Inikah Alasan Kamu Suka Menunda Sesuatu?

Masa muda seringkali membuat kita terlena. Anggapan bahwa kita mempunyai cukup waktu untuk menemukan banyak kesempatan baru, membuat kita terpenjara dalam kebiasaan menunda. Hal ini berbanding terbalik dengan keyakinan kita terhadap berharganya waktu, sementara sesungguhnya ada banyak hal baik yang bisa kita lakukan sekarang tanpa tapi dan nanti. Kebiasaan menunda amatlah berbahaya, ia menumbuhkan rasa malas dan sangat mungkin membuat kita kehilangan kesempatan emas. Tetapi, jangan khawatir: pahami penyebabnya, kita cari obatnya!

Menunggu Sempurna

Apakah sempurna itu syarat mutlak untuk melakukan sesuatu? Memang, kita tidak ingin gagal dalam melakukan sesuatu, tetapi sempurna adalah hal yang nyaris tidak mungkin. Kita lupa bahwa ketika memulai sesuatu, tentu ada hal yang belum kita punyai yaitu pengalaman. Menunggu sempurna justru membuat kita tak akan memulai, cobalah untuk memulai sesuatu dengan standar minimal, pengalaman akan memberi kita pelajaran yang membuat kita berproses mencapai sempurna. Eitss, tapi bukan berarti kita memulai sesuatu tanpa persiapan ya!

Mental Block

Selain menunggu sempurna, biasanya kita dihalangi oleh pikiran kita sendiri. Merasa malu, merasa tidak pantas melakukan sesuatu juga merasa belum tepat untuk mengambil kesempatan baik. Dari sinilah, muncul perasaan tidak percaya diri bahkan rendah diri. Sebagai contoh, kita hendak mendaftar seleksi beasiswa. Belum sampai mengumpulkan berkas dan mendaftar, kita sudah merasa tidak layak diterima hingga memutuskan tidak jadi mendaftar. Sikap seperti ini termasuk dalam mental block, menjadi hakim bagi diri sendiri.. Tim seleksi bahkan belum memberikan penilaian, kenapa kita malah lebih dulu menilai diri kita?

Mengkhawatirkan yang Belum Terjadi

Imajinasi manusia memang luar biasa, tetapi terkadang ia bekerja di saat yang tidak tepat. Saat hendak memutuskan mengambil sebuah kesempatan, imajinasi kita bermain. ‘Bagaimana kalau nanti begini? Apakah nanti bisa begitu?‘Apakah nanti di sana aku akan baik-baik saja?’ dan pertanyaan lain yang biasanya mengarah pada rasa takut akan kondisi serba tidak pasti.

Di saat seharusnya kita melakukan persiapan untuk hal yang kita kerjakan, alih-alih kita diam di tempat hanya karena terlalu banyak memikirkan hal yang belum tentu terjadi. Apakah yang kita khawatirkan pasti terjadi? Berapa persen kemungkinan itu terjadi? Tenang saja, selalu ada kata kerja bernama ‘antisipasi’. Tak perlu takut, persiapkan dan mintalah bantuan-Nya.

Menilai dengan Standar Orang Lain

Mungkin ini disebabkan oleh kebutuhan kita akan pengakuan. Selain itu, ada juga pengaruh dari keinginan kita untuk membuktikan bahwa kita bisa melakukan yang orang lain bisa lakukan. Tetapi, jangan lupa bahwa kita di-design sedemikian rupa unik, tak ada yang sama. Boleh jadi, seseorang diberikan modal kemampuan yang mumpuni sedangkan kita berkemampuan pas-pasan. Perbedaan itulah yang tak boleh membuat kita menyamakan standar pencapaian kita dengan orang lain. Bukan berarti karena kita tak mempunyai modal yang orang lain punya, kita menjadi tak bisa melangkah maju.  Allah menawarkan banyak jalan dan Dia Mahamelihat usaha hamba-Nya.

Merasa Mempunyai Banyak Waktu

Ini juga yang berbahaya! Meskipun kita masih muda dan punya harapan hidup yang tinggi, sesungguhnya waktu kita adalah pemberian. Memang membuang waktu bukan hal yang langsung terasa efeknya, karena kita tak benar-benar membuktikan ungkapan bahwa ‘waktu adalah uang’. Untuk orang-orang barat ungkapan itu nyata, karena mereka memang dibayar dengan acuan jam bekerja. Tapi kita bisa coba membayangkan peristiwa lampau yang pernah kita alami, kita sering sekali merasa ‘kayaknya baru aja, ya?’ Jangan lupa bertanyalah pada diri kita sendiri, apakah kita mengetahui dengan pasti jatah waktu kita?

Tidak Mempersiapkan Diri

Mungkin kita terlanjur terbiasa dengan ‘the power of kepepet’, semisal belajar malam hari sebelum ujian esok hari. Padahal, kondisi seperti ini yang bisa membuat kita kehilangan kesempatan. Jangan lupa untuk selalu bersiap mengasah skill karena keberuntungan diciptakan dari kesempatan bertemu dengan kesiapan. Sikap siaga akan membuat kita melangkah dengan yakin. Tidak terburu-buru mempersiapkan dan matang mengambil keputusan. Hingga ketika kesempatan yang baik datang, kita tak perlu menunda untuk menangkapnya.

Oleh: Hapsari T. M.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan