kisah cinta anak kuliahan yang salah

Inikah yang Namanya Cinta Terlarang?

Klik, pintu perpustakaan telah dikunci oleh petugas. Karaoke akan segera dimulai. Konsekuensi bagi yang terlambat ialah tidak bisa masuk ke ruang perpustakaan.

Stop! wait me … wait me … “ teriakku sambil berlari menuju ruangan besar tersebut.

Aku menahan geram karena terkunci seorang diri, aku menarik langkah perlahan, lalu duduk di kursi depan perpustakaan sambil melamun. Perpustakaan yang kita kenal sebagai tempat berjajarnya buku-buku di rak, kini perpustakaan yang aku kenali berbeda. Ruangan yang sangat besar ini tak hanya berisikan rak buku-buku saja. Namun juga terdapat lab dan ruang bermain tiga dimensi.

Hari ini adalah perayaan kue bulan. Pesta kue bulan adalah sajian khas Cina yang biasa dikenal dengan istilah mooncake, biasanya mooncake berbentuk bulat atau persegi. Di tengah kue, berisi kuning telur asin. Rasanya pun manis. Sialnya kali ini aku tidak bisa menikmati mooncake bersama teman-teman. Paling tidak aku harus bisa masuk ruangan itu ketika ada jeda istirahat. Hem … sabar.

Are you okay?” tanya lelaki berambut sedikit pirang dengan mata sipit dan kulit putihnya. Dia datang menghampiriku dan membuyarkan lamunan seketika.

Ah, i am so bad,”  jawabku singkat dengan pandangan yang masih lurus menatap kedua kaki yang sedari tadi kuayun-ayunkan perlahan.    

Lelaki itu duduk mengambil posisi tidak begitu jauh dariku. “Siapa namamu?” tanyanya.

Aku terkejut seraya mengangkat wajahnya, aku menoleh ke arah seorang lelaki yang mengajak berbicara. Dahiku berkerut hingga kedua alis saling bertaut, lelaki itu tersenyum menangkap keherananku.

“Saya dari Indonesia, siapa namamu?” tanyanya berulang.

“Hah? Serius dari Indonesia? Benar-benar tidak disangka. Kenalkan, namaku Nisa. Mahasiswi baru di sini. Kalau kamu?” Dengan penuh semangat aku menanggapi lelaki itu, lelaki berwajah khas Cina yang sama sekali tidak menggambarkan bahwa dia dari Indonesia.

“Iyalah … namaku Huang Ching Chuang, tapi panggil saja Keke. Aku sudah dua tahun belajar di sini. Oh ya, bagaimana bisa kamu terlambat masuk ke perpustakaan?”

“Sebenarnya aku tidak terlambat, Kak. Tadi sudah dapat tempat duduk sama Nina. Tapi aku izin keluar sebentar untuk shalat. Eh, sudah dibela-belain lari ternyata pintu terkunci,” jelasku sedikit sesal.

“Islam, ya?”

Aku melongo mendapat pertanyaan itu. Seolah aku lupa bahwa di sini agama Islam termasuk minoritas. Aku mengangguk perlahan sambil bergeming, jangan-jangan Keke beragam selain Islam.

Belajar di negeri orang, terlebih di negara yang islamnya minoritas menjadi sebuah tantangan bagi kita. Mencuri waktu untuk shalat menjadi hal yang sangat biasa. Jika kita di Indonesia selalu rutin dipanggil azan ketika waktunya shalat tiba, di Cina berbeda. Setiap orang harus benar-benar sadar dengan sendiri jika waktunya shalat sudah datang. Masjid di Cina tidak sebanyak di Indonesia.

Perkenalan pertama itu menghasilkan berbagai pertanyaan yang hadir dari Keke. Lelaki itu banyak sekali menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan agama islam. Al-Qur’an, shalat, dan sebagainya. Jelas saja aku sangat antusias menjawab pertanyaan-pertanyaan darinya.

Semakin lama aku merasakan ada getaran hati yang menggambarkan sebuah rasa kagum untuk Keke. Lelaki beragama Budha yang selalu bertanya kritis tentang agama Islam. Tiba-tiba terbesit dalam hatiku, ah andai saja dia beragama Islam, aku sudah terlena dan jatuh cinta dengannya.

***

“Hai, Gu Ni Sha … apa kabar?” sapa seorang lelaki yang baru saja masuk kelas. Senyumnya mengembang, wajahnya berseri-seri. Sapanya ramah dan lembut. Aku menoleh ke teman yang sedang sibuk dengan peralatannya.

“Eh siapa sih dia? Manggilnya sembarangan lagi,” timpalku acuh. Sebenarnya aku tidak terlalu jelas memandang wajah seseorang dari arah yang cukup jauh. Termasuk lelaki yang baru masuk ke kelasku.

“Kamu gak tahu siapa dia? Dia kakak kelas paling tampan, masak kamu gak tahu?” ledek Nina usil.

Lelaki itu menarik kursi di depan, beberapa menit kemudian Lao Shi (guru) datang. Dia berdiri lalu memberi salam hormat, diikuti oleh mahasiswa lainnya. Aku mencari kacamata dengan tergesa-gesa. Rasa penasaran tiba-tiba hadir dalam sanubari ini. Kupandangi dengan tajam sosok lelaki di depan kelas yang dengan takzim menyimak perintah Lao Shi.

“Hai semua, selamat pagi. Saya datang ke kelas kalian sebagai penerjemah Lao Shi hari ini. Selamat menikmati pelajaran, semoga diberi kemudahan.” Dia kembali duduk setelah menyapa santun.

Aku tercengang ketika wajah lelaki itu terlihat jelas. Dia adalah lelaki yang kemarin banyak bercerita kepadaku, meski baru sekali bertemu. Hanya karena aku terkunci dari perpustakaan. Ya, dia adalah Keke. Mengagumkan sekali dia masuk kelasku sebagai penerjemah Lao Shi.

Cinta itu tidak bisa digambarkan. Sesuatu yang sangat abstrak. Tidak juga bisa dipaksakan bagi siapa saja yang ingin merasakan cinta. Terkadang cinta itu hadir tanpa sebab, pun terkadang juga pergi tanpa sebab. Begitulah kenyataannya, maka sangat sulit untuk dipungkiri menjauhi datangnya cinta.

“Ya ampun, ternyata my idola … “

Nina dan Kiki terkekeh di belakangku, mataku melotot. Aku benar-benar tidak sadar mengucapkan itu, dalam hati aku berdoa semoga Keke tidak mendengarnya. Ruangan kelas kembali tegang, Lao Shi sudah mulai menjelaskan pelajaran dengan disambung terjemah dari Keke. Seringkali aku melirik Keke dan lebih fokus ke terjemahannya.

Pelajaran tidak berlangsung lebih dari dua jam, kami diberi tugas untuk berdiskusi bersama. Lagi-lagi aku mendapat bagian kelompok bersama Nina dan Kiki.

“Nisa … Hmmm, hmmm, hmmm (Panggilnya dengan tambahan nada lagu Nisa Sabyan). Kita satu kelompok lagi, yes,” ujarnya gembira.

“Apa untungnya? Ngeselin kamu tuh. Sesekali manggil aku cukup Nisa saja gak bisa napa?”

“Ahahah, gak bisa. Itu sudah spontan saja keluar dari lisanku.”

“Malu-maluin tahu, gak? Banyak sekali yang menoleh ke arahku heran. Awas ya kalau sampai kamu panggil aku seperti itu di depan Keke.”

“Gak peduli, biar kamu tahu rasa, ahahah. Habis sih, suka sama cowok dari tampangnya doang, mana dia beragama Budha lagi.”

“Hus, jangan memandang rendah agama yang tidak sama dengan keyakinan kita, Ki. Siapa tahu mereka lebih taat dengan agamanya, daripada kita yang memeluk agama Islam tapi belum begitu taat.”

“Eits, sudah berani membela agamanya ya. Kita kan tidak pernah tahu, Nisa. Tingkat keimanan seseorang,”

Kiki belum selesai berbicara disela oleh Nisa, “Ya justru itu kita tidak boleh menganggap rendah keyakinan orang yang memeluk agama lain. Harusnya kita ini yang intropeksi diri, sudah seberapa taat dengan agama yang kita percayai.”

“Sudah, sudah. Jangan habiskan waktu untuk memperdebatkan agama. Kita harus selesaikan tugas kita sebelum kembali ke asrama. Kalian mau dimarahin Lao Shi?” sela Nina mencairkan suasa.

Pembahasan berbeda agama akan semakin panjang jika diteruskan. Apalagi sudah membubuhi dengan cinta. Pasti akan ada like dan dislike. Kiki cukup menjaga jarak dengan lawan agamanya. Bukan berarti benci, hanya saja dia berusaha membatasi diri. Kiki sangat berpegang teguh dengan agama Islam. Meski hampir semua teman-temannya beragama Budha dan Kristen, Kiki tetap berbaur sewajarnya, dan selalu pamit undur diri jika waktunya shalat tiba. Berbeda dengan aku yang sangat care dengan semua teman tanpa membedakan agama. Dari sini aku merasa perbedaan bukan menjadi halangan. Aku akrab dengan banyak orang. Maka sangat wajar jika berdebat dengan Kiki tak akan pernah ada ujungnya.

***

Sejak aku berani memutuskan bahwa benar-benar suka Keke, sikapku berubah. Aku sering melakukan apapun untuk mencoba menarik perhatiannya. Beberapa kali aku berhasil, aku pun senang ketika bisa dekat dan banyak diskusi dengan Keke. Bahkan, sebagian besar waktuku habis untuk telepon bersamanya. Di luar itu, Keke juga sering mengajak jalan ketika aku tidak ada jadwal kuliah.

“Sadarlah, Nis. Kamu itu tidak boleh suka sama Keke.” Nina memberi nasihat aku yang baru saja mematikan ponsel setelah telepon dengan Keke.

“Ye, gak mungkin juga kali aku suka beneran. Kan Cuman dekat saja masak tidak boleh,” belaku sambil melirik ke ranjang Nina yang berada tepat di bawahku. Terlihat Nina sibuk dengan buku-bukunya.

“Ya, kan sebelum semua itu terlanjur, Nis. Apalagi masalah cinta yang mudah datang, tetapi akan sulit untuk pergi. Jauhilah perlahan sebelum kamu menyesal.”

“Tidak semudah itu, Nina. Apakah tidak boleh aku dekat dengan orang yang berbeda agama? Bukankah agama kita menjunjung nilai toleransi?”

“Bukan melarang kamu dekat dengan orang yang berbeda agama, Nis. Hanya saja yang sedang kamu alami ini berhubungan dengan masalah hati. Sebagai sahabat, aku tidak ingin kamu menyesal. Kamu di sini untuk belajar, bukan bersenang-senang. Ingatlah orang tua kita yang jauh di sana.”

Seketika itu hatiku tersentuh dengan ucapan Nina. Jika sudah membicarakan orang tua, aku tak sanggup mengelak apapun. Aku sadar bahwa hari-hariku terpenuhi dengan Keke. Hanya karena masalah cinta yang tidak jelas. Cinta yang terlarang, cinta yang hanya menghadirkan kebahaagiaan sementara. Dear Allah, maafkan hamba yang telah salah menaruh hati selain untuk-Mu. Izinkan aku kembali, serta bimbing aku menjadi hamba-Mu yang taat. Mataku terpejam, hatiku sedikit perih, aku menatap ponsel lagi, hari ini aku bertekad untuk menjauhi Keke secara perlahan. Menyibukkan diri dengan berbagai cara lain supaya lebih dekat dengan-Nya.

Oleh: Sayyidatina Az-Zahra.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan