Ini Cara Tuhan Membuatku Bahagia, Bersamamu

Malam ini aku merasakan hal yang menurutku aneh. Masa, sih, aku merindukan dia yang super jahil di kelas. Tapi, gayanya yang unik, cara ngomongnya yang lucu, dan tingkah yang konyol benar-benar menumbuhkan rasa ingin tetap terus bersamanya.

Jujur saja deh, kalian pasti pernah ngelakuin apa yang sedang kulakukan malam ini. Men-stalking akun instagramnya terus mesam-mesem sendiri melihat wajahnya. Ya, itu yang kulakukan saat ini.

Apa yang cowok itu lakukan hari ini benar-benar di luar dugaan. Ketika aku berjalan menuju kelas, tiba-tiba ada bola basket yang menggelinding ke arahku, sampai menyentuh sepatu yang kukenakan.

“Lempar!” teriaknya dari tengah lapangan.

Aku mengernyitkan dahi, dengan merunduk mengambil bola berwarna merah itu, begitu  mengangkat dan menegakkan tubuh ini dia sudah ada di depanku.

Bum!

Aku terhenyak. Dia benar-benar membuat sport jantung.

“Ah, lama kamu,” ucapnya lalu mengambil bola yang kubawa. Entah kenapa, bukannya marah aku malah terpaku dibuatnya. Ekspresi wajah yang memesona dengan tahi lalat di bawah bibir terlihat jelas saat itu. Aku kembali melanjutkan langkah dengan perasaan yang ngambang, antara suka dan sebal jadi satu.

Belum lagi kemarin. Ketika kusedang mencatat tugas dari guru, cowok itu ternyata sudah ada di pintu tanpa kusadari. Kalau bukan senggolan sikut dari teman sebangku aku tidak tahu dia ada di sana.

“Aina!” teriaknya.

Aku mengangkat tangan dan menatapnya penuh tanya.

“Kamu dipanggil guru BK di ruang guru,” ucapnya sembari berlalu.

Anak-anak kelas pun mulai menatapku heran, terlebih Ika yang ada di sampingku, dia langsung memegang tanganku begitu aku berdiri. “Kamu enggak ngelakuin hal aneh kan akhir-akhir ini?” tanyanya cemas.

Aku menggeleng, lalu melangkah ke luar. Jujur, selama perjalanan menuju ruang guru jantungku berdegub hebat. Aku menghela napas terlebih dahulu sebelum memasuki ruangan itu.

Aku pun masuk, lalu pandangan ini merayap ke tiap meja, mencari keberadaan guru BK.

“Ada apa Aina?” tanya salah satu guru yang tidak jauh dari pintu.

“Bu Pujinya ada, Bu?”

“Oalaah, hari ini beliau tidak masuk, Aina.”

Mendengar hal itu rasanya aku ingin berteriak. Cowok iseng itu benar-benar tidak ada kerjaan apa sih?!

Aku berpamitan dengan Bu guru dengan raut wajah yang memerah. Lalu, menuju ke kelas dengan kesal.

Anak itu memang punya seribu cara untuk berbuat iseng. Aku masih menatap foto-fotonya di instagram. Pikiran ini melayang memikirkan asyik kali ya kalau jadi pacarnya.

***

Pagi ini gerimis sedikit membasahi jalanan, daun-daun, dan orang-orang yang mulai beraktivitas di luar. Aku tetap berangkat mengenakan jaket. Sesampai di gerbang, aku bertemu dengan Ardo.

“Apa?! Mau ngisengin lagi?” tanyaku ketus.

Cowok itu nyengir, lalu mendekatkan wajahnya ke telingaku, “Kamu cantik kalau lagi marah.”

Kalimat itu berhasil membuat pipiku memanas, sekuat tenagaku untuk tidak tersenyum. “Ish, apaan, sih?” Jantungku sudah tidak karuan lagi detaknya. Untuk menghindari terjadinya tingkat baper yang semakin tinggi, aku melanjutkan perjalanan menerobos hujan menuju kelas.

Kupikir cowok itu akan diam di tempat, ternyata dia juga mengikuti dari belakang. Aku segera membalikkan badan, dia pun berlagak sibuk, pura-pura tidak tahu. Aku melanjutkan langkahku.

Begitu di dalam kelas. Aku sedikit menjerit untuk melepaskan perasaan girang di hati.

“Segitunya!”

Aku terhenyak ketika mendengar suara itu, ternyata dia sudah bersandar di pintu. Aku segera mengabaikannya, memilih mengeluarkan buku-buku di dalam tas untuk menutupi salah tingkahku.

Aku masih cuek dengan tidak mengabaikannya. Ternyata cowok itu justru masuk, dan duduk di kursi kosong di sampingku. “Aku cinta kamu.”

Cepat aku menoleh mendengar ucapannya yang lirih. Bermaksud untuk memastikan apa yang kudengar. Dia justru hanya tersenyum, Ya Tuhan …. Kuatkan hamba yang rapuh ini. Aku tidak mau cepat yakin dengan apa yang kudengar barusan.

“Eh, Ardo, pergi sana!” ucap Ika yang sudah sampai di kursinya.

“Eh, Ika, kok berangkat sih.”

“Lah, suka-suka aku dong,” jawab Ika sambil menarik baju putih milik Ardo. “Lagian kamu tumben pagi-pagi sudah di sini.

“Aku mau nembak cewek, tapi jangan bilang-bilang sama Hapsari ya.”

Mendengar namaku disebut aku cepat mengangkat wajahku. Dia sedang memandang Ika.

“Memang kenapa?” tanya Ika.      

“Kan dia orangnya. Nanti gak asik dong dia tahu duluan.”

Dorrr, dorrr!

Aku tergagap, segera kukucek pelan kedua matanya. Ya Allah … cuma mimpi.

“Hapsari! Bangun…. Punya anak cewek kok bangun kudu diteriakin mulu,” teriak ibu dari depan pintu. Suara gedoran pintu terdengar lagi.

“Iya, Ma.”

Kalau tidak dijawab, gedoran pintu tidak akan berhenti. Aku perlahan menuruni kasur, lalu ke luar menuju kamar mandi. Aaah, berharap banget mimpi tadi jadi nyata.

***

Ponselku berdering nyaring, terdengar dari luar segera kupercepat langka lalu masuk dan mengambil benda mungil itu. Ika memanggil.

“Hapsari, langsung ke rumah Ardo ya. Dia meninggal.”

“APA?!” teriakku tidak yakin. Dadaku terasa sesak. Bola mataku terasa pedes karena terbendungnya air mata. Satu kedipan saja, bulir-bulir itu mengalir deras. Baru kemarin dia isengin aku, baru saja aku terbangun dari mimpi bersamanya. Ternyata Tuhan hanya memberi kenangan indah ini melalui mimpi semalam. Ardo, semoga kamu tenang di sana.

Oleh: Nurwa R.

Tinggalkan Balasan