Ini Lho Asyiknya Menjomblo Sampai Menikah

Ketika disebut sebagai jomblo, banyak banget yang seolah harga dirinya jatuh, martabatnya runtuh, dan malu. Apalagi bagi kalangan anak muda, sebutan jomblo sepertinya menjadi aib baginya. Apalagi kalau cewek, jomblo bisa dianggap menjadi musuh baginya, karena si cewek menganggap dirinya tidak laku dan jika tidak laku dia akan beranggapan bahwa dirinya kurang seksi, kurang cantik, dan macam-macamlah pikirannya.

Maka sangatlah wajar, jika banyak anak muda yang pada akhirnya alergi dengan sebutan jomblo. Akibatnya, banyak anak muda dengan berbagai cara, melakukan pencarian pasangan yang disebut pacar, berarti predikat ‘nggak laku’ itu sudah resmi lepas darinya.

Aneh banget emang. Banyak orang yang bangga dengan maksiat, sementara yang mencoba untuk berhati-hati dari dosa, malah merasa minder dan dirinya tercela. Ini kan sudah terjungkir balik namanya.

Pacaran yang di dalamnya sudah jelas sangat rentan terhadap pelanggaran, terhadap pergaulan yang diatur oleh agama. Sementara jomblo, single, atau apapun namanya, dalam arti menjaga diri untuk tidak pacaran sampai menikah, malah dianggap sebagai sebuah hal yang tabu.

Secara logika, kenapa malu? Wong kita kan tidak berbuat kesalahan. Mengapa harus minder, bukankah dengan menjomblo berarti kita telah berupaya menghindar dari perbuatan yang salah. Padahal harusnya para jomblo itu bangga dengan kejombloannya, biar orang-orang tertarik terus ikut menjadi golongan jomblo sampai nikah.

Kemaksiatan dianggap gaul dan keren, karena para pelakunya pada bangga dengan perilaku maksiatnya. Sementara berbuat kebenaran dianggap tabu, karena para pelakunya malu-malu melakukannya dan minder untuk mengakuinya.

Ada seorang bapak bilang kepada anak perempuannya, “Nak, jomblo adalah status paling terhormat sebelum menikah. Jangan ikut-ikutan temanmu yang nekat pacaran. Masa muda jangan dihabiskan dengan dosa.”

Terus apa bedanya jomblo dan single?

Bedanya adalah single itu prinsip, jomblo itu nasib, hahaha ….

Oke kita bahas mengenai jomblo dan single. Single atau jumbo?

“Saya single mas, bukan jomblo.”

Nggak usah menghibur diri sendiri dengan beda-bedain single sama jomblo segala. Sama aja, kagak punya pacar, hehe.”

“Lho, beda mas jomblo itu nggak laku. Sedangkan single itu pilihan hidup.”

“Udah, nggak usah galau pake beda-bedain gitu. Ikhlasin ajaa, hehe.”

“Kok malah ngeledekin jomblo sih mas, bukannya mendukung?”

“Bukan ngeledekin, Cuma mau ngeyakinin, single atau jomblo sama-sama lebih baik daripada pacaran. Kalian sih, mudah banget iri sama teman yang ke sekolahan sama pacar, pulang kuliah dijemput pacar, malem minggu keluar sama pacar. Padahal yang seperti itu mah nggak pantas diiriin.”

Irilah kepada anak muda yang lebih luas ilmunya, lebih hebat prestasinya, lebih luas manfaatnya. Irilah pada mereka yang lebih tekun ibadahnya, lebih semangat belajarnya, dan lebih tinggi impiannya.

Masa mudah terlalu sayang jika dibuang sia-sia. Masa muda itu masa yang penuh potensi. Kita punya peluang meraih yang lebih lagi, dengan kekuatan yang ada dalam diri kita. Jangan sampai semua karunia itu hilang sia-sia hanya karena ketidakmampuan kita dalam menggatur dan mendayagunakannya.

Jomblo hanyalah pernikahan yang tertunda, maka bukan berarti kalian tidak laku.

Ada juga manfaat menjadi jomblo sebelum nikah, ada banyak sekali manfaat yang bisa dinikmati oleh orang-orang yang mencoba bertahan sejenak untuk tidak pacaran hingga dia menikah. Saya akan bahas beberapa untuk menguatkan tekad kamu untuk menikmati kejombloan hingga saat yang indah tiba, yakni pernikahan.

Emang apa saja manfaat menjomblo itu?

Satu. Dengan menjomblo, kamu punya banyak waktu untuk memikirkan hal-hal yang lebih penting bagi masa depan. Banyak yang waktunya, hari-harinya, masa mudanya ludes untuk memikirkan persoalan bersama pacarnya.

Banyak orang yang detik demi detik usianya dihabiskan untuk memikirkan pacar yang lagi ngambek, memikirkan pacarnya sekarang lagi apa, dan lain-lain. Sementara jomblo, punya banyak peluang untuk mengisi hari-harinya lebih produktif.

Dua. Dengan menjomblo, kita bisa terhindar dari sakit hati. Banyak kan yang saat pacaran, dia mudah sekali merasa sedih dan sakit hati, karena dikecewakan oleh orang yang dicintainnya.

Terkadang persoalan sepele saja membuatnya sakit hati. Pesan nggak dibalas, ngambek. Sehari tidak menelpon sama sekali, sebel. Lupa hari ulang tahun, marahan. Sementara si jomblo santai saja menikmati hari-harinya, tanpa perlu dikecewakan oleh persoalan seperti itu.

Tiga. Jomblo tidak harus wajib lapor. Banyak yang pacaran lalu overprotektif pada pacarnya. Tiap menit ditanya lagi di mana, lagi ngapain, sama siapa? Banyak yang pada akhirnya capek sendiri dengan cara pacaran seperti itu.

Sementara si jomblo, bebas saja mau ngapain, mau kemana, sama siapa. Tidak perlu laporan tiap menit. Bukankah hidup seperti itu lebih menyenangkan bagi para lajang?

Empat. Dengan menjomblo kamu lebih mudah melatih kemandirian. Pasti banyak dari kita yang mengamati fenomena remaja pacaran di sekitar kita. Ada yang tidak kunjung makan kalau tidak ditemani pacarnya.

Tidak kunjung berangkat sekolah atau kampus jika tidak dijemput pacarnya. Ke mana-mana terasa enggak enak kalau tidak sama pacarnya. Tentu ini menjadikan kebergantungan pada hal yang negatif. Sebaliknya saat kita jomblo, kita akan melakukan semua hal itu sendiri dan tentunya membuat kamu lebih mandiri.

Lima. Dengan menjomblo kamu juga bisa lebih menghemat pengeluaran. Biasalah, ketika pacaran banyak yang rela merogoh kocek dalam-dalam hanya untuk membeli pulsa karena tiap saat harus nelpon pacar, harus rajin memberi hadiah, atau yang paling sering kudu hobi mentraktir pacar.

Pengeluaran juga semakin menggemuk karena saat pacaran, kamu terlalu memperhatikan penampilan dan itu butuh biaya yang tak kecil. Tentu saja berbeda dengan si jomblo.

Dengan menjomblo, kamu bisa menabung untuk masa depan. Tentu lebih hemat dan bermanfaat bukan?

Jika memang cinta, jangan buat dia menderita. menderita di dunia karena sudah membuatnya menunggu terlalu lama. Menderita di akhirat karena sudah membuatnya tersiksa di ganasnya neraka. Apakah kamu tidak pernah memikirkannya?

Oleh: Tim Trenlis.co

Referensi:

Rif’an, Ahmad Rifa’i. Jomblo Sebelum Nikah. Jakarta: Quanta

Suwiknyo, Dwi. Ubah Patah Hati Jadi Prestasi. Jakarta: Javalitera

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan