Inilah 3 Kesalahan yang Sering Dilakukan Penulis Produktif

Bisa jadi bukan sebuah kesalahan, melainkan kelalaian. Hehehe.

Begini, penulis produktif itu kan penulis yang terus-menerus menulis ya, lalu kapan waktu membacanya?

Kelalaian pertama, apabila begitu aktif menulis sampai lupa membaca. Bisa jadi untuk ukuran waktu setahun atau dua tahun terasa biasa saja, tetapi nanti kalau berambisi terus (gila-gilaan menulis), akan terasa kualitas diri semakin melemah, kualitas tulisan tak banyak berubah. Kalau kebiasaan membaca saja terlewati, apalagi soal riset. Lupa.

Terlebih buat penulis yang sudah masuk putaran arus industri—yang mau tidak mau memang kudu setor tulisan. Maka satu-satunya kebiasaan membaca hanyalah untuk keperluan tulisannya saja. Bagaimana dengan bacaan di luar itu?

Terasa tidak butuh, ya jadi tidak perlu dibaca. Alhasil ya karya berlimpah, tetapi kekayaan materinya berputar di situ-situ saja. Tulisannya tayang di mana-mana, tetapi ya begitu-begitu saja. Bukunya terbit di banyak penerbit, tetapi ya isinya tidak banyak bedanya. “Duh, aku banget nih.”

Kedua, terlalu fokus pada bidang yang digelutinya, sampai-sampai tidak menyadari banyak hal yang berkembang di sekelilingnya.

Saya jadi ingat Ahmad Dhani yang pernah komentar di salah satu acara ajang pencarian bakat, “Seorang penyanyi memang tugasnya menyayi, tapi bagusnya juga tahu wawasan soal dunia musik.”

Minimal tidak sekadar hafal lirik lagu yang dinyanyikan, tetapi juga memahami makna liriknya. Itu minimalnya.

Memang kalau sudah memilih dan menekuni satu jenis tulisan, cerpen fiksi misalnya, rasanya malas baca tulisan esai—apalagi sampai mau mencoba menulisnya. Demi alasan fokus, bukan berarti harus memakai kaca mata kuda kan?

Tentu akan beda hasil karyanya bagi seorang penulis cerpen fiksi yang juga menyukai bacaan di luar bidangnya itu. Sedikit banyak akan memengaruhi apa yang ditulisnya, dan tidak menutup kemungkinan berpengaruh pada caranya berpikir dan caranya berimajinasi.

Sebagai catatan kecil di sini: W.S. Rendra ternyata menulis cerpen dan sudah terbit pula buku kumpulan cerpennya. Padahal selama ini, kita mengenal beliau sebagai seorang apa? Apakah dikenal sebagai cerpenis?

Ketiga, terjebak pada pengulangan karya yang sama. Ini nantinya yang tahu pembaca setia, yakni mereka yang selalu membaca tulisan penulis produktif. Sadar atau tidak, pembaca sangat kritis, dan bisa merasakan pengulangan-pengulangan karya.

Baik pengulangan materi, atau pola-pola menulisnya. Bisa jadi itu menjadi ciri khasnya. Namun, apa iya ilmu yang tidak berkembang dianggap sebagai ciri khas? Hehehe.

“Ah, tulisannya masih begini-begini saja,” begitu batin pembaca setia.

Atau, “Ah, kok nggak ada sesuatu yang baru ya dari tulisannya?”

Keinginan untuk menghasilkan karya lagi, lagi, dan lagi, membuat penulis produktif kehilangan rasa kritis atas karyanya sendiri. Sekali tulis, selesai. Sama sekali tidak ada perenungan ulang.

Tidak mau melihat kemungkinan lain pada karyanya. Malas untuk membuat terobosan-terobosan baru dalam pola pikir, imajinasi, dan diterapkan pada tulisannya.  

Sampai di sini, perlulah kita merenungi kalimat yang mungkin terdengar biasa ini: ‘rasa puas’ adalah musuh yang paling berbahaya bagi kreativitas.

Eh, tunggu. Bisa jadi apa yang saya tulis itu salah semua lho ya. Hehehe. Coba lihat saja beliau-yang-jangan-disebut-namanya di sini selalu produktif menulis, karyanya selalu dinilai bagus oleh pembacanya, dan selalu laris manis!

Oh, berarti terkecuali buat beliau. Hehehe.

Oleh: Dwi Suwiknyo.

Tinggalkan Balasan