Inilah 3 Mindset Penting untuk Kesuksesan Kamu

Selalu berpikir positif

Ilman Akbar dalam buku #Unstoppable menceritakan tentang seorang raja di Afrika memiliki ajudan kepercayaan yang mempunyai kebiasaan berkomentar “Wah, bagus itu!” terhadap apa pun yang terjadi di dalam hidupnya, apa pun yang terjadi.

Suatu hari, sang raja yang hobi berburu itu mengajak ajudannya untuk berburu di hutan seperti biasanya. Sang ajudan memasukkan mesiu ke dalam senapan dan memberikan kepada raja.

Akan tetapi, tidak sengja ia memasukkan mesiunya kurang sempurna, sehingga saat sang raja menembak, senapannya meledak di tangannya, membakar habis jempol sang raja.

“Wah, bagus itu!” teriak sang ajudan.

Sang raja yang berdarah dan kesakitan langsung marah besar. “Bagaimana bisa bagus? Ini sangat menyakitkan!” teriak sang raja.

Kecewa dan marah besar dengan ajudannya, raja pun memerintahkan para pengawalnya untuk menjebloskan ajudan ke penjara.

Sekitar satu tahun kemudian, sang raja kembali berburu, kali ini sang raja hanya sendiri tanpa didampingi ajudannya, karena sang ajudan masih menjalani hukuman dalam penjara akibat kecerobohannya.

Di hutan, raja terjebak di dalam perangkap yang di pasang suku kanibal (pemakan manusia). Mereka segera membawa raja ke desa kanibal untuk dijadikan santapan.

Ketika suku kanibal itu mendekat untuk menyalakan api, mereka menyadari sang raja tidak memiliki jempol. Mereka mempunyai kepercayaan tidak akan memakan manusia yang tidak sempurna fisiknya.

Setelah melihat cacat fisik raja tersebut, suku kanibal pun melepas sang raja. Mereka tidak mau mendapatkan kesialan jika melanggar kepercayaan tersebut.          

Sang raja sangat bersyukur atas kejadian itu. Ia kemudian segera berlari ke istana dan menuju penjara untuk menemui dan membebaskan ajudannya, “Kamu benar, bagus itu.” Sang raja bersorak.

Sang raja menceritakan kepada ajudan bahwa jempolnya yang hilang itu menyelamatkan hidupnya.

“Saya merasa bersalah telah memasukan kamu ke dalam penjara. Itu hal terburuk yang pernah saya lakukan,” sang raja merasa menyesal atas kekhilafannya.

“Tidak! Ini bagus, kok.” Jawab sang ajudan.

“Oh, bagaimana bisa bagus begitu, kawan baikku? Saya telah melakukan hal buruk kepadamu saat saya berhutang nyawa kepadamu.”

“Ya, ini bagus.” Kata sang ajudan. “Karena kalau saya tidak di penjara, saya pasti akan ikut berburu sang baginda raja, dan mereka pasti akan memakan saya!”

Nah, apa yang menurut kita jelek belum tentu jelek menurut Allah Swt, demikian sebaliknya. Mari kita selalu berbaik sangka kepadanya pada saat kapan dan di mana pun kita berada.

Nikmati proses meraih sukses

Jamil Azzani dalam buku Menyemai Impian, Meraih Sukses Mulia menuliskan cerita dari ayahnya tentang proses terjadinya mutiara yang selalu menjadi motivasi dalam hidup beliau.

Ayahnya bercerita, seekor kerang muda mencari makan, ia membuka cangkangnya. Pada saat cangkangnya terbuka, tubuh kerang muda itu kemasukan pasir dan ia merasakan betapa sakitnya.

Kerang muda pun mengeluh kepada ibunya.

Ibu kerang muda berkata, “Anakku, sabar ya Nak. Kelak butiran pasir itulah yang akan menjadikanmu kerang yang berharga, karena pasir itu akan berubah menjadi butiran mutiara yang mahal harganya.

Mutiara itu pulalah yang akan membedakan dirimu dengan kerang yang lain. Kerang yang tidak ada mutiaranya hanya akan menjadi kerang rebus yang dijual dengan cara diobral di pinggiran jalan, sedangkan mutiara itu mahal harganya, berada di tempat terhormat, dan dipakai oleh orang-orang terhormat pula.”

Ayah Jamil berkata, “Jika kamu tidak pernah mendapat cobaan, maka kamu akan menjadi seperti kerang rebus yang tidak ada harganya.

Akan tetapi, kamu akan menjadi mutiara yang berharga kalau kamu mampu menghadapi cobaan bahkan jika kamu mampu memberi manfaat kepada orang lain.”

Berani bangkit dari kegagalan

Ilman akbar dalam #Unstoppable mengungkapkan true story Steve Jobs dan Brian Acton. Mari kita ambil hikmah dari perjalanan karier mereka.

Steve jobs. Seorang pemuda keluar dari ruang rapat dawan direksi. Langit sangat cerah di suatu siang tahun 1985 itu, namun hati pemuda itu mendung. Sedih, kecewa, marah, dan kesal memuncak.

Pemuda itu baru saja dipecat oleh perusahaan yang ia dirikan sendiri bersama seorang sahabatnya. Ia dipecat oleh orang-orang yang diajak sebagai investor dan board of director untuk komputer.

Dia dipecat setelah perdebatan selama satu tahun terakhir tentang arah perusahaan. Bagaimana bisa ia dipecat dari perusahaannya yang didirikannya sendiri?

Akan tetapi kegagalan itu mengubah hidupnya, juga hidup jutaan manusia lainnya di dunia. Setelah dipecat dari perusahaannya sendiri, pemuda itu tidak berlama-lama meratapi kegagalannya.

Ia berhasil meyakinkan berbagai investor untuk membantunya mendirikan perusahan komputer baru bernama Next. Keberhasilannya di Next membuatnya bisa membeli sebuah perusahaan animasi bernama Pixar.

Pixar, kita mengenalnya lewat animasi Toy Story, Finding Nemo, Wall-E dan lainnya yang menciptakan revolusi film animasi di dunia.

Brian Acton. Tahun 2009 adalah tahun yang menyedihkan bagi Brian Acton, seorang software engineer di Amerika serikat.

Ia ditolak bekerja di perusahaan besar idamannya. Pada bulan Mei, ia ditolak oleh Twitter, kemudian oleh Facebook di bulan Agustus.

Padahal ia mempunyai kualifikasi mumpuni untuk bekerja di sana. Dia pernah bekerja di Apple. Ia juga pernah bekerja di Yahoo sejak 1996  dan termasuk karyawan awal di sana.

Ia bahkan menguasai sembilan bahasa yang tidak bisa membuatnya  keliling dunia, karena ia menguasai bahasa pemrograman seperti C++. PHP, Java, dan action script.

Dengan semua kualifikasi tersebut, mengapa tidak ada perusahaan besar yang mau merekrutnya sebagai karyawan?

Tidak beruntung mendapatkan perusahaan besar, Brian mencoba membangun produknya sendiri bersama rekannya sesama engineer bernama Jan Koum.

Mereka sepakat membuat aplikasi chatting di Smarphone yang dinamakan Whatsapp. Kamu yang lagi membaca, tentunya menggunakan aplikasi Whatsapp ini juga kan?

Pada tahun yang sama, Whatsapp inc. akhirnya berdiri. Keberhasilan Whatsapp menghubungkan puluhan juta orang di dunia ini dengan kesederhanaan tanpa iklan.

Keberhasilan Whatsapp tersebut menarik minat Mark Zuckerberg—Sang Pendiri Facebook—membuat penawaran untuk membeli Whatsapp inc. secara penuh senilai US$ 19 Miliar.

Lihatlah, Facebook yang dulunya menolaknya untuk bekerja di sana, kini malah mengejar Brian dan menjadikannya seorang miliader!

Nah.

Oleh: Tim Trenlis.co

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan