AKU mau cerita tentang pengalamanku dulu saat kanker (kantong kering) atau tongpes (kantong kempes). Apakah itu artinya sekarang tidak? Ha..ha enggak juga. Sekarang masih sih tetapi tidak sesering dan separah dulu. PD.

Ya, ini kisah zaman kuliahku dulu. Waktu itu, aku memiliki seorang teman yang indekos di dekat kampus. Namanya Agus. Dia bukan berasal dari Yogyakarta. Meskipun katanya, orangtuanya berasal dari Prambanan dan Kulon Progo. Namun saat dia lahir, dia berada di Lampung, Sumatera.

Sebagai mahasiswa perantauan, hidupnya harus serba diirit. Sebenarnya tidak cuma Agus, hidupku juga harus irit. Memang keadaanku tidak kaya-kaya amat. Malah kalau mau menggunakan istilah sarkasme, keadaanku pas-pasan. Serius pas-pasan.

Saat membutuhkan uang jajan, pas orangtua tidak punya duit. Saat membeli buku, pas orangtua belum punya uang. Saat ditagih uang kuliah, pas orangtua belum ada rezeki. Pokoknya hidupku pas-pasan banget deh. Itulah mengapa aku cocok berteman dengan Agus. Karena kami sama-sama senasib dan sama-sama kere. Piss, Gus.

Aku sering tidur di indekos Agus sebab itu salah satu caraku menghemat pengeluaran, terutama naik bus pulang pergi ke Bantul. Mending uang naik bus untuk makan kan? Lagian Agus tidak keberatan kok, aku menginap di kosnya. Kami gantian mentraktir. Pas giliran Agus mendapat kiriman, dialah yang mentraktirku makan. Pas aku punya uang lebih, akulah yang membayari makanannya. Jadinya gantian deh.

Kos Agus dekat dengan warung. Jadi kalau kami berjalan beberapa meter saja, langsung deh sampai warung tersebut. Biasalah warung di indekos mahasiswa, itu ya lauknya ala kadarnya. Lauk yang paling mentereng dan dahsyat kala itu, ya ayam dibacem. Itu pun terbeli di saat tanggal muda. Nasib, nasib.

***

Hari itu tanggal tua di bulan Juli. Aku dan Agus sama-sama tidak memiliki uang. Kami mencoba main ke tempat kos putri. Datengin teman di sana, siapa tahu ada yang bisa kami makan. Ha..ha. Nguris (Serakah makan) banget, ya? Entahlah. Yang jelas kalau tidak ada makanan di kos mereka, minimal kami terhibur dengan candaan mereka.

Eh, namanya apes itu ternyata ada temennya. Teman-teman cewek kami ternyata nasibnya sama, belum dapat kiriman dari orangtua. Tiba-tiba ….

“Yuk, Lis ngamen!” ajak Agus tanpa dosa.

Ngamen? Gila. Tapi ini menarik, perlu dicoba. Lagian Agus bisa bermain gitar dan suaranya pun merdu. Jadi apa salahnya? Apalagi tugasku hanya menjadi bendahara, meminta uang setoran. Wkwk.

“Di mana?” tanyaku mulai tertarik idenya.

“Di alun-alun utara saja. Sekarang kan baru liburan, pasti banyak bus di sana.”

Aha. Betul juga. Ide yang cerdas dan menantang.

Siang itu juga Agus cepat-cepat mengambil gitar di kosnya. Sementara aku masih menunggunya di kos cewek sambil sesekali bercanda. Sialnya, para cewek ini ternyata matre juga. Bukannya kasihan kami mengamen, eh mereka malah mendorong kami penuh semangat.

“Iya, sana ngamen. Nanti nraktir kami bakso atau mie ayam,” teriak Sri, salah satu teman cewek kami.

Busyet. Ternyata kami semua kere dan kelaparan.

Beberapa saat kemudian, Agus datang. Syukurlah, tidak makan waktu lama. Aku terselamatkan oleh spesies yang gragas.

***

Setelah berpamitan dengan teman-teman kami–tentu tidak pakai cipika cipiki–aku dan Agus meluncur ke alun alun kota. Kami ke alun–alun dengan naik bus kota. Kebetulan ada bus yang melewati sana. Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Seperti mestakung, semesta mendukung. Mudah saja ke sana.

Bermodal beberapa lembar uang ribuan, kami naik bus. Di bus kota ini kami tidak mendendangkan lagu sebab bukan di bus kota target kami. Lagian kalau menyanyi di bus kota, jangan-jangan tidak ada yang memberi. Zaman dulu tidak ada trend menyanyi di bus kota. Kalau pun ada, kami berpendapat, pasti tidak seberapa jumlah uangnya.

Ya, di bandingkan di bus wisata. Di bus wisata kan, banyak anak sekolah tuh, nah biasanya mereka membawa cukup uang untuk bersenang-senang. Dan pasti mereka tidak keberatan kalau “menyedekahkan” sedikit rezekinya. Kalau pun di bus wisata tidak berhasil, kami mesti memasang tampang galak atau sangar, biar mereka takut dan memberi uang sebanyak-banyaknya. Ha..ha modus.

Bus melaju dengan cukup kencang dan lancar. Hanya butuh waktu 20 menit untuk tiba di alun-alun. Sesampai di alun-alun, kami melihat banyak bus besar antar kota yang terparkir. Hum, bakal kaya mendadak nih, batinku.

“Gus, turun sini saja,” usulku.

Agus mengangguk.

Kami turun dari bus kota dan mulai berjalan ke alun-alun. Satu, dua, tiga, empat dan lima. Ada lima bus wisata di alun-alun.

“Yang mana dulu, Gus?” tanyaku.

“Bus ini dulu saja,” jawabnya.

Kami masuk ke bus berwarna hijau. Di dalam bus itu banyak siswa, tampaknya siswa SMP. Pasti banyak nih penghasilannya, sebab banyak siswa yang di dalam bus.

“Selamat siang. Perkenankan kami menghibur adik-adik semua.” Begitu opening-ku.

Dengan sigap Agus, mulai memetik gitar dan bernyanyi. Beberapa siswa masih cuek bebek. Ada yang masih ngobrol. Ada yang masih membetulkan kaos. Namun ada yang duduk manis dan memerhatikan kami. Ah, bodo amat yang penting mereka memberi uang. Ih, jahat banget ya aku waktu itu? Ha..ha.

Suara Agus yang merdu mulai mengalun. Beberapa kali aku menimpali lagunya. Waktu itu kami menyanyikan lagu dari Naff “Akhirnya aku menemukanmu.” Lagu hampir selesai. Aku segera mengeluarkan plastik kresek. Kemudian aku merangsek ke belakang sebab masih ada anak yang berdiri di tengah.

“Permisi, permisi. Arisan arisan,” teriakku mengingatkan.

Uang lima ratus, seribu mulai masuk ke kresek. Tak lupa senyum manis selalu tersungging di bibirku. Agus masih genjrang-genjreng. Sampai di belakang bus, aku kembali ke depan lagi. Plastik kresek yang kubawa terasa lebih berat. Pasti banyak, batinku.

“Terima kasih adik-adik. Semoga perjalanan adik-adik menyenangkan dan selamat sampai di rumah,” ucapku menutup perjumpaan kami di bus.

“Amin,” jawab para siswa di bus hampir berbarengan.

Aku dan Agus segera turun bus.

“Piye, Lis?” tanya Agus sambil matanya melirik ke plastik kresek.

“Lumayan, Gus.”

Agus pun tersenyum. Kemudian kami melangkah ke bus selanjutnya. Bus warna pink. Kami masuk ke dalam bus. Bus ini keadaan lebih berantakan. Jaket tergeletak di kursi. Terus beberapa makanan tergantung di besi jendela. Belum bagian belakang terlihat gelap. Ah, bus ini terasa kontras dengan luarnya yang cerah.

Seperti di bus pertama, aku mengawali dengan salam. Dilanjutkan Agus memetik gitar dan mengalunkan sebuah lagu. Di penghujung lagu, aku kembali berjalan ke belakang bus sambil menyodorkan plastik kresek. Beberapa siswa hanya melambaikan tangan tanda absen (baca: tidak memberi).

Ah, ini tidak semeriah yang tadi, gerutuku. Tak apalah masih banyak bus yang parkir di alun alun. Bus dua sudah, lanjut ke bus tiga. Masih menggunakan formula yang sama; say hello, genjrang ngenjreng dan meminta uang.

“Gimana, Gus? Lanjut?” tanyaku saat turun dari bus ketiga.

“Dapat uang berapa?”

“Lumayanlah. Kalau untuk beli bakso dan nraktir cewek-cewek cukuplah,” jawabku.

“Ya, sudah. Pulang aja yuk, besok lagi,” ajak Agus.

Setelah sang vokalis menyudahi konsernya, aku mau bisa bilang apa. Toh, yang berperan di sini dia.

Akhirnya, kami pulang dan menuju ke indekos para kaum hawa. Di sana, ternyata sudah menunggu para bidadari indekos. Ada Sri, Yayuk dan Elok yang duduk manis di ruang tamu kos. Sri menyambut di depan kos.

“Pesan, bakso ya, Lis?” pinta Sri sedikit manja.

“Piye, Gus?” Aku minta pendapat Agus.

“Ora masalah,” jawab Agus singkat.

Sore itu, kami memesan lima bakso yang lewat depan kos.

“Besok ngamen lagi ya kalau bokek,” seloroh Sri.

Kami hanya tertawa. Sementara bakso dengan tertib masuk satu per satu ke mulut.

Ternyata di saat kepepet, ada saja ide yang muncul. Mungkin benar adanya the power of kepepet. Di saat kantong kering, muncul saja ide untuk mengamen. Namun begitulah, kami pernah merasakan bagaimana menjadi seorang pengamen hanya untuk semangkuk bakso.

Tanpa perasaan bokek, bisa jadi kami tidak punya pengalaman mengasyikkan menjadi pengamen di bus wisata. Ya, itu hanya salah satu solusi kami di saat kondisi keuangan terpuruk. Namun paling tidak kondisi itulah yang membuat ide kreatif muncul dan kemampuan menyanyi Agus terasah.

Selalu saja ada hikmah di saat kondisi yang tidak mengenakkan. Tinggal kita menyikapinya saja; apakah menyerah ataukah bangkit dan mengatasinya. Itulah ceritaku bagaimana dengan ceritamu?

Oleh: Jack Sulistya.

Gambar ilustrasinya dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: