Sejak kecil, jika orang lain bertanya tentang apa hobi kita, mayoritas orang akan menjadikan membaca sebagai jawaban atas pertanyaan tersebut. Tidak ada yang salah dengan membaca. Semua orang memang mau tidak mau harus pandai membaca bukan?

Jika ingin ujian, otomatis kita akan membaca materi di hari sebelumnya. Jika ingin menyampaikan seminar pun, terkadang kita berulang kali membaca materi yang berkaitan dengan tema yang akan disampaikan. Meski kita sudah mencapai titik pencapaian tertentu, kita tetap harus sering-sering membaca. Toh, membaca tidak harus melalui buku. Kita bisa membaca pada berbagai media digital.

Saat ini ada banyak media sosial yang bertebaran di mana pun kita berada. Mulai dari akun media sosial facebook, instagram dan berbagai blog lainnya. Hanya saja terkadang tak semua orang mampu menahan diri untuk tidak tergoda melihat hal yang cenderung sia-sia saat mereka membuka akun media sosialnya.

Lebih parahnya mereka sampai terlupa mengedepankan tanggung jawab pada Allah. Sulit memang. Apalagi di era sekarang yang sangat jelas mengagungkan asas kebebasan. Dunia semakin seenaknya saja menebar berita atau tulisan yang mengundang mudharat.

Kita tidak bisa menampik bahwa tantangan yang kita hadapi amatlah berat. Sekarang membaca tidak lagi menarik bagi seseorang.

Sebagian menganggap hobi membaca merupakan hobi klasik yang sekedar menjadi formalitas saja. Jika ditanyakan buku apa yang menarik, belum tentu setiap orang punya jawabannya. Kita tidak bisa menyalahkan pada salah satu pihak. Aktivitas membaca yang kian berkurang dari masa ke masa adalah suatu kewajaran dengan adanya teknologi yang semakin berkembang.  

Nah, menurut kalian siapa sebenarnya yang bertanggung jawab atas tergerusnya hobi membaca ini? Mungkinkah si pembuat media sosial atau budaya Barat yang menyelinap pada diri kita sendiri?

Jika media sosial dan budaya Barat membangkitkan gairah baru akan hobi yang anti mainstream dan membawa manfaat tentulah bagus untuk dilatih. Lalu, bagaimana jika yang diadaptasi adalah hobi sekedar foya-foya belaka?

Mari kita sebutkan satu persatu hobi yang sudah ada hingga saat ini. Berenang, nge-gym, travelling, mendaki gunung dan lain sebagainya. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan hobi tersebut?

Orang bilang, hobi adalah hal apa pun yang membuat kita bahagia dan ketagihan. Hobi membuat kita ingin rasanya berulang kali melakukannya. Ketika penat kebanyakan orang akan mengerjakan hobinya tersebut untuk menghilangkan rasa penatnya.

Mereka mencintai hobinya layaknya mencintai dirinya sendiri. Bahkan saking cintanya pada hobi, sebagian orang memilih mencari pendapatannya lewat hobi. Mungkinkah kita termasuk di dalamnya? Mengerjakan hobi untuk mendapatkan uang? Jawaban ada pada nurani masing-masing.

Meski katanya membosankan, tapi hobi ini bisa ditukar dengan surga lho!

Ada satu hobi yang memancing banyak tanggapan, yakni menulis. Bisa jadi hobi ini menjadi hal yang sekedar membuang-buang waktu atau mungkin bisa dikatakan menulis adalah hobi yang tidak memiliki masa depan. Menjadi kewajiban bagi kita menghidupkan kembali semangat literasi pada sekitar.

Membosankan?

Sebagian orang menyetujui anggapan tersebut. Maka kita sebagai pribadi yang turut andil dalam memberi pengaruh pada sekitar dituntut memiliki kelihaian dalam menyusun kata. Tak hanya tuntas menyelesaikan naskah, melainkan juga mampu menyentuh hati pembaca. Meski katanya membosankan, hobi ini bisa ditukar dengan surga lho. Berikut ulasannya:

Terapi hati

Percayakah kalian bahwa menulis adalah salah satu cara untuk menterapi diri sendiri? Sama halnya dengan hobi lain yang ditujukan untuk menghibur diri, menulis pun juga begitu. Jika hobi lain akan menentramkan hati pada sekali waktu saja, yakni ketika hobi tersebut dikerjakan, berbeda dengan menulis. Bagi seorang penulis, tulisannya adalah kata yang mampu menasihatinya kapan pun saat dia membutuhkan pencerahan.

Layaknya psikolog tulisan tersebut akan berbicara untuk menenangkan hati yang sedang gundah. Tidak penting tulisan akan terpublikasi atau tidak pada khalayak ramai, yang lebih diutamakan adalah bagaimana tulisan tersebut minimal memberikan dampak positif bagi sang penulis sendiri. Dengan pemberian dampak terhadap diri sendiri saja sudah barang tentu menjadi pahala bagi diri.

Sedikit demi sedikit menabung pahala untuk kehidupan akhirat. Seseorang yang terbiasa mencurahkan masalah hati melalui tulisan biasanya akan lebih sabar. Karena dengan menulis dia akan belajar membujuk diri untuk menerima keadaan tanpa mengeluh. Bukankah sabar menjadi jaminan bagi seseorang masuk surga?

Sumber inspirasi bagi orang lain

Kebutuhan hati pada setiap orang jelas tidak sama, tergantung ujian yang menimpanya. Ada yang lulus dari ujian lalu naik kelas, sedangkan sebagian yang lain bisa saja tinggal kelas karena tidak sanggup melewati ujian. Allah sudah sering berkata jika setiap manusia pasti diuji. Manusia diuji berdasarkan kadar ketakwaannya kepada Allah. Lalu, adakah hubungan hobi menulis ini dengan ujian yang mereka hadapi? Tentu ada.

Tulisan kita bisa diumpamakan sebagai obat bagi hati yang sedang sakit. Bisa menjadi batu loncatan agar mereka yang sedang menjalani ujian segera lolos ke babak selanjutnya. Tulisan seyogyanya mesti ditulis dari hati agar sampai pula ke hati pembaca. Sederhananya menulis dari hati ke hati. Ternyata kita bisa lho memberikan jalan keluar atau solusi bagi seseorang yang sedang dirundung masalah. Tidak harus berbentuk materi atau uluran tangan langsung, tapi melalui kata-kata yang kita tulis.

Dengan tulisan kita, kita bisa memberikan sudut pandang lain bagi pembaca saat menghadapi masalah. Dengan menulis, kita bisa ikut memahamkan pengertian bahwa Allah itu selalu baik dan selalu memberikan apapun sesuai prasangka hamba terhadap-Nya.

Ada banyak ilmu yang dapat kita sampaikan pada orang lain melalui tulisan. Ada banyak inspirasi pula yang dapat kita bagi untuk para pembaca kita. Bukankah membantu orang lain juga bernilai pahala dan jaminannya adalah surga?

Amal jariyah

Amal jariyah adalah amalan apapun yang pahalanya mengalir terus-menerus sekalipun si pelaku amal telah meninggal. Walau nyawa sudah tiada, ada warisan yang sebaiknya kita tinggalkan untuk digunakan orang lain yang masih hidup. Salah satu amalan itu bisa kita kerjakan dengan menulis. Ilmu yang dimanfaatkan berulang kali dan disebarkan turun menurun akan menjadi ladang pahala bagi kita.

Kita tidak mesti menjadi penceramah untuk mendapatkan kemuliaan dari amal jariyah. Kita bisa memulainya dengan mengulurkan manfaat melalui tulisan. Bahkan Rasulullah Saw pernah bersabda, “Sampaikan walau hanya satu ayat.” Itu berarti kita juga bisa berbagi pelajaran meski ilmu yang kita kuasai hanya sedikit.

Memiliki hobi yang unik memang menyenangkan. Terlebih hobi tersebut sukses meningkatkan ketebalan kantong kita. Namun ada yang lebih istimewa dari sekedar hobi yang menyenangkan, yakni hobi yang dapat ditukar dengan surga.

Menulis mungkin membosankan dan terkesan kegiatan yang monoton, tapi jika dengan menulis kita mampu membeli tiket ke surga, why not?

Mulailah menulis untuk memperbanyak manfaat bagi orang lain bukan semata-mata ingin mengkayakan diri. Karena kaya harta tidak menjadi jaminan untuk hidup nyaman masuk surga. Keep writing!

Oleh: Elmia Purnama Sari.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: