Inilah 5 Cara Agar Kita Tetap Bertahan Saat Terpuruk dan Lulus Ujian Hidup

Seorang pejabat, gajinya jutaan, hartanya banyak. Setiap orang menghormatinya. Bahkan orang-orang yang hanya kenal dia melalui media pun, suka rela mengagumi namanya. Hingga banyak orang ingin sekali menjadi seperti dia.

Suatu saat ujian datang menghampirinya dengan tiba-tiba. Dia kecelakaan hingga mengakibatkan kerusakan pada saraf otaknya. Kondisinya memprihatinkan. Dia koma beberapa hari dan harus dirawat di ruang intensif. Untuk bernapas pun dia butuh bantuan alat ventilator.

Istrinya sangat terpukul. Shock karena dokter memberi tahu bahwa harapan hidup si pejabat kecil sekali. Anak-anaknya pun sedih. Mereka masih perlu biaya untuk sekolah. Kalau Papanya tidak selamat, mereka khawatir masa depannya jadi sulit.

Akhirnya keluarga si pejabat memutuskan untuk berusaha menyembuhkannya. Mereka menggunakan seluruh harta kekayaan untuk membiayai pengobatan si pejabat. Jual mobil, jual saham usaha, hingga menjual rumah mereka.

Mereka meminta dokter terbaik untuk menangani si pejabat. Mereka memilih rumah sakit dengan fasilitas terlengkap untuk menyembuhkan si pejabat.

“Bagaimana pun caranya, papa harus sehat lagi. Kita akan bersama-sama lagi. Mama janji.” Bisik istri si pejabat sambil terisak menungguinya di ruang perawatan intensif.

Sebulan berlalu, si pejabat masih terbaring di ruang perawatan intensif. Dia masih dibantu alat pernapasan. Detak jantungnya masih berjalan. Hanya saja tubuhnya tampak lebih kurus dibanding sebulan yang lalu.

Istri si pejabat masih setia menemani dan menyemangatinya. Dia yakin suaminya akan kembali sehat. Meski dokter berpendapat sebaliknya, tapi si istri pejabat tetap ingin membuktikan usahanya tidak akan sia-sia.

“Ma, kenapa kita enggak mengikuti saja saran dokter? Mereka kan lebih tahu kondisi Papa.” Anak pertama si pejabat mencoba membujuk Mama.

Dia tahu bahwa kondisi Papanya saat ini tergantung alat bantu pernapasan. Tanpa alat itu, sebenarnya Papanya sudah sebulan lalu meninggal. Dokter sudah berkali-kali menjelaskan hal ini. Tetapi Mamanya belum bisa menerima keadaan, menolak kehilangan sosok suami yang sangat dicintai.

“Mama enggak sanggup hidup tanpa Papa. Mama yakin, Tuhan akan mengabulkan doa Mama. Dia akan memberi kesembuhan untuk Papa.”

Tidak ada pembicaraan lagi setelah itu. Si anak pejabat tidak tega melihat Mamanya. Kalau dia teruskan membujuk Mama, dia khawatir akan melukai hati Mamanya. Namun, di sisi lain dia sebenarnya gelisah jika nantinya ternyata usaha yang selama ini sudah dilakukan untuk menyembuhkan Papanya hanya akan sia-sia.

Suatu ketika, istri si pejabat dipanggil oleh perawat. Mereka duduk di ruang konter perawat. Saling berhadapan.

“Ibu, kami ingin menginformasikan mengenai total biaya perawatan Bapak hingga hari ini. Ini rinciannya, Bu.” Perawat itu menyodorkan satu lembar rincian biaya perawatan si pejabat.

Sebenarnya rincian biaya perawatan biasanya diberikan ketika pasien akan pulang. Tetapi karena totalnya terlalu besar, pihak rumah sakit khawatir keluarga pasien akan kaget jika tidak diinformasikan secara rutin.

“Terima kasih, Suster. Apakah ini harus saya bayarkan sekarang?”

“Begitu juga lebih baik. Agar nanti ketika perawatan Bapak sudah selesai, ibu tidak terlalu berat menyelesaikan administrasinya.”

Setelah pembicaraan itu, istri si pejabat mulai bimbang dengan janjinya. Apa benar Papa akan bisa pulih lagi seperti semula? Jika tidak, mau sampai kapan terbaring di sini?

“Ma, bulan depan waktunya Doni bayar semesteran.” Suara anak si pejabat membangunkan Mamanya dari lamunan.

“Oh, iya.”

Istri si pejabat kemudian teringat bahwa selama ini dia telah melupakan anaknya. Perhatiannya habis tercurah untuk suaminya. Dia lupa bahwa anaknya juga butuh perhatian.

Dia lupa bahwa anaknya juga punya masa depan. Akankah kukorbankan masa depan anak demi harapan hidup suamiku yang tak kunjung membaik?

***

Ilustrasi di atas bukanlah kisah nyata. Namun, hal serupa sering kali terjadi dan kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari. Kalau tidak dalam skala besar, masalah yang serupa pasti pernah kita alami dalam skala kecil.

Ketika masalah menghampiri kita secara tiba-tiba, lalu kita merasa terpuruk menghadapinya. Kita tidak siap untuk kecewa, lalu secara tak sadar telah mengorbankan yang lainnya.

Ada tips menarik yang saya baca dari buku Bersyukur Saat Diuji karya Pak Pirman. Beliau menuliskan lima hal yang patut kita renungkan untuk menghadapi ujian yang datang tiba-tiba. Apa saja?

Pertama, ujian pasti datang, diminta atau tidak.

Sering kali saya dengar orang mengatakan bahwa hidup ini adalah perjalanan dari menyelesaikan masalah satu menuju masalah lainnya. Hari ini kita selesai dengan masalah, esok harus berjibaku lagi dengan masalah lainnya.

Jadi, kita harus selalu ingat dan sadar bahwa masalah-masalah itu adalah ujian yang datang dari Allah. Sebagai bagian dari rasa cinta-Nya kepada kita. Agar iman kita terus bertambah.

Di sinilah iman kita terhadap takdir diuji. Jangan sampai cobaan-cobaan itu melemahkan iman kita. Lalu membuat kita berpaling dari jalan yang diridhoi.

Kedua, sedia solusi sebelum diuji.

Manfaatkan masa sehat kita sebelum datang penyakit menyerang tubuh kita. Jaga selalu kesehatan kita agar tetap bisa beraktivitas. Berolah raga, makan makanan sehat, dan lain sebagainya. Semua kita persiapkan untuk mencegah tubuh kita dari sakit.

Manfaatkan masa kaya kita sebelum datang kemiskinan. Ketika ada rezeki, sisihkan untuk ditabung. Ketika dimampukan berbagi, perbanyak sedekah menyantuni orang miskin. Bukan berfoya-foya menghabiskan harta untuk senang-senang. Karena sewaktu-waktu kita bisa jatuh miskin dan butuh uluran tangan orang lain.

Ketiga, sediakan ruang kecewa dan harapan.

Rasa kecewa pasti ada setiap kita alami masalah dalam hidup. Ini manusiawi, kita hanya perlu menerimanya. Jangan sampai kekecewaan itu membuat kita marah. Hingga merasa bahwa Allah telah tidak adil terhadap kita. Padahal sejatinya Allah itu Mahaadil.

Agar kita tidak terlalu kecewa, ada baiknya merenungkan nasihat dari Aa Gym, “Lakukan yang terbaik, dan bersiaplah untuk mendapatkan hasil terburuk.”

Dalam mengerjakan sesuatu kita harus bersungguh-sungguh. Kemudian mengenai hasilnya, ya serahkan sama Allah. Berharap hasil yang baik sih harus, tapi jangan lupakan kemungkinan terburuk. Karena kita enggak pernah tahu apa yang terjadi di masa yang akan datang. Sebab Allah yang menentukan hasilnya.

Keempat, sabar adalah jalan terbaik dan tercepat menuju sukses.

Allah berfirman dalam Al-Quran surat Az-Zumar ayat 10: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”

Bersabar bukanlah menunggu solusi dengan pasif, melainkan terus berusaha mencari solusi dengan berbagai cara untuk menyelesaikan masalah. Bersabar bukan diam, melainkan bertahan dalam aktivitas.

Kalau mau sukses ya, jangan diam saja. Gagal satu kali, tetap bangkit. Gagal dua kali, terus bangkit dan berlari. Terus saja seperti itu hingga ada kejutan dari Allah. Saat kesuksesan terasa sangat manis.

Kelima, jangan berlama-lama dalam keterpurukan.

Bagaimana cara kita bangkit dari keterpurukan? Segera bangkit dan minta tolong kepada Allah. Allah yang menguji, tentu Allah pula yang paling kuasa memberi solusi.

Jangan berhenti berdoa. Terus dekatkan diri kepada Allah. Lakukan segala amalan yang bisa membuat kita dekat dengan Allah. Karena semakin dekat hati kita dengan Allah, semakin mudah doa kita dikabulkan oleh Allah. Setiap masalah pun akan mampu kita selesaikan dengan pertolongan Allah.

Nah, jangan sampai kita terpuruk karena melupakan lima hal ini. Tetap semangat menjalani hidup dan yakinlah bahwa, semua masalah pasti ada solusinya.

Oleh: Seno Ners.

Referensi: Pirman, Bersyukur Saat Diuji, Citra Risalah, 2015.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan