Ilustrasi dari rula.

Ini Lho Alasan Pentingnya Memilih Pasangan yang Sekufu

Laki-laki yang berzina tidak akan menikah kecuali dengan perempuan yang berzina atau perempuan musyrik dan perempuan yang berzina takkan menikahinya kecuali laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik dan yang demikian itu diharamkan bagi orang-orang mukmin.” (QS. An-Nur ayat 3)

Ayat tersebut merupakan bantahan langsung dari Allah kepada sejumlah kaum munafik yang pernah menghebohkan kaum muslimin di Madinah dengan tudingan Aisyah Ra telah berzina. Fitnah itu sempat membuat Rasulullah Saw ‘menjauhi’ Aisyah. Begitu asbabun nuzulnya.

Dari ayat tersebut, kita mengenal istilah ‘sekufu’ (sederajat, selevel, semaqam) antarpasangan. Dan sudah pasti karena ini yang menuturkan al-Qur’an, kita mengimaninya.

Sekufu secara otomatis menjadi ‘benang merah rohani’ bagi ikatan suatu hubungan, termasuk jodoh dan rumah tangga, yang menjadikannya rekat kuat atau getas dan rawan pecah. Dapat dibayangkan bila ada suami istri yang berbeda tajam dalam memandang hal-hal pokok kehidupan rumah tangganya, seperti soal penegakan syariat Allah, niscaya akan terjadilah goncangan-goncangan di dalamnya.

Saya ambilkan contoh begini.

Seorang suami meyakini betul keutamaan dari ayat ini: “Siapa yang memberikan pinjaman yang baik kepada Allah, maka Allah akan membalasnya dengan balasan yang banyak dan Allah lah yang menyempitkan dan melapangkan (rezeki) ….

Ia mengatakan kepada istrinya akan mengamalkan ayat tersebut. Pendapatannya setiap bulan akan 10% akan disedekahkan. Tahun depan akan ditingkatkannya menjadi 20%. Lalu terus bisa istiqamah di angka 30%.

Istrinya tidak gemar mengaji. Membaca huruf hijaiyah saja masih kelimpungan. Kesukaannya shopping dan bergaya sosialita. Ia menentang ucapan suaminya dengan mengatakan bahwa sedekah cuma sunnah, yang penting yang wajib saja, yakni zakat. Sekian persen pendapatan suaminya yang direncanakan untuk sedekah tetap harus dialokasikan untuk kemeriahan lifetyle-nya.

Betapa kecewanya suami pada sikap istrinya!

Sebut contoh lain, ada suami yang memiliki keyakinan imani bahwa mencintai keluarga dan anak-anak adalah kewajiban tetapi mencintai Allah, agama Allah, jauh lebih utama baginya. Dalam rangka mendalami pengetahuannya tentang syariat Islam, suaminya mengatakan kepada istrinya bahwa mulai bulan depan ia akan rutin mengikuti pengajian seminggu dua kali.

Istrinya protes dengan mengatakan bahwa aktivitas pengajian rutin tersebut akan menyita waktu suami untuk dirinya dan anak-anak. Family time jadi tergerus. Dan itu, tegasnya, tak baik bagi keutuhan ikatan psikologi rumah tangga dan orangtua-anak. Jadi, sekali-kali saja.

Suaminya kecewa. Niat baiknya untuk belajar agama, demi meningkatkan pengetahuan dan amaliahnya sebagai muslim, yang tentunya juga dimaksudkan untuk menjadi cahaya rohani bagi rumah tangganya, tertahan oleh penolakan istrinya.

Ini pun menjadi situasi psikologis yang tidak sehat bagi relasi suami-istri tersebut. Akumulasinya sudah dapat kita ramalkan. Rumah tangga itu bagaikan toples rengat yang sedikit kesenggol saja niscaya pecah berantakan.

Tentu, contoh tersebut juga berlaku sebaliknya, yakni istri yang berada di posisi ditentang oleh suaminya.

Kita tahu dari psikologi kontemporer bahwa suami istri sebagai dua insan mustahillah untuk sama atau selalu sama. Narasi psikologi mengatakan begini: keharmonisan rumah tangga bukanlah dibangun dengan menyamakan perbedaan-perbedaan suami-istri (sebab dua manusia tidaklah mungkin sama), tetapi dilandaskan pada pengertian terhadap perbedaan-perbedaannya.”

Di titik inilah hukum sekufu itu memiliki perbedaannya.

Kita bisa bayangkan relasi imam-makmum dalam konteks sekufu ini. Suami istri di dalam rumah jelas tak sama, keduanya adalah insan yang berbeda, dengan latar dan karakter yang berbeda. Namun, kita pun paham jelas bahwa spirit pernikahan dalam Islam adalah komitmen rohani untuk membina relasi imam-makmum tersebut. Tidak bisa selainnya. Ada imam, ada makmum.

Bukankah mustahil dalam satu sarang ada dua singa, kan?

Agar kajian ini tak jatuh pada ‘sentimentil-feminisme’, mari pegang bersama dulu prinsip pernikahan imam-makmum tersebut. Penting ditunjukkan segera di sini bahwa tanpa perlu diembeli teori-teori feminisme yang banyak tuntutan itu, sudah dengan sendirinya seorang imam (suami) yang beriman sungguh-sungguh kepada Allah (haqqa tuqatih) akan memuliakan dan menghormati istrinya. Pasti!

Imam yang mukmin tidak mungkin menciderai dengan otoriter makmum (istri) yang dipimpinnya. Apalagi melakukan KDRT. Mustahil!

Maka bayangkanlah ada sebuah keluarga yang gagal meletakkan relasi imam-makmum suami-istri itu dalam posisi demikian, apa yang akan terjadi? Keduanya mengambil pemikirannya sendiri-sendiri, misal. Keduanya menyatakan pandangan dirinya masing-masing terbaik, umpama. Suami ke kanan, istri ke kiri, contoh.

Apa jadinya?

Beku, dingin, retak, lalu pecah.

Bayangkan pula pada ranah amaliah syariat, misal, bagaimana mungkin akan teduh sebuah rumah tangga jika suami yang punya aktivitas dakwah di luar rumah berulangkali disewoti oleh istrinya yang menganut pandangan final pada narasi modern family time. Suami ingin mengajak serta istrinya ke pengajian yang mengundangnya jadi pembicara, istrinya menolak dengan alasan capek, ngantuk, atau apalagi tak suka dengan jamaah pengajian sejenis itu. Sudah pasti keresahan dan kekecewaan membaluti hari-hari keluarga tersebut.  

Apa jadinya?

Beku, dingin, retak, lalu pecah.

Ada suami yang selalu menundukkan pandanganya dari lingkungan apa pun yang menurutnya makin liar mengumbar aurat, dan ia meyakininya sebagai kewajiban syariat baginya, ternyata istrinya malah malas betul untuk keluar rumah dengan berjilbab. Argumennya nanti saja jika sudah bersumber dari dalam hati kesadaran untuk berjilbab, ia akan berjilbab.

Bagaimana jadinya?

Tamsil-tamsil tersebut menjelaskan dengan benderang betapa sangat prinsipilnya faktor sekufu bagi kualitas suatu rumah tangga.

Makanya Rasulullah Saw berpesan supaya kita mencari pasangan dengan ukuran utama adalah mutu agamanya. Kualitas pengetahuan agama dan sekaligus praktik amaliah syariatnya. Bukan karena kecantikan atau hartanya ataupun nasabnya sebagai opsi-opsi sekundernya.

Jika kalian memilih faktor kecantikan atau harta sebagai ukuran utamanya, dapat dipastikan kalian yang ahli ibadah sulit sekufu dengannya. Perselisihan, ketaksepahaman, dan kekecewaan akan merongrong pernikahan kalian.

Bagaimana bisa sakinah, mawaddah, wa rahmah?

Penting pula saya ingatkan di sini bahwa hukum sekufu ini juga berlaku pada hal yang sebaliknya. Orang yang gemar berkata kasar akan berjumpa dengan sosok sejenis. Mereka yang gemar dugem akan berpasangan dengan sejenisnya. Mereka yang memandang shalat sebagai kegiatan sia-sia akan berjumpa pula dengan sosok yang juga sanggup mengolok-olok shalat. Dan seterusnya. Sekufu sungguh-sungguhlah adalah cermin siapa kita.

Kalau ada orang ahli maksiat yang berkata, “Jika hukumnya begitu, lalu bagaimana saya akan mendapatkan pasangan yang saleh yang bisa mengimami saya pada kesolehan dan kebaikan?”

Mestinya pertanyaan tersebut diterapkan pada dirinya, bukan ke luar. Artinya, itu mestinya ia gerakkan untuk memperbaiki kualitas dirinya dulu, iman dan amaliahnya, agar ia suatu hari menjadi pantas untuk bersanding dengan orang saleh yang akan mengimaminya.

Seorang ahli shalat jamaah di masjid jelas mustahil akan menikahi seorang ahli dugem yang selalu memamerkan auratnya.

Seorang lelaki yang saleh yang memandang Allah sebagai penentu segalanya bagi kehidupan manusia mustahil bersanding dengan seorang perempuan liberal yang bersikukuh pada nalar rasionalnya bahwa penentu jaya tidaknya ekonomi sebuah rumah tangga adalah berkat kecerdasan dan kegigihannya bekerja.

Maka bagi kalian yang beriman dengan sesungguh-sungguhnya iman yang sedang menimbang-nimbang calon pasangan wajib hukumnya untuk memilih calon yang sekufu dalam hal mutu agama dan amaliahnya. Berdasar pilihan sekufu inilah masa depan rumah tangga kalian ditentukan.

Oleh: Edi AH Iyubenu.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan