Inilah 8 Cara Agar Kamu Bisa Hidup Rukun dengan Orang Lain

Sebagai makhluk individu, penghambaan kita kepada Allah adalah yang utama. Tetapi sebagai makhluk sosial, sebaik apa akhlak kita, itulah yang Allah nilai. Tidak ada satu pun manusia yang dapat hidup tanpa kehadiran orang lain.

Sebaliknya, pasti ada orang lain yang membutuhkan kehadiran kita. Hubungan saling membutuhkan tersebut akan menciptakan interaksi sosial yang tak terelakkan dari gesekan.

Mengapa harus ada gesekan? Karena perbedaan.

Tentu tidak mudah menjalin interaksi sosial di tengah perbedaan yang sangat beragam. Namun sejauh ini banyak orang yang sukses dalam kehidupan sosial. Salah satunya ditandai dengan orang lain yang merasa tertarik dan simpatik terhadap orang tertentu.

Dalam hal ini, Karim Syadzali memberikan beberapa nasihat bijak agar senantiasa menarik di hadapan orang lain:

Pertemuan Pertama Begitu Menggoda.

Kesan pada pertemuan pertama memang sangat menentukan. “Pilih kata-kata dengan cermat ketika berbicara dengan orang lain, terutama di pertemuan pertama.

Tampakkan wajah berseri-seri ketika Anda berbicara kepada orang lain. Jangan biarkan tubuh Anda kaku dan wajah cemberut meskipun kata-kata Anda lebih lembut dari semilir angin,” begitulah nasihat A’idh Al-Qarni.

Buatlah kesan terbaik pada pertemuan pertama. Karena itu akan sangat menentukan terhadap pertemuan-pertemuan berikutnya.

Cara Terbaik untuk Berdebat Adalah Menghindarinya.

Bedakan antara diskusi dan debat. Diskusi ialah saling bertukar pendapat. Saling memperbaiki bila ada yang kurang tepat. Sedangkan debat saling adu pendapat untuk membuktikan siapa yang paling kuat.

Dan tidak ada cara yang paling baik dalam berdebat kecuali menghindarinya. Sebab debat itu tidak pernah mendatangkan faedah.  Hanya kemudharatan yang datang. Karena debat dapat mendatangkan kecanggungan dalam kehidupan sosial. Allah juga tidak suka pada orang yang suka berdebat.

Rasakan Kebahagiaan dan Kesedihan Orang Lain.

Turut berbahagia atas kebahagiaan orang lain mungkin mudah. Selama tidak ada rasa benci di dalam hati kita. Namun ikut merasakan kesedihan orang lain itu tidak mudah. Apalagi memunculkan empati di dalam hati.

Untuk sukses dalam kehidupan sosial, kita harus melatih diri agar memiliki empati yang luar biasa atas kesusahan orang lain. Juga turut berbahagia atas kebahagiaan orang lain meski dia sempat menyakiti kita.

Sumpah Itu Tidak Perlu Jika Tidak Diminta.

Memang ada sebagian orang yang ada apa sedikit, langsung mengucap sumpah. Padahal sumpah itu tidak perlu diucapkan selama tidak diminta atau kita tidak sedang difitnah.

Sumpah ibarat berlian yang tidak perlu dijadikan alat ‘jual-beli’ perkataan. Ia cukup disimpan rapat dan hanya digunakan sesekali bila terdesak.

Cukup jadikan setiap perkataan sebagai janji yang harus ditepati. Sebab tanpa sumpah pun, perkataan seorang muslim sejati adalah janji yang memang harus ditepati.

Senantiasa Pancarkan Aura Positif

Aura positif ialah sikap, bahasa tubuh, cara berpikir serta perkataan yang mampu membuat orang merasa nyaman.

Merasa terinspirasi dan termotivasi bila berada di dekatnya. Tidak ada orang yang suka kepada kita bila memancarkan aura negatif.

Bagaimana orang mau betah, kalau ada yang tidak enak sedikit, langsung mengeluh. Atau ada sesuatu yang tidak berkenan di hati, langsung protes tidak terima.

Bagaimana mau akrab, mau kenal saja malas. Kenal, apalagi akrab dengan orang yang memancarkan aura negatif, tidak akan mendatangkan manfaat.

Hindari Kebohongan Meski Bercanda.

Karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Begitu kata pepatah lama. Butuh waktu berbulan-bulan, bahkan mungkin bertahun-tahun untuk membangun sebuah kepercayaan. Namun hanya butuh waktu beberapa detik untuk menghancurkan kepercayaan tersebut.

Kepercayaan orang lain kepada kita akan hancur seketika tatkala kita berbohong. Walau kebohongan tersebut terpaksa, tidak disengaja, atau bercanda. Jadi jangan pernah jadikan kepercayaan orang lain sebagai sebuah lelucon. Berbohong karena terpaksa dan bercanda saja dapat menghancurkan kepercayaan. Apalagi kebohongan yang sengaja dan dilakukan berulang kali.

Menjaga Harga Diri Seorang Penanya Merupakan Salah Satu Kebaikan.

Kebaikan kepada orang lain bukan hanya pada saat kita memberikan sesuatu. Bukan pula hanya ketika kita membantu orang lain yang sedang membutuhkan.

Menjaga harga diri seorang penanya juga merupakan salah satu bentuk kebaikan sosial. Yakni dengan cara menghargai ketidaktahuannya.

Kemudian menjawab pertanyaan tulus dengan jawaban yang juga tulus. Tidak disertai niat mengejek, apalagi menghina. Itu artinya, kemuliaan kita juga ditentukan dari seberapa mampu kita menghargai orang lain.

Kemuliaan akan Datang Bila Kita Tidak Membutuhkan Apa yang Menjadi Milik Orang Lain.

Sekali-kali jangan sampai kita merasa butuh terhadap apa yang sudah menjadi milik orang lain. Apalagi menginginkannya. Karena itu merupakan sebuah kehinaan. Rasa butuh terhadap milik orang lain dapat memunculkan rasa iri, dengki bahkan ingin merebut.

Merasa cukup dan bersyukur dengan apa yang kita miliki dapat melindungi saudara-saudara muslim dari kejahatan diri kita. Apalagi, kejahatan yang muncul dari rasa iri merupakan kejahatan yang sangat menghancurkan. Ia dapat lebih kejam dari pembunuhan berdarah dingin sekalipun.

Semoga kita bisa memetik hikmah dari nasihat-nasihat berharga Karim Sadzali dalam bukunya yang berjudul Agar selalu Tampil Menarik dan Kharismatik di atas. Hikmah-hikmah di atas hanya sebagian kecil dari untaian berjuta hikmah dalam kehidupan sosial yang terdapat pada buku tersebut.

Oleh: Gafur Abdullah.

Referensi: Karim Syadzali, Agar Selalu Tampil Menarik dan Kharismatik, Azhar Risalah, 2013.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan