Iman dan Takwa, Kiat Suksesmu dalam Bidang Apa Pun

Kiat yang akan saya tuturkan di sini sangat bisa diterapkan pada bidang apa pun, bukan hanya urusan bisnis, sekolah/kuliah, tapi juga bermasyarakat. Sederhana keyakinan ini saya tetapkan: sebab kiat ini berfondasi pada hal yang sangat mendasar, pokok, dan meliputi seluruh aspek kehidupan kita.

Ia tak lain adalah beriman dan bertakwa kepada Allah Swt.

Sudah? Ya, sudah. Kamu mau apa lagi, atau membayangkan apa lagi yang lebih mendasar, pokok, dan meliputi segalanya selain iman dan takwa kepada Allah Swt?

Jelas final. Tak ada lagi.

Mari ambil satu contoh saja. Berbisnis online. Sebut saja daganganmu adalah buku (tentu boleh diganti sambal teri, mendoan, kerupuk, madu, jamu, kurma, dan sebagainya).

Tentu pasti sepemula bagaimanapun, semua kita mengerti bahwa cara-cara paling awal dan dasar dalam memulai bisnis online ialah (misal): buat akun, posting produk lengkap, dan promosikan agar dikenal khalayak. Hal-hal taktis begini tak usahlah kita bahas. Soal teknik posting, promosi, atau ikut program premium apa pun dari situs-situs jualan yang diikuti, itu bagian dari hal-hal umum standar belaka. Jadi, cukuplah kita tahu semua, kan.

Saya menyebut bahwa iman dan takwa merupakan penentu paling pokok dari kemajuan atau kegagalan bisnis onlinemu lantaran dua hal berikut:

Pertama, melayani calon pembeli atau pembeli dengan sebaik-baiknya merupakan tugas pokok kita sebagai penjual. Segala bentuk good attitude, sebutlah fast respons, haruslah kita kedepankan.

Persoalannya ialah bahwa para calon pembeli itu sangat banyak modelnya, wataknya, gayanya, bahkan ulah dan keinginannya. Kerap proses melayani dengan sebaik-baiknya terbentur pada perkara-perkara emosional.

Nah, tepat pada titik inilah apa yang saya maksud iman dan takwa itu sangat terlihat pengaruhnya.

Umpama ada calon pembeli atau pembelimu yang aneh-aneh, mengundang naik darah, bagaimana sikap yang kamu peragakan? Mengabaikannya atau memarahinya atau tetap melayaninya dengan sebaik-baiknya?

Orang beriman dan bertakwa dengan sesungguhnya iman dan takwa akan selalu ingat bahwa begitu berjubel ajaran al-Qur’an dan hadits yang mendorong kita untuk selalu berbuat baik dan menjauhi hawa nafsu (emosi). Tak ada hal lain yang menarik hati seorang mukmin dan Muttaqin kecuali kebaikan.

Dan, ini tidak cukup sama sekali hanya berlandas pada soal etika universal (atau teori-teori bisnis pada umumnya) ala pandangan dunia global-sekuler, tetapi mesti hanya karena Allah Swt. Sebab Allah semata suatu peristiwa, apa pun itu (pahit atau manis), mungkin terjadi pada diri kita (bahkan dunia seisinya).

Maka hadirnya calon pembeli yang merepotkan sekalipun tetap akan bisa kamu hadapi dengan kelapangan hati atas dasar keyakinan ruhani tersebut. Takkan ada sedikit pun pendangan emosional atau negatif (misal menganggapnya pembeli tak potensial atau kecil atau remah-remah) pada pembeli yang resek sekalipun.

Ia sepenuhnya yakin bahwa itu terjadi atas izin Allah untuk terjadi. Apalagi melayani pembeli yang baik-baik. Tentu “huyyitum ditahiyyatin fahayyu biahsanin minha, dihargai dengan suatu penghormatan maka akan memberikan balasan penghormatan yang lebih besar lagi”.

Kedua, jalan bisnis yang penuh lika-liku, tersendat, banyak tantangan, persoalan, termasuk kerugian, dengan pendekatan iman dan takwa niscaya takkan membuat kita putus asa.

Wala taiasu min rauhillah innahu la yaiasu min rauhillah illal qaumul kafirun, dan janganlah berputus asa dari pertolongan Allah, sesungguhnya takkan berputus asa dari pertolongan Allah kecuali orang yang kufur. Begitu prinsipnya.

Ia selalu yakin bahwa pertolongan Allah pasti tiba–masa di mana bisnisnya akan mulai dikenal, diperhitungkan, ditransaksikan, dan meraih keuntungan-keuntungan. Ia hanya perlu terus berikhtiar, bersabar, dan berdoa kepada Allah Swt.

Inilah poin plus ruhani yang tak dimiliki oleh kalian yang kurang beriman dan bertakwa kepada Allah. Tidak kunjung laku, buatmu stres. Kalut. Sedih, putus asa. Watak-watak negatif demikian takkan ada pada sosok yang mukmin dan Muttaqin. Ia selalu berbesar hati, apa pun masalahnya, sebab ia punya Allah.

Tak masalah kurang modal, belum luas jaringan, masih terseok-seok perjalanan bisnis onlinemu, namun karena kamu terus berikhtiar dan memiliki Allah, niscaya jalan hidupmu akan terus terawat positif. Baik-baik. Tentu saja, ini akan membuahkan perasaan, pikiran, dan kejernihan langkah di hari-hari esoknya.

Jika suatu hari bisnis onlinemu moncer, kamu tetap selalu yakin bahwa pencapaian hebat itu semata berkat pertolongan Allah, bukan karena barangmu kondang, postinganmu menarik, promomu mengagumkan, apalagi dirimu hebat luar biasa. Tidak akan begitu.

Mukmin dan Muttaqin selalu merujukkan segalanya hanya kepada Allah Swt, termasuk di kala moncer, jaya, dan penuh laba. Semua pencapaian profit ini akan makin mendekatkannya kepada Allah Swt, bukan sebaliknya malah terjungkal kepada kekufuran dan kemaksiatan.

Menikmati hasil bisnis yang melimpah, misal, akan beda cara ekspresinya antara kamu yang beriman dan bertakwa dengan kamu yang menyepelekan pertolongan Allah dalam kemajuan bisnismu. Boleh jadi kamu mengambil suatu piknik, travelling, tetapi spirit ruhani seorang mukmin dan Muttaqin tetaplah sebagai tasyakkur kepada Allah. Bukan lalai, abai, apalagi bermaksiat kepadaNya.

Yakinkanlah selaku hatimu bahwa sesulit apa pun tantangan di depanmu, tak ada yang sulit bagi Allah untuk membukakannya buatmu dan selempeng apa pun jalan bisnismu tak muskil sama sekali bagi Allah untuk merontokkannya. Semua itu semata dalam kekuasaan Allah dan pencapaian-pencapaian kita semua sepenuhnya karena pertolongan Allah.

Lalu, bagaimana logikanya hal-hal prinsipil seperti ini, yang menjanjikan hati yang tenang dan lelaku yang berbingkai etika mendalam (akhlak karimah) masih sanggup kamu sepelekan dalam perjalanan hidup dan bisnismu?

Fazlur Rahman dalam bukunya yang amat terkenal, Tema-tema Pokok dalam al-Qur’an, mengatakan: “….tujuan manusia bermasyarakat adalah membangun tatanan etis di muka bumi. Namun, menumbuhkan takwa dan kesadaran akan tanggungjawab individu mutlak diperlukan apabila suatu tatanan sosial seperti itu hendak dibangun.”

Apa yang dimaksud “kesadaran akan tanggungjawab individu” oleh Fazlur Rahman tentu saja adalah ‘amilus shalihat (amal-amal kebaikan). Dan itu tiada lain adalah buah dari iman. Maka tegaknya iman dan takwa adalah jaminan bagi tegaknya nilai prinsipil kehidupan bermasyarakat (termasuk di dalamnya perdagangan).

Itu berarti dengan bekal iman dan takwa yang mendalam, kita sebagai bagian dari suatu masyarakat menjadi bagian dari tegaknya tatanan sosial yang baik itu. Dan itu adalah kesuksesan yang besar bagi diri kita, hidup kita, dan lingkungan kita.

Tak ada sama sekali hal lain yang lebih membahagiakan dari pencapaian tersebut.

Oleh: Edi AH Iyubenu.

Tinggalkan Balasan