Inilah 6 Nasihat dari Buya Hamka yang Jleb Banget!

Siapa yang tidak kenal Buya Hamka?

Penulis sekaligus cendekiawan muslim Indonesia yang memiliki nama panjang Haji Abdul Malik Karim Amrullah ini memang begitu tersohor. Ia hadir mewarnai khaznah keislaman Indonesia dengan ciri khasnya tersendiri.

Salah satu kumpulan tulisan Buya Hamka (sapaan akrab Hamka) kali ini berjudul ‘Dari Hati ke Hati’. Salah satu buku yang menyoroti segala permasalahan yang berhubungan dengan agama, politik dan sosial budaya pada kurun waktu tertentu.

Dalam buku ‘Dari Hati ke Hati’ ini, Buya Hamka mengajak umat Islam untuk kembali menghidupkan ghirah keislaman. Mendalami Islam dengan sebenar-benarnya. Dan memperjuangkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin sampai akhir hayat.

Serta menyadari tantangan besar terhadap Islam sepanjang masa. Dalam menjalani kehidupan, Buya Hamka memberikan nasihat yang berharga kepada umat Muslim sebagaimana tertuang dalam artikel berjudul ‘Akhlak dan Ibadah’ berikut ini:

Biar akhlak nggak amburadul.

Mengapa akhlak masyarakat, bahkan manusia dewasa ini cenderung amburadul? Tidak peduli kiri-kanan yang penting diri sendiri senang.

Ya penyebab utamanya menurut Buya Hamka ialah karena kurangnya penanaman tauhid. Andai orang-orang tidak hanya sibuk dengan urusan pekerjaan. Andai orang tua tidak sibuk dengan gadget di tangan. Dan totalitas menanamkan tauhid kepada anak sejak buaian, akhlak generasi sekarang tidak akan berantakan.

“Sungguh, kepercayaan tauhid yang ditanamkan demikian rupa melalui agama yang diajarkan Nabi Saw, membentuk akhlak penganutnya.” Tulis Buya Hamka dalam pembuka artikel dalam bukunya ini.

Sebab bila tauhid sudah tertanam, tidak akan ada tempat akut, tempat menyerah, tempat berlindung melainkan Allah Swt.

Jangan mudah stres. Seperti apa pun kesulitan hidup, tidak lebih merupakan takdir Allah.

Selain terbentuknya akhlak yang teguh, dikuatkan lagi dengan kepercayaan terhadap takdir. Kepercayaan akan takdir Allah akan menimbulkan kepasrahan dalam usaha.

Percaya takdir bukan berarti menyerah kalah. Melainkan semakin giat berusaha dan sabar dalam menjalani kehidupan. Sebab seperti apa pun kesulitan hidup yang terjadi, tidak lebih dan tidak kurang, melainkan itu adalah takdir Allah Swt. 

Ada banyak sekali kesulitan, kesedihan dan kesusahan yang terjadi dalam perjuangan hidup. Namun bila kita percaya bahwa takdir Allah sesuai dengan apa yang kita usahakan, kita akan berusaha lebih keras lagi.

Kita akan menerima setiap kesulitan dengan lapang dada dan terus berjuang. Kita akan menerima kebahagiaan dengan cara bersyukur. Serta semakin giat berusaha untuk mencapai kebahagiaan hakiki di dunia hingga akhirat.

Ketakutan dan kecemasan hanya timbul apabila tidak mengerti hakikat hidup dan hakikat mati.

“Orang yang penakut ialah yang masih menyangka bahwa kehidupan sejati itu ialah pada tubuh yang kasar ini,” tulis Buya Hamka.

Itu artinya, hakikat hidup ini bukan terletak pada tubuh. Bukan terdapat pada pemenuhan segala keinginan nafsu. Bukan pula terdapat pada keabadian nyawa.

Sebab bila kita mengira hakikat hidup terletak pada sesuatu yang bersifat fisik, kita akan takut menghadapi kematian.

Hidup ini adalah perjalanan jiwa. Bila kita mampu menghidupkan jiwa kita dengan iman atau tauhid kepada Allah, kematian akan disambut dengan senang.

Kematian bukan lagi sesuatu yang menakutkan. Sebab tubuh ini berasal dari tanah. Jadi sudah pasti kembali ke tanah. Sedangkan jiwa akan tetap hidup hingga yaumil qiyamah.    

Teguhlah mempertahankan prinsip keyakinan (iman).

Orang yang menjalani kehidupan dengan penuh ketakutan, pertanda lemahnya iman atau keyakinan kepada Allah. Namun orang yang imannya kuat, ia tidak akan takut menghadapi kematian.

Kematian akan menjadi saksi akan keteguhan dia mempertahankan keyakinan dan lepas dari ketakutan. Orang yang mati karena mempertahankan prinsip keyakinannya kepada Allah, jiwanya akan tetap hidup di sisi Allah.

Segala bentuk ibadah akan menjadikan kita kuat.

Mengapa shalat disebut tiang agama? Karena ia adalah ibadah utama yang menjadi penyangga. Tanpa tiang, agama kita akan roboh. Tanpa agama, kita yang roboh. Jadikan ibadah sebagai sarana menguatkan diri.

Sebab kita adalah makhluk lemah. Tidak memiliki daya apa pun tanpa kekuatan yang berasal dari Allah. Dan Allah memberikan kekuatan kepada kita melalui ibadah yang kita lakukan.

Apalagi bila di sela-sela waktu, ditambah dengan ibadah yang lain seperti bekerja, belajar, silaturahmi dan lain sebagainya.

Semakin kita tegakkan ibadah, Allah akan semakin banyak menyuntikkan kekuatan kepada kita untuk menjalani kehidupan yang serba susah.

Puncak segala ibadah ialah mengharap ridha Allah.

Boleh saja kita beribadah agar Allah memberikan kekuatan dalam menjalani kehidupan. Shalat agar hidup menjadi tenang. Bekerja agar hidup menjadi sejahtera. Belajar agar tidak mudah diperdaya orang. Silaturahmi agar mempererat hubungan kebangsaan.

Hingga melakukan hal-hal yang menjadi kebutuhan manusia seperti makan dan minum, demi bertahan dalam menjalani kehidupan. Namun puncak segala ibadah harus semata-mata mengharap ridha Allah. Karena ketenangan dan kenyamanan hidup di dunia hingga akhirat hanya akan diperoleh bila Allah ridha kepada kita.

Nah, itulah mutiara nasihat tentang kehidupan dari Buya Hamka untuk umat muslim. Sebab mendalami Islam harus dimulai dari yang paling dasar dan dimulai dari diri sendiri dan keluarga.

Oleh: Gafur Abdullah.

Referensi: Prof. Dr. Hamka, Dari Hati Ke Hati, Gema Insani, 2016.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan