Inilah 3 Tipe Karyawan Zaman Now. Kamu Termasuk yang Mana?

Nggak perlu terlalu serius ya baca tulisan ini. Bukan maksud hati untuk membuat kubu-kubu di dalam kantor berdasarkan tipe karyawan lho. Siapa tahu bermanfaat buat temen-temen yang mau buka usaha (bisnis) dan sedang ingin menerima karyawan.

Tiga tipe karyawan ini bisa kok digunakan untuk mendeteksi orang yang hendak bergabung dengan bisnis kita. Atau bisa juga, bagi (calon) karyawan yang sekarang akan atau sudah bekerja, kira-kira berada di posisi yang mana?

Pertama, tipe karyawan yang memilih pekerjaan karena passion, sebab hobi, lantaran suka dan minat dengan jenis pekerjaannya. Dia mengutamakan rasa senangnya dulu.

Kalau ditanya, “Apa motivasi kamu memilih kerja di kantor ini?” Jawabnya dengan penuh percaya diri, “Karena saya suka.” Sudah begitu saja.

Bahkan ketika ditanya, “Pengin gaji berapa?” Jawabnya pun masih datar-datar saja, “Saya ikut kebijakan kantor ini, pak.”

Yang penting baginya bisa menyalurkan hobinya, sekaligus skill-nya terasah, wawasan bertambah, dan berbonus upah.

Sampai-sampai terkadang latar belakang pendidikan tidak sesuai dengan pilihan kerjanya. Orang yang lulus jurusan manajemen perbankan misalnya, bisa jadi memilih kerja di kantor penerbitan buku. Kan jauh itu? Ya, begitulah. Tetapi kerjanya semangat.

Ide (gagasan) selalu muncul meski tidak diminta, selalu ada inisiatif melakukan terobosan-terobosan kerja. Jadi dia happy dan selalu tanpak ceria, sekalipun masuk kerja pagi di hari Senin.

Cuma sayangnya, kadang-kadang cara kerjanya sesuka hatinya, terlalu berimprovisasi sampai menerobos pagar aturan perusahaan.

Kedua, tipe karyawan yang memilih pekerjaan karena sesuai dengan latar belakang pendidikan, atau ilmu yang dikuasainya.

Meskipun belum berpengalaman, setidaknya dia sudah punya bekal teori. Tinggal praktik saja. Jadi antara pendidikan dan pekerjaannya sejalan ini.

Ini kalau pas wawancara juga terlihat percaya diri. Ya karena secara teori dia sudah tahu tugas dan pekerjaan yang nantinya akan dijalaninya.

Kalau dia ditanya, “Selain karena latar belakang pendidikan, apa yang membuat kamu tertarik bekerja di kantor ini?” Jawabnya tidak jauh-jauh, “Karena saya ingin mengaplikasikan ilmu yang selama ini sudah saya pelajari pak, sekaligus menambah pengalaman.”

Pun kalau ditanya tetangga, “Jadinya kerja di mana?” Jawabnya sangat percaya diri, “Di apotek rumah sakit.”

Ya orang yang bertanya itu pasti menyemangati, “Wah pas ya, kamu kuliahnya di farmasi.”

Kerjanya juga semangat, cuma terkadang sering protes, bahkan pusing sendiri. Kenapa? Sebab hal-hal teknis yang ada di tempat kerja tidak selalu sesuai dengan teori yang dipelajarinya. Biasa sering ngeluh, “Kok caranya begitu ya, kan seharusnya begini.”

Kalau tidak sesuai dengan pendapat teman kerja atau pimpinan, konflik pun tidak bisa lagi dihindari. Biasalah itu, beda ilmu teori versus beda pengalaman.

Ketiga, tipe karyawan yang asal kerja dapat duit. Maksudnya kerja apa saja yang penting dibayar dan bisa dikerjakannya. Orang yang bertahan di sebuah perusahaan pun, bisa jadi bukan karena ia loyal lho.

Ada indikasi begini, “Ah, daripada resign susah cari kerjaan lainnya, ya udah kerja di sini saja.”

Cuma sayang ini orangnya miskin gagasan, malas (memang tidak terbiasa) berinisiatif, dan suka ikut saja apa kata pak bos. Kalau ditanya pas rapat, “Gimana, kamu punya usul apa?”

Jawabnya ringan sekali, “Saya ikut saja, pak.” Beres .

Yang penting rutinitas kerja digarap. Memang kadang tekun juga, dan disiplin. Artinya, datang tepat waktu dan pulang juga tepat waktu. Datang dan mulai kerja jam 08.00 pagi tepat, lalu pas pulang pun tepat pukul 17.00. Jarang sekali datang lebih awal dan pulang lebih malam.

Maka tipe karyawan ini biasanya di posisi kerja yang banyak ngurusi hal-hal teknis. Jika diminta untuk menangani pekerjaan yang lebih berat, syaratnya cuma satu: gaji naik!

Oleh: Dwi Suwiknyo.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan