Ilustrasi dari islamidia.

Ini Lho Manfaatnya Tadarus Al-Quran Setiap Hari

Bukan karena ramadhan telah datang maka ajakan tadarus diserukan. Bukan karena semata mengisi kesibukan maka tadarus perlu dilakukan. Jauh lebih dari itu, selain karena memang ada perintah langsung dari Allah Swt untuk membaca Al-Quran. Juga karena Rasulullah Saw telah memerintahkan kita agar memperbanyak amalan membaca Al-Quran.

Sungguh di dalam membaca Al-Quran terdapat banyak sekali hikmah yang kadang kita sendiri tidak menyadarinya.

Momen ramadhan yang penuh berkah ini sangat tepat apabila kita meningkatkan amalan membaca Al-Quran. Berkah Allah ibarat air hujan yang diturunkan dengan sangat lebat di bulan ini. Kekuatan diri untuk beribadah kepadaNya seakan menjadi berlipat-lipat.

Terlihat masjid dan musala selalu ramai oleh jamaah yang beribadah. Baik ibadah salat, tadarus, maupun pengajian rutin. Dalam tadarus banyak hikmah yang dapat kita dapatkan. Namun sayang, sering kali kita tidak menyadarinya, bahkan sering kali kita mengabaikannya.

Apa saja hikmah tadarus, khususnya yang dilakukan secara berjamah? Simaklah ulasan berikut ini:

Memperoleh pahala yang besar.

Janji Allah Swt adalah sebaik-baiknya janji. Allah tidak akan pernah mengingkari janjiNya. Termasuk dalam urusan pahala, meskipun itu adalah hakNya dalam memberi ganjaran kepada setiap amal perbuatan makhlukNya, namun sering kali Allah memberi “bocoran” kepada kita. Tak lain tak bukan agar kita semakin semangat beribadah kepadaNya.

Namun, semoga semangat kita bukan karena ingin memperoleh pahala dariNya semata, lebih dari itu semangat kita adalah semata demi mengharap ridho Allah Swt.

Nah, bagaimana dengan tadarus kita bisa memperoleh pahala yang besar? Pertama, jelas bahwa tadarus atau dalam bahasa lain membaca Al-Quran adalah ibadah yang diperintahkan oleh Allah. Tidak ada perdebatan mengenai hal tersebut. Tidak ada yang mengatakan bahwa membaca Al-Quran adalah adalah bid’ah.

Maka kita pun harus yakin bahwa membaca Al-Quran merupakan salah satu amal ibadah yang akan dicatat sebagai amal sholih. Rasulullah SAW mengatakan bahwa dalam membaca Al-Quran akan diberi pahala satu huruf satu ganjaran. Di dalam satu ganjaran itu terdapat sepuluh kebaikan.

Jika kita melaksankan dalam bulan Ramadhan seperti saat ini maka amal perbuatan kita akan dilipatgandakan sampai 700 kali. Besar bukan pahala yang akan kita peroleh? Itu adalah versi matematika manusia.

Bagaimana sesungguhnya pahala yang akan kita peroleh? Kita serahkan sepenuhnya kepada Sang Pemberi Pahala. Dia memiliki penghitungan yang jauh lebih hebat dari hitungan matematis kita.

Mempererat persaudaraan.

Tadarus berjamaah dalam hal ini adalah tadarus yang dilakukan secara berkelompok, beberapa orang sekaligus. Satu orang membaca, orang lain menyimak. Kebersamaan ini tentu akan sangat mudah menjadi media mempererat persaudaraan.

Kebersamaan dalam beribadah kepada Allah Swt sangatlah dianjurkan. Dengan seringnya berkumpul bersama orang lain maka akan lebih mempererat persaudaraan di antara kita. Bahkan dengan majelis tadarus Al-Quran ini sangat memungkinkan terjalin sebuah persaudaraan lintas generasi maupun lintas strata sosial.

Lintas generasi sangatlah mungkin terjadi mengingat dalam kegiatan ini akan diikuti baik anak-anak, remaja maupun orang dewasa. Sungguh merupakan hal yang sangat indah jika dapat terus dilaksanakan tidak hanya ketika ramadhan tiba saja.

Lintas strata sosial juga akan mudah terjadi. Orang yang memiliki kedudukan tinggi di masyarakat maupun di pemerintahan akan tetap duduk bersama dalam posisi yang sama dengan jamaah lain yang tidak memiliki kedudukan di pemerintahan.

Belajar berlapang dada.

Ini adalah hal menarik yang sering terlupakan manakala kita melakukan tadarus secara berkelompok. Dalam tadarus berkelompok ini satu orang membaca dan orang lain menyimak. Ketika si pembaca melakukan kesalahan maka para penyimak berkewajiban membetulkan bacaan si pembaca.

Bagi pembaca, apabila bacaannya salah dan dibetulkan oleh anggota kelompok yang lain maka harus menerima dengan lapang dada. Tidak boleh merasa marah atau kecewa. Terlebih jika kasusnya orang yang lebih tua dibenarkan bacaannya oleh remaja. Atau bahkan seorang pejabat yang bacaannya salah lalu dibetulkan oleh seorang warga masyarakat biasa.

Jika hal seperti ini dapat dimaknai secara mendalam maka kita akan memperoleh hikmah yang luar biasa. Keluasan hati menerima masukan dari orang lain tanpa memandang status sosial mereka, usia mereka bahkan hal lain yang sering menjadi pembeda di antara kita.

Hal positif yang apabila dapat kita ambil hikmahnya, lalu kita aplikasikan dalam hidup kita akan menjadi sangat bermanfaat tidak hanya bagi diri kita pribadi tentu akan sangat bermanfaat bagi orang lain pula.

Berani menyerukan kebenaran.

Para penyimak dalam kegiatan tadarus berkelompok ini adalah pengontrol keadaan dan kebenaran. Bagaimana bisa? Ketika ada bacaan yang salah mereka bertugas untuk memperingatkan sekaligus membetulkan bacaan sehingga makna ayat yang dibaca menjadi benar sesuai aslinya.

Nah, tugas ini berat. Tidak semua orang mampu dan mau melakukannya. Mau adalah syarat pertama untuk dapat menjadi penyimak yang baik. Tidak semua orang mau menjadi penyimak yang baik dalam kegiatan ini. Ketika bukan gilirannya membaca, seringkali yang harusnya menyimak bacaan malah banyak berkegiatan yang lain. Memainkan jari pada layar gawai adalah hal yang sering terjadi pada masa-masa saat ini.

Mampu adalah syarat kedua. Dalam hal mampu ini berkenaan dengan kemampuan seseorang membetulkan bacaan yang salah. Nah dalam hal ini seorang tidak akan dianggap mampu jika belum mengetahui ilmu tajwid misalnya. Minimal itulah ilmu yang harus dikuasai sehingga dalam tadarus berkelompok ini kita bisa berperan sebagai penyimak yang baik sekaligus membetulkan bacaan yang salah. Jangan sampai yang terjadi adalah malah menyalahkan bacaan yang sudah benar. 

Menghormati dan menghargai orang lain.

Sedikit hal mengenai hikmah keempat ini sudah ada pada hikmah ketiga di atas. Menghargai dan menghormati orang lain dalam tadarus berkelompok ini sangatlah penting untuk dilakukan. Ketika tiba giliran kita menjadi pembaca maka tugas membaca sesuai dengan kesepakatan harus dilakukan.

Misal satu orang membaca sebanyak satu ruku’. Baik sudah lancar maupun masih plegak-pleguk semua harus taat akan konsensus ini. Jangan sampai mentang-mentang sudah lancar, bacaan bagus terus membacanya setengah juz.

Kawan lain dalam kelompok akan merasa bosan kalau seperti itu. Hal itu dapat dikatakan sebagai sebuah hal yang tidak tahu diri. Meremehkan orang lain. Egois. Lebih parah lagi apabila bacaan belum lancar, banyak salahnya tetapi merasa lancar dan benar sehingga menerjang konsensus satu orang satu ruku’ tadi. Dijamin jamaah akan sangat muak adanya.

Dari segi penyimak, menghormati dan mengahargai orang lain harus diterapkan dengan menjadi penyimak yang baik. Jangan bermain gawai sendiri, jangan berbicara dengan kawan yang lain, jangan pula mengacuhkan si pembaca.

Selain karena hal-hal tersebut menunjukkan bahwa kita tidak menghormati dan menghargai orang lain, tetapi kesempatan kita memperoleh apresiasi Allah sebagai orang yang mau mendengarkan bacaan Al-Quran akan terlewat begitu saja.

Sungguh banyak hikmah di balik amalan yang sangat mulia ini. Semoga di bulan suci yang penuh keberkahan ini kita mampu memaksimalkan diri untuk senatiasa membaca ayat-ayat Allah, memahami makna-maknanya, mengaplikasikan dalam kehidupan kita.

Adapun hikmah lain yang terurai dalam tulisan ini semoga dapat kita pahami, kita terapkan dalam kehidupan yang lebih luas sehingga membawa keberkahan bagi hidup kita.

Allahummarhamna bil quran.

Oleh: Murwantara.

Tinggalkan Balasan