Kalau berbicara soal pergi ke luar negeri, rasanya tidak ada satu pun dari kita yang tidak ingin jalan-jalan ke tempat baru yang suasananya berbeda, ya? Apalagi diiming-imingi lewat acara-acara traveling di televisi dan youtube. Lihat foto-foto yang sungguh instagramable menambah kuat godaan. Pengin banget menghiasi akun media sosial pribadi dengan foto diri yang mejeng di tempat asing.

Tapi itu alasan sepele ya, kita masih bisa tahan godaannya. Sekarang, kalau kita bicara tentang globalisasi dan tantangan-tantangan yang diakibatkannya, mungkin kita akan berpikir untuk mencari berbagai cara agar punya pengetahuan global. Berusaha mencari jalan untuk menambah kapasitas diri dengan memiliki pengalaman langsung, salah satunya belajar ke luar negeri.

Nah, kira-kira kayak gimana ya, kuliah di luar negeri itu? Apa saja hal-hal yang terkait dengan belajar di negara lain?

Memilih negara tujuan

Ini yang tidak boleh sembarangan dilakukan! Kenapa? Jelas, ini akan berhubungan dengan langkah-langkah selanjutnya yang harus dilakukan kalau kita akan kuliah ke luar negeri.

Pertama, kita musti tahu bahwa tidak semua negara di luar negeri menggunakan pengantar bahasa Inggris. Tidak pula semua jurusan di universitas memiliki program internasional, meskipun tidak jarang ada universitas yang membuka program internasional. Kalau demikian, tentu kita nih, yang wajib mempelajari bahasa pengantar di negara tujuan.

Kedua, negara tujuan jelas akan memberikan gambaran tentang tantangan yang harus kita hadapi. Mungkin kita bertemu musim yang berbeda, zona waktu yang berbeda atau kultur yang sangat berseberangan.

Selain itu, kita juga akan lebih fokus meriset keperluan lain seperti aplikasi visa dan syarat dokumen lain yang diperlukan untuk dapat memasuki negara tujuan. Jadi lebih mudah deh, menentukan tahapan-tahapan persiapan sebelum benar-benar mendaftar ke universitas tujuan.

Mana aja ya, negara pilihan pelajar Indonesia?

Ternyata, negara favorit tujuan pelajar Indonesia tidak sedikit. Ada beberapa negara bahkan tidak hanya di satu benua. Amerika Serikat, meskipun jaraknya cukup jauh dari Indonesia, ternyata negara ini tetap jadi tujuan favorit.

Ya … kita tahu sendiri lah, negara ini memiliki universitas terbaik kelas dunia seperti Harvard University, Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan Stanford University.

Beranjak ke Eropa, beberapa negara juga menjadi tujuan utama para pelajar Indonesia di antaranya Inggris, Perancis, Belanda dan Jerman. Keempat negara tersebut memang memiliki kualitas pendidikan yang tidak diragukan. Bahkan salah satu tokoh hebat Indonesia yang diakui dunia, pernah mengenyam pendidikan di Rheinisch-Westfälische Technische Hochschule Aachen atau RWTH Aachen. Yap, siapa lagi kalau bukan Bapak B.J. Habibie?

Kalau daftar negara yang dekat dengan Indonesia, tentu kita kenal dengan Australia, Singapura dan Malaysia. Salah satu alasan mengapa ketiga negara tersebut menjadi tujuan favorit adalah dekatnya jarak dengan Indonesia. Sedangkan Malaysia adalah negara serumpun yang secara budaya tidak begitu jauh berbeda. Jadi, kebanyakan akan merasa lebih mudah beradaptasi di Malaysia.

Mahal nggak sih, kuliah ke luar negeri?

Pertimbangan biaya sudah pasti jadi hal penting. Apalagi kalau kita punya pandangan bahwa semakin tinggi kualitas pendidikan, akan semakin tinggi pula biayanya. Hal itu membuat kita melihat bahwa menempuh pendidikan di luar negeri akan membutuhkan biaya yang sangat besar karena kualitasnya yang baik.

Tapi tunggu dulu, pernah dengar berapa besar subsidi pemerintah Jerman untuk pendidikan di negaranya? Besarnya adalah 100%. Artinya, setiap pelajar di Jerman berhak mendapatkan pendidikan gratis karena biaya kuliah ditanggung pemerintah.

Subsidi beda dengan beasiswa ya. Kalau beasiswa perlu melalui seleksi dengan kriteria tertentu sedangkan subsidi tidak terbatas. Siapa pun, dari negara manapun bisa mendapatkannya asal terdaftar sebagai mahasiswa di negara tersebut.

Perancis juga termasuk negara yang biaya pendidikannya disubsidi oleh pemerintah, tetapi tidak penuh seperti di Jerman. Jadi, kalau memilih Perancis, tetap siapkan biaya untuk tiap semester ya. Besarnya biaya, biasanya berbeda di tiap universitas. Informasi tentang ini bisa didapatkan melalui internet kok.

Kalau soal biaya hidup dan adaptasi gimana ya?

Tadi sudah bahas soal biaya pendidikan, sekarang kalau biaya hidup gimana? Secara umum, biaya hidup di luar negeri tidak selalu sama, tergantung di negara bagian atau kotanya. Sama aja deh, kayak di Indonesia. Tentu beda kalau tinggal di Jakarta dengan di Jogja. Ya, di luar negeri juga berlaku demikian.

Memang sih, biaya hidup di negara Amerika dan Uni-Eropa cenderung lebih mahal dibanding dengan di Indonesia. Tapi, hal itu bisa disiasati dengan mengambil kerja part-time, loh. Jangan bayangkan part-time seperti yang di Indonesia ya, jelas ada bedanya. Nah, kalau kita memilih negara tetangga, Malaysia, biaya hidupnya tidak terlalu jauh dari di Indonesia.

Soal adaptasi, jelas saja kita harus tangguh. Beda letak geografis, beda kultur tentu banyak hal yang akan membuat budaya dan kebiasaan masyarakat setempat menjadi sangat berbeda dengan negara kita. Mungkin kamu akan sulit menemukan nasi dan harus makan roti atau jenis makanan lain. Kamu juga harus menyesuaikan diri dengan perbedaan suhu yang sangat jauh.

Mungkin juga, sebagai muslim harus berpuasa lebih lama. Di beberapa negara, siang hari memiliki waktu yang lebih panjang daripada malamnya. Harus terbiasa juga jika ada di negara minoritas muslim dan tidak mendengar suara adzan. Tapi bukankah kesulitanlah yang membuat kita menjadi manusia yang semakin berkualitas?

Kalau sistem pendidikannya berbeda, tetap bisa masuk nggak ya?

Nah, ini yang perlu diketahui ketika kita hendak mendaftar ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Tentu, tiap negara punya sistem pendidikan dan ukuran kelulusan yang berbeda. Waktu pendaftaran dan tahun akademik yang juga berbeda.

Beruntungnya, di banyak negara di luar sana, ada dua periode pendaftaran loh. Jadi kalau kamu belum diterima di semester pertama, kamu bisa mencoba 4 sampai 6 bulan kemudian. Tidak terlalu lama bukan? Tidak seperti di Indonesia yang penerimaan pendidikan berlangsung satu kali dalam setahun.

Tapi ada juga nih, risiko yang harus kamu ketahui, dengan sistem pendidikan yang berbeda kita mungkin diharuskan melewati foundation course atau semacam penyetaraan. Biasanya foundation course ini ditempuh ketika akan memasuki jenjang perguruan tinggi setelah lulus SMA. Lama waktunya bervariasi, tetapi rata-rata ditempuh dalam 2 semester atau satu tahun dan maksimal 2 tahun.

Sebagai contoh di Jerman, sebelum masuk kuliah, pelajar dari Indonesia harus menempuh pendidikan di studienkolleg (foundation course atau bisa juga disebut pre-university). Nantinya nilai ujian akhir dari studienkolleg ini yang digunakan untuk mendaftar ke universitas.

Kalau sudah tahu informasi tentang studi ke luar negeri, kira-kira gimana? Mau lanjut kuliah ke luar negeri?

Oleh: Hapsari TM

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: