Inilah 5 Cara Bahagia Jadi Jofis (Jomblo fi Sabilillah)

Dunia anak muda itu luas, tidak hanya sekadar masalah cinta dan perasaan.

Hubungan asmara memang penting untuk ke depannya. Namun, tidak semua waktu tercurah hanya untuk mengurusi hal itu.

Percayalah dengan janji Allah, jodoh akan mengetuk pintu pada waktunya. Tidak perlu membuang-buang waktu dengan orang yang salah, lebih baik masa muda kita gunakan untuk meningkatkan kualitas diri.

Kalau ada yang bilang pacaran itu untuk menumbuhkan semangat, jawab saja Allah dan orangtua lebih memberi semangat dari segalanya. Kalau hanya sibuk mengurusi pacar, maka kita tidak akan tahu begitu luasnya dunia luar.

Tidak perlu mengurung diri karena sedih melihat teman indekos atau teman kuliah keluar kencan. Kita tetap bisa menikmati manisnya hidup meski belum ada pasangan.

Ada banyak anak muda hebat yang sibuk di kegiatan positif, keluar dan gabunglah dengan mereka. Ubahlah lingkungan pergaulan ke lingkaran positif agar banyak hal baik yang bisa menular ke diri kita.

Kalau kita terbiasa tergabung di lingkaran anak muda yang suka galau, ngerumpi cewek/cowok, kongkow-kongkow tidak jelas tidak mustahil jika kita seperti orang-orang di dalamnya.   

Sudah saatnya kita menjadi jofis (jomblo fi sabilillah).

Jofis, jomblo yang berjuang di jalan Allah, bukan jomblo yang galau dan merutuki kesendiriannya, namun menjadi jomblo yang bermanfaat untuk umat.

Insyaallah, jika kita berjuang di jalan Allah, kelak Dia akan memperjuangkan yang terbaik untuk kita.

Lalu, hal apa sih yang bisa dilakukan para jofis agar waktu sendirinya lebih bermanfaat?

Berikut beberapa kegiatan yang bisa dilakukan para jofis:

Mengasah hobi agar lebih mahir.

Saat jofis, kita tidak punya waktu untuk chatting dan telepon dengan pacar sampai berjam-jam, kencan di kafe, atau bertengkar karena masalah sepele.

Meski menyenangkan bagi kebanyakan orang, tapi hal-hal itu menguras tenaga, pikiran, dan waktu tanpa faedah. Lebih baik waktu kita gunakan untuk membaca banyak buku, menulis fiksi atau nonfiksi, mengedit video, mendesain, belajar melukis, alat musik atau menyanyi.

Mengasah hobi seperti ini membuat emosi dan ide kita tersalurkan pada hal-hal yang produktif. Membuat kita menjadi manusia yang kreatif.

Coba hitung total jam chatting dan telepon seandainya memiliki pacar. Jika total jam itu diganti dengan jumlah karya yang dihasilkan, sudah berapa lembar tulisan yang bisa ditulis, berapa ratus buku yang habis terbaca, berapa banyak lagu yang berhasil diciptakan, atau berapa banyak lukisan yang berhasil tergores di kanvas?

Gabung dengan organisasi atau komunitas.

Tidak selamanya hidup hanya tentang “aku” dan “dia”, tapi juga “mereka” di luar sana. Kita diciptakan untuk menjadi orang yang bisa menebar kebermanfaatan untuk orang-orang yang ada di sekitar kita.

Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani)

Dengan bergabung di organisasi atau komunitas, kita bisa ikut berkontribusi untuk melaksanakan program-program positif menolong banyak orang. Kita bisa memanfaatkan waktu untuk memperoleh pengalaman serta belajar bekerja sama dan bertanggung jawab dengan orang-orang di dalamnya.

Kita tidak lagi menjadi orang egois yang hanya memikirkan bagaimana cara kita bahagia, tapi menyibukkan diri untuk membuat orang lain bahagia karena kita. Hidup tidak sepi lagi jika cara berpikir kita seperti ini.

Belajar mandiri mencari rezeki.

Tidak selamanya kita akan menggantungkan diri kepada orangtua. Kelak ada masanya kita harus berusaha untuk mencukupi kebutuhan diri sendiri dan memberi untuk orangtua.

Tidak perlu menunggu lulus kuliah untuk bekerja atau tidak perlu menunggu menikah untuk berwirausaha. Secepat mungkin kita harus mempersiapkan diri.

Semasa kuliah kita bisa memulai usaha kecil-kecilan dengan teman indekos atau teman kuliah. Bisa mengembangkan hobi yang akhirnya bisa menghasilkan penghasilan.

Misalnya membuka pesanan kue, buket bunga, desain, translate bahasa Inggris, atau mengajar di bimbingan belajar. Banyak jalan untuk bisa mengembangkan usaha.

Kalau pacaran bisa menguras uang, lebih baik jadi jofis yang menghasilkan uang. Keren, kan?

Menghabiskan waktu dengan keluarga.

Jika mempunyai pacar, kita terlalu sibuk dengan ponsel untuk berkomunikasi dengannya. Banyak waktu yang dihabiskan untuk keluar berdua. Padahal dibalik itu semua ada orangtua yang menahan kerinduan kepada kita.

Meski kita bukan putra/i kecil mereka lagi, tapi tetap saja bahwa kita ini adalah anak yang selalu mereka rindukan kebersamaannya.

Mereka ingin kita tetap menjadi putra/i kecilnya yang bercerita tentang apa saja, entah tentang kuliah, hobi, bahkan membicarakan harga kenaikan sembako.

Sebelum datang masanya kita mempunyai keluarga kecil sendiri, sempatkanlah untuk berkumpul dengan orangtua dan saudara. Jika sudah berkeluarga, mengobrol lama dengan orangtua tidak semudah seperti masa lajang.

Kelak kita akan mengerti betapa istimewanya duduk di samping orangtua dan mendengarkannya bercerita jika kita sudah terpisah jarak dengannya.

Melakukan banyak perjalanan dan diskusi dengan orang baru.

Buat kalian para jofis yang suka berpetualang, lebih baik dimanfaatkan untuk kegiatan jalan-jalan berfaedah. Misalnya mendaki, ekspedisi relawan di berbagai daerah, perlombaan, pelatihan, atau seminar di luar kota.

Di zaman yang serba canggih ini tentu sangat mudah untuk menemukan informasi event di belahan dunia mana pun. Daripada sibuk berpetualang di hati orang tanpa kepastian, lebih baik berpetualang ke kota orang menambah pengalaman.

Tidak perlu khawatir jika bepergian tanpa pacar atau sendirian. Memulai perkenalan dengan orang di tempat baru sangat menyenangkan. Jangan sungkan untuk mengajak kenalan dan berdiskusi dengan mereka.

Bisa jadi banyak sisi kehidupan yang bisa kita ketahui melalui hal-hal baru yang kita temui. Seringnya bertemu dan bertukar pikiran dengan orang baru, membuat kita lebih berpikiran terbuka dan menerima banyak perbedaan.

Waktu tidak bisa didaur ulang, tidak akan pernah kembali. Sebelum datang masa tua, manfaatkan masa muda sebaik-baiknya. Semoga kegiatan-kegiatan di atas bisa menjadi referensi para jomblo.

Ingat ya, kelak ada masanya setiap orang diminta pertanggungjawaban atas waktu yang dia gunakan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda dalam hadits Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu,

“Tidak akan beranjak kaki anak Adam pada hari kiamat dari sisi Rabbnya sampai dia ditanya tentang 5 (perkara):

Tentang umurnya untuk apa dia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa dia gunakan, tentang hartanya dari mana dia mendapatkannya dan ke mana dia keluarkan dan tentang apa yang telah dia amalkan dari ilmunya. (HR. At-Tirmizi)

Oleh: Anik Cahyanik.

Tinggalkan Balasan