebih membutuhkan usaha tersebut untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Akhirnya, kami mengikhlaskannya pergi. Untuk sementara waktu, biarlah jualan berhenti dulu, sampai menemukan pekerja yang cocok.

Hari Minggu, suami libur. Ingin mencoba berjualan sendiri di tempat biasanya, sambil menunggu mendapatkan pekerja. Sayang jika kelamaan tutup, takutnya pelanggan pada kabur. Suami telah siap dengan perlatan dagang, kemudian berangkat. Tak lama, suami kembali pulang ke rumah. Saya heran, kok cepat sekali?

“Sudah habis, Bi?” tanya saya saat suami turun dari motor. Gerobak dibiarkan begitu saja. “Kok, tumben, cepet banget?”

Wajah suami terlihat merah padam. Dibantingnya ember yang berisi adonan pukis (beruntung tutupnya kuat, sehingga adonan tidak berhamburan keluar). Saya terperanjat, ada apa?

“Tempat jualan kita ditempati Andi,” ucap suami geram.

“Loh …, kok bisa, Bi?” Saya tidak mengerti maksud ucapan suami. Hingga akhirnya suami bercerita panjang lebar, bahwa dulu, Andilah yang menyarankan agar berjualan di tempat tersebut. Sekarang, saat ia memutuskan berjualan sendiri, ia ingin tempat yang dulu ia sarankan tersebut ditempati olehnya. Ia meminta suami agar mencari tempat lain. Astagfirullah!

Suami marah! Uring-uringan selama beberapa hari. Cerita-cerita buruk tentang temannya tersebut, berhamburan keluar tanpa ada jeda. Beberapa teman, ada yang pernah dikecewakan pula oleh Andi saat mereka bekerja bersama. Konon, tabiat Andi ini memang terkenal kurang baik, dan tak sungkan menyerobot bagian orang lain.

Setiap malam sebelum tidur, saya persilakan suami mengeluarkan unek-unek, dan saya menjadi pendengar. Tujuannya, agar suami merasa lega. Perlahan, saya sampaikan pada suami agar berusaha ikhlas. Apa yang dilakukan teman suami tersebut memang tidak baik, tetapi, jangan sampai membuat suami berlaku tidak baik juga. Ghibah dan terus-menerus menyimpan kebencian dalam hati. Setan akan dengan senang hati menghasut.

Banyak-banyak berdoa pada Allah, minta ditenangkan hati, agar ikhlas menghadapi keadaan.

“Kita ikhlaskan saja, ya, Bi? Tidak baik memelihara rasa kesal terlalu lama, cape hati. Sepertinya, dia memang lebih membutuhkan usaha tersebut dibanding kita. Setidaknya, Abi masih kerja di pabrik, ada penghasilan untuk menafkahi kami, sedangkan teman Abi?” Saya menatap lurus mata suami yang terlihat masih menyimpan marah.

“Mudah-mudahan, dengan dia mempunyai penghasilan tetap dari berdagang pukis, dia tidak lagi berlaku curang pada orang lain. Kita bantu doa, agar jualannya lancar dan laris, ya? Dan semoga sifat tak baiknya dihilangkan oleh Allah.”

Sejujurnya, saya pun marah dengan tindakan teman suami tersebut, tetapi mau bagaimana lagi? Semua sudah terjadi, dan tidak mungkin kejadian tersebut tanpa kehendak dari Allah, bukan? Mau tidak mau, ya harus mau menerima ketentuan-Nya. Sabar, ikhlas, berpikiran positif saja. Mungkin, Allah akan membukakan jalan rezeki dari tempat lain. Dan, memaafkan orang yang telah menyakiti kita adalah perbuatan terpuji, dapat meringkankan satu catatan amal buruknya kelak. Kita juga tidak terbelit rasa kesal terus-menerus jika bisa berlaku ikhlas.

Oleh: Ranti Eka Ranti Kumala.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: