Ini Lho Bedanya Ta’aruf dengan Pacaran

Dalam menjemput jodoh, ada banyak cara yang bisa dilakukan. Bisa dengan dijodohkan, ta’aruf atau langsung melamar bila sudah kenal dengan baik sebelumnya. Ada juga orang yang memilih pacaran.

Tapi dalam hal menjemput jodoh, penulis tegaskan kalau pacaran tidak termasuk di dalamnya. Sebab memang tujuan awal seseorang pacaran bukanlah untuk mencari jodoh. Seseorang memulai pacaran biasanya disebabkan dorongan perasaan yang mereka sebut dengan ‘jatuh cinta’. Terlepas dari semua cara dalam menjemput jodoh, kamu harus tahu nih apa perbedaan ta’aruf dan pacaran?

Pacaran itu akhirnya tidak jelas, sedangkan ta’aruf harus ada akhir yang jelas

Siapa yang tahu kalau pacarmu kelak akan menjadi jodohmu seumur hidup? Tidak ada bukan? Lagi pula kebanyakan orang yang menjalani pacaran, tidak membuat rencana masa depan yang terperinci. Kapan akan bertunangan, dan kapan akan menikah. Yang penting jalani saja dulu. Endingnya ketemu nanti saja.

Orang yang tahun sekian akan merencanakan pernikahan bersama sang pacar saja, masa depan hubungannya belum pasti. Apalagi mereka yang pacaran dengan prinsip ‘jalani saja dulu’. Berbeda dengan ta’aruf. Ta’aruf tidak boleh ada keputusan menggantung. Setelah saling mengenal satu sama lain, keduanya harus segera memutuskan untuk lanjut atau tidak.

Pacaran = berdua-duaan. Ta’aruf = harus ada dampingan

Berdua-duaan sudah merupakan konsumsi sehari-hari bagi mereka yang menjalani hubungan pacaran. Kalau membawa teman, justru dianggap sebagai nyamuk pengganggu. Sebab obrolan dalam pacaran tidak lepas dari rayuan, bermesraan, pujian dan sejenis kata-kata gombal lainnya.

Sedangkan pembicaraan dalam ta’aruf itu terarah. Dalam rangka mengenal satu sama lain, jadi inti dari pembicaraan adalah tanya-jawab. Justru kalau tidak ada dampingan, obrolan dikhawatirkan akan melenceng dari tujuan utama ta’aruf. Atau takutnya salah satu pihak merasa malu untuk bertanya, sehingga harus bertanya melalui orang lain.

Pacaran, bikin sakit hati. Ta’aruf, berakhir kepastian

Kalau pacaran putus, yang tersisa hanyalah penyesalan. Kamu bisa menyesal karena telah jatuh cinta dan menjalin hubungan dengan dia kalau endingnya baru berakhir perpisahan. Bahkan kamu bisa menyesal karena telah mengenal dia. Hubungan berakhir, yang tersisa hanya sakit hati tak kunjung sembuh. Dalam proses pacaran, juga lebih banyak sakit hati daripada bahagianya. Antara sakit hati dan kebahagiaan tidak berimbang.

Berbeda dengan ta’aruf, karena jalan yang ditempuh dalam rangka menjaga hati. Agar hati tidak tertipu oleh cinta sesaat. Bagi seorang muslim sejati, cinta yang muncul di luar ikatan suci berpotensi untuk menjadi jerat setan untuk bermaksiat. Ta’aruf juga sebagai jalan untuk menjaga hati dari risiko patah hati. Karena dalam menjalani ta’aruf, hasil tetap sepenuhnya berjalan sesuai kehendak Allah. Dan kamu dituntut untuk ikhlas menerima apa pun hasilnya.

Pacaran: atas nama cinta sesaat. Ta’aruf: upaya halal untuk menjemput cinta yang sebenarnya

Sebagaimana yang sudah penulis jelaskan sebelumnya, alasan seseorang pacaran ialah untuk memenuhi hasrat hati yang muncul. Orang menyebutnya dengan istilah ‘jatuh cinta’. Kalau tidak diawali jatuh cinta di salah satu pihak, hubungan pacaran tidak akan dimulai. Sebab mudah sekali berubah, hati yang awalnya dipenuhi bunga-bunga cinta bisa berubah. Hati bisa tiba-tiba dipenuhi duri kebencian dengan sebab tertentu. Makanya penulis tegaskan, cinta itu hanya sesaat. Sebab hati mudah sekali berubah. Dan cinta seperti itulah yang ada dalam hubungan pacaran.

Berbeda dengan ta’aruf. Yakni perkenalan tidak diawali dengan ikatan emosi sejenis ‘jatuh cinta’. Tujuan ta’aruf justru kebalikan dari pacaran; agar kedua pihak saling mengenal. Untuk selanjutnya diharapkan tumbuh bibit-bibit cinta yang bisa disemai dalam ikatan pernikahan yang sudah pasti halalnya. Sebelum kalimat sakral akad-nikah terucap, cinta itu belum boleh tumbuh. Wajarnya hanya sebatas saling mengagumi saja.

Ta’aruf adalah proses halal menuju ikatan sakral. Pacaran hanya ikatan yang semu tanpa kepastian

Ta’aruf dilaksanakan jelas untuk menuju ikatan pernikahan. Ta’aruf merupakan proses pengenalan dua orang yang tidak saling mengenal, bila keduanya sepakat, bisa melangsungkan khitbah kemudian pernikahan.

Proses ta’aruf juga berlangsung cepat, tidak bertele-tele. Dan pernikahan merupakan ikatan yang sakral. Hanya terdiri dari beberapa rukun, tapi nampu mengubah yang haram menjadi halal. Mengubah yang halal menjadi haram.

Sedangkan pacaran hanya sebuah ikatan yang sangat rentan pada kata putus. Ada konflik sedikit saja langsung mudah sekali kata putus terucap. Ada salah paham sedikit, rasanya keputusan untuk putus bisa menjadi pilihan yang terbaik. Sudah jelas bukan, kalau pacaran hanya ikatan yang rentan dan tanpa kepastian.

Pacaran bisa berkedok ta’aruf, sedangkan ta’aruf tidak bisa disamakan dengan pacaran

Nah, ini nih yang paling krusial. Sekarang ini banyak istilah yang diplesetkan seakan-akan berlabel syari’ah. Isinya pacaran, tapi dibilang ta’arufan. Ada juga mereka yang menyebut dengan istilah pacaran Islami. Ini nih yang bisa membuat kamu yang baru belajar Islam mudah terkecoh.

Pacaran berkedok ta’aruf itu, katanya pacaran, tapi isinya telponan setiap saat. Mengingatkan untuk shalat, mengaji Al-Qur’an, bahkan membangunkan ketika hendak shalat tahajud. Panggilannya juga tiba-tiba sok kayak sudah suami istri yakni abi-ummi. Isi ta’aruf bukanlah semacam itu. Itu namanya pacaran berkedok ta’aruf. Kata mereka, itu pacaran Islami. Kalau ta’aruf jelas tidak bisa berkedok pacaran. Tidak ada pacaran Islami.

Itulah perbedaan antara ta’aruf dengan pacaran. Jelas berbeda bukan? Jadi jangan sampai maknanya menjadi kabur dan diplesetkan. Agar nanti hubunganmu dengan dia dipenuhi rahmat Allah swt. Oke?

Oleh: Gafur Abdullah.

Tinggalkan Balasan