Inilah 7 Cara Berkomunikasi yang Efektif dengan Pasangan

Setiap pasangan membutuhkan komunikasi untuk menyampaikan berbagai hal yang dipikirkan dan dirasakannya. Komunikasi ini juga menjadi bekal penting supaya tak banyak terjadi kesalahpahaman antara mereka. Dari pola komunikasi ini pula akan ditemukan berbagai solusi dari masalah yang dihadapi. Namun, sudahkah dipahami cara berkomunikasi yang baik dengan pasangan kita?

Pahami bahwa pasangan adalah manusia yang ‘berbeda’

Dalam berkomunikasi harus dimengerti bahwa lawan bicara adalah seorang dengan karakter yang berbeda. Dibentuk oleh pengalaman hidup serta pengasuhan yang berbeda. Bahkan pendidikan juga acuan hidup yang tak sama.

Oleh sebab itu, tidak diperbolehkan memaksakan kehendak pada lawan bicara. Yang seharusnya dilakukan adalah membuat pandangan ‘ku’ dan pandangan ‘mu’ menjadi pandagan ‘kita’. Membagi apa yang aku ketahui untuk kamu pahami juga. Keduanya bisa saling menangkap maksud dan tujuan saat berbicara.

Tidak diperkenankan memaksakan sudut pandang ‘mu’ harus senada dengan sudut pandang ‘ku’, dan kamu harus menyingkirkan pendapat ‘mu’. Pola bicara macam ini akan membuat komunukasi tersendat dan tujuan dari mengkomunikasikan lebur seketika.

Gunakanlah nalar yang sehat dan bersih dari emosi

Orang dewasa berbicara menggunakan nalarnya, karena nalar yang memberi data saat menyeselesaikan masalah. Kecuali sedang dalam keadaan marah, emosi yang akan mendominasi saat berbicara dan melumpuhkan nalarnya.

Oleh karena itu, pada saat nalar dirasa melemah. Beri jeda supaya kekuatan nalar kembali seperti semula. Karena jika emosi berada di puncaknya, maka sebenarnya tak ada komunikasi. Tidak ada hal yang dibagikan, yang ada hanya saling lempar dan berebut kebenaran.

Gunakan kalimat yang jelas dan beri kesempatan lawan bicara untuk mengklarifiksai

Ini kesalahan yang banyak wanita lakukan, mereka mengharap lawan bicaranya bisa memahami banyak kode saat berbicara. Kode yang multitafsir itu akan mengurangi keefektifan berkomunikasi. Bahkan mampu membuat maksud dari berkomunikasi gagal seluruhnya. Gunakan kalimat yang jelas dan mudah dipahami serta tidak potensial terjadi multitafsir. Sekali lagi hindari kalimat yang memiliki maksud terselubung.

Setelah berbicara minta lawan bicara untuk mengklarifikasi maksud yang diterima. Adakah kesalahanpemahaman yang ditangkap? Samakan maksud yang ingin dikirim. Hal ini akan membuat seluruh informasi terserap tanpa adanya pembelokan pemahaman. Tujuan komunikasi harus clear.

Pilih waktu dan suasana yang tepat dan nyaman saat berbicara

Setiap pasangan memiliki timing berbeda saat menemukan zona ternyaman saat bicara. Atau jika belum menemukannya bisa mencoba ditanyakan pada lawan bicara kapan dan di mana tempat ternyaman baginya saat bicara?

Biasanya sebagian pasangan yang sudah menikah memilih berbicara saat sebelum tidur. Atau biasa disebut pillow talk. Bisa berbicara berbagai hal sederhana atau tentang apa pun. Fungsi pillow talk sendiri bisa digunakan sebagai afirmasi. Mengisi otak dengan hal-hal positif  sebelum kemudian tertidur.

Pillow talk bukan hanya sebuah formalitas, tapi bisa dijadikan sebuah kebiasaan ketika sudah menjalani rumah tangga. Menjadikannya kebiasaan perlu kesadaran masing-masing pada manfaatnya. Karena banyak manfaat yang bisa diambil dengan melakukan obrolan sebelum tidur ini. Selain untuk afirmasi juga bisa sebagai media menemukan solusi. Bahkan sebagai penguat simpul kejujuraan antar pasangan.

Memperhatikan bahasa tubuh saat berbicara

Albert Mehrabian (Guru besar Emeritus Psikologi UCLA) menyampaikan bahwa pada komunikasi face to face (komunikasi langsung) aspek verbal itu hanya menyumbang 7% pada hasil berkomunikasi. Komponen yang lebih banyak berkontribusi adalah intonasi suara (38%) dan body lenguange atau bahasa tubuh (55%).

Untuk komunikasi yang mampu menohok sampai hati, tiga bagian itu saling mendukung dan bisa selaras. Hindari komunikasi dengan menyudutkan. Lebih baik libatkan sentuhan, senyuman juga intonasi yang lembut.

Meski maksud yang kita kirim berisi kebaikan, namun disampaikan dengan nada tinggi dan air muka yang menakutnya. Seperti keadaan saat berselisih, jelas isi dari pembicaraan tak akan ditangkap oleh lawan bicara kita.

Yang perlu dihindari saat saling bicara adalah menggunakan nada suara tinggi, intonasi yang menyudutkan serta mimik yang seakan mengancam. Karena jika saat bicara hal tersebut dilibatkan, maka akan sia-sia apa yang sudah diucapkan.

Libatkan kelekatan dengan eye contact

Saat berbicara sisipkan juga tatapan mata yang lembut pada pasangan. Mata itulah cerminan isi hati. Karena mata adalah jendelanya. Pasangan yang diajak bicara akan menerima kesan bahwa yang diajak bicara amat terbuka, jujur dan tidak menutupi apa pun.

Dan jika kamu yang sedang mendengarkan pasangan berbicara. Dengan melihat dari matanya, maka kamu akan bisa menilai tentang apa yang diucapkan itu jujur, atau sebaliknya.

Pahami bahwa hasil dari komunikasi adalah tanggung jawab si pembicara

Jika lawan bicara memiliki pemahaman yang tidak serupa dengan maksud yang ingin disampaikan, jangan lantas mereka disalahkan. Pilih cara lain yang bisa digunakan untuk kembali berbicara dan membuatnya paham dengan kalimat dan cara yang lebih sederhana. Supaya lawan bicara memahami maksud atas apa yang ingin kita sampaikan padanya.

Analisa dari waktu ke waktu prospek hasil obrolan dengan pasangan, supaya jika dirasa tidak efektif bisa banting setir memilih strategi dan cara berkomuniaksi lain, jika memang itu diperlukan. Karena keterlambatan memahami hasil komunikasi dapat menimbulkan kejengkelan pada pasangan. Dan mampu menimbulkan masalah lain yang potensial lebih komplek lagi.

Nah, coba sekarang diraba bagaimana cara komunikasi kita selama ini dengan pasangan? Sudah masuk kategori efektif dan produktifkah? Atau sekedar membrondong dengan ribuan kalimat yang entah berapa persen yang dapat dipaham. Kita hanya mendapat lelah berbicara, namun sama sekali tak teraup maksud dan tujuannya.

Jika dirasa komunikasi kita salah arah dan salah kaprah. Yuk mulai memperbaikinya. Karena komunikasi adalah ‘organ vital’ perpasangan. Sama pentingnya dengan jantung yang kita miliki. Maka lekas perbaikilah. Sebelum banyak waktu dan energi yang tersita. Siap?

Oleh: Nida Fatah.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan