Apakah rasa cemburu itu diperbolehkan atau dianjurkan dalam Islam? Jawabannya memang boleh. Al-Ghirah (rasa cemburu) merupakan fitrah dasar pada diri kaum hawa atau adam. Oleh karenanya kita harus menjaga fitrah ini agar tidak tercampuri oleh bisikan-bisikan setan.

Cemburu dapat berakhir dengan baik serta memberikan kebahagiaan dunia dan akhirat jika kita memegang keimanan. Namun, cemburu juga bisa berakibat buruk kalau kita mudah dipengaruhi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab serta dikuasai emosi yang membabi buta.

Sebagai seorang istri aku juga pernah cemburu dengan suami. Apalagi kami hidup terpisah karena pekerjaan. Kejadiaanya sekitar pukul 03.30 WIB. Waktu itu aku bangun tidur. Entah kenapa tanganku mengambil HP dan melihat postingan di Facebook. Kulihat suamiku memposting beberapa foto dengan teman SMA-nya. Namun, aku terkejut ketika melihat satu foto yang membuat mataku terbelalak lebar, jantungku berdenyut kencang, tubuh terasa panas dingin. Ingin kumenjerit tetapi hatiku melarang.

Di situ terlihat suami bersama dengan dua perempuan dan satu lelaki. Tapi tangan perempuan berjilbab itu memegang bahu suamiku dengan senyum merekah. Aku harus bagaimana? Astaghfirullah al’adzim. Kuatkan hatiku Ya Allah.

Aku pun memberi komentar di bawah foto itu. “Suamiku sayang, tolong foto ini dihapus, aku cemburu (jujur). Tubuhku panas dingin. Yuk kita salat tahajud!”

Setelah itu, aku langsung mematikan HP, kemudian salat malam. Aku memohon pada Allah supaya masalah yang kuhadapi ini cepat selesai. Dan semoga keimanan aku dan suami semakin kuat tak hilang ditelan waktu.

Hatiku agak tenang setelah mendekatkan diri pada Allah. Dari semalam pengin telepon suami tetapi ada kekhawatiran mengganggu tidurnya. Akhirnya mumpung sudah Subuh kutelepon suamiku tercinta. Akan tetapi, tak ada jawaban dari suami. Aku pikir mungkin teleponnya sedang di cash atau suami tidak mendengar, karena kadang pakai nada getar.

Perasaanku agak panas lagi. Jangan-jangan ada sesuatu yang disembunyikan atau … stop! Aku enggak mau berpikir macam-macam. Aku pun menyibukkan diri melakukan pekerjaan rumah tangga seperti: nyuci baju, nyuci piring, masak air, nyapu, dan buat nasi goreng. Tak terasa jam menunjukkan pukul 05.10 WIB. Masih ada waktu untuk menulis. Dengan kesibukan ini rasa cemburu pada suami sedikit terlupa.

Sore harinya suami membalas komenku Facebook tapi sayang enggak bisa kubaca karena foto itu sudah dihapus. Terima kasih suamiku. Kau memahami perasaanku. Walaupun kita berjauhan. Hati kita selalu dekat. Cinta kita tak bisa diutarakan dengan kata-kata. Dua putra kita adalah hasih buah cinta kita. Perjalanan pernikahan kita berumur 18 tahun lebih semoga apa pun ujian dalam rumah tangga bisa kita lewati. Hehehe. Belajar romantis ceritanya.

Sebenernya aku pengin secepatnya ngobrol lewat telepon dengan suami tetapi teleponnya selalu tidak aktif. Alhamdulillah sekitar pukul 19.00 WIB suami telepon tapi sayang tak diangkat karena aku sedang di belakang. Aku pun telepon balaik. Seperti biasanya, suami menyuruh aku matikan dulu karena ia akan telepon balik. Sayang dengan pulsa isteri lebih baik ia yang menaggung pulsa. Segitu sayangnya suami padaku.

“Ayah, kenapa kemarin kirim foto itu?’

“Udah Ayah hapus. Tapi seneng dicemburui sama isteri, maaf ya?” ujar suami sambil tertawa senang.

“Ah, Ayah bikin Ibu panas dingin. O. ya. Kenapa waktu Subuh Ibu telpon enggak diangkat?”

“Oh , itu? Nggak denger, mungkin karena pakai nada getar,” jawab suami.

“Yah, tolong kalau upload foto diliha-lihat dulu pantes atau tidak.”

“Tapi tangan Ayah enggak megang teman perempuan Ayah itu.” ujar suami membela diri.

“Iya. Tapi kan temen Ayah itu memegang bahu Ayah dengan senyum merekah, seperti gimana gitu?’ Aku tak berani mengatakan seperti suami isteri karena sakit rasanya.

“Iya, Ayah minta maaf.”

“Sudah Ibu maafkan.”

***

Dari pengalaman itu kita bisa menyimpulkan bagaimana cara menyikapi cemburu pada pasangan kita:   

Cemburu dengan takaran yang wajar

Rasanya hampir semua pasangan sejoli pasti pernah cemburu dengan pasangannya. Rasa cemburu dengan takaran yang wajar bisa memberikan dampak yang baik. Kita bisa lebih menghargai pasangan sehingga hubungan jadi lebih langgeng.

Tidak menghakimi    

Islam agama yang santun, mengajarkan suatu perkara manusia dengan sangat baik. Bahkan perkara cemburu pun dianjurkan jika dalam porsi yang benar. Maksudkan menyempaikan perasaan cemburunya tidak langsung menghakimi. Tidak menuduh tanpa bukti. Cemburu menunjukan cinta kasih suami isteri, menambah hangat, dan harmonis hubungan rumah tangga.

Percaya diri dan saling percaya

Percaya diri merupakan sikap yang perlu dikembangkan dalam hidup berumah tangga untuk menghalau rasa cemburu. Percayalah bahwa kita layak untuk dicintai pasangan kita. Dengan sikap demikian kita akan semakin optimis.

Nah, sampaikan rasa cemburu dalam bentuk romantis lagi menyenangkan. Karena pada dasarnya seseorang ingin mengukur seberapa besar cinta pasangan itu memang salah satunya ditampakkan dengan cemburu.

Selain itu cemburu menunjukan cinta kasih suami isteri, menambah hangat, dan harmonis hubungan rumah tangga. Bagaimana, sudah tahu cara mengelola rasa cemburu, kan?

Oleh: Bunda Firdaus.  

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: