Ilustrasi dari Islamidia

Inilah 8 Rahasia Menjadi Pasangan yang Diridhai Allah Swt

Pada hakikatnya, setiap orang akan dipertemukan dengan seseorang yang akan menjadi pasangannya melalui jalan pernikahan. Tidak sedikit dari kita pasti ingin menjadi pasangan pengantin yang bahagia, tapi bagaimana caranya agar menjadi sepasang pengantin yang diridhai Allah Swt? Agar buah dari pernikahan menjadi kebahagiaan yang abadi?

Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa menikah, dia telah melindungi separuh agamanya. Karena itu hendaklah dia bertakwa kepada Allah dalam memelihara separuhnya lagi.” (HR. Al-Hakim dan Al-Tahawi)

Dalam hadits di atas, menunjukan bahwa dari sekian banyak sunah yang diajarkan Rasulullah Saw, menikahlah yang menjadi separuh dari agamanya. Bahkan hal ini adalah hal yang sangatlah penting dalam menyempurnakan agama.

Menentukan tujuan berumah tangga

Dalam jalinan pernikahan atau berumah tangga, harus jelas apa tujuannya. Menikah bukan hanya untuk menyenangkan hati saja, tapi juga untuk menyempurnakan agama kita. Rasulullah Saw bersabda, Wahai para pemuda! Barangsiapa di antara kalian berkemampuan untuk menikah, maka menikahlah, karena menikah itu lebih menundukkan pandangan, dan lebih membantengi kemaluan (farji). Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia shaum (puasa), karena shaum itu dapat membantengi dirinya.

Menjalankan peran masing-masing

Salah satu kunci kebahagiaan di dalam keluarga yaitu menjalankan perannya masing-masing seperti halnya suami yang bertanggung jawab kepada istri untuk mencari nafkah dan istri yang menjalankan kewajiban kepada suami.

Beberapa peran istri yang menjadikan keluarga bahagia adalah mengatur harta suami dan mengelolah amanahnya, melayani suami dan mendukung pekerjaan yang diemban suami (tentunya pekerjaan yang halal), sebagai seorang ibu harus berperan baik untuk mendidik anak-anaknya, membuat keluarga nyaman terutama suami dan kasih sayang kepada suami, mengingatkan suami jika akan menuju perbuatan maksiat, tidak mempersulit suami dalam mencari dan menghasilkan nafkah yang halal dan mengelola asset dalam rumah tangga.

Rumah tangga yang berkarakter Islami

Di dalam hubungan berumah tangga pasti ada saja masalah, namun jangan anggap masalah itu sebagai hal yang serius bahkan sampai ada di dalam situasi yang rumit, seperti perceraian.

Sebagai firman Allah Swt dalam ayatnya berikut ini, “Thalaq (yang dapat dirujuk) itu dua kali. (Setelah itu suami dapat menahan dengan baik, atau melepaskan dengan baik). Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali keduanya (suami dan istri) khawatir tidak mampu menjalankan hukum-hukum Allah.

Jika kamu (wali) khawatir bahwa keduanya tidak mampu menjalankan hukum-hukum Allah, maka keduanya tidak berdosa atas bayaran yang (harus) diberikan oleh istri, untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa melanggar hukum-hukum Allah, mereka itulah orang-orang zhalim.” (Qs. Al-Baqarah ayat 229)

“Kemudian jika dia (suami) menceraikannya setelah thalaq yang kedua, maka perempuan itu tidak halal lagi baginya sebelum dia menikah dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (suami pertama dan mantan istri) untuk menikah kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukkum Allah. Itulah ketentuan-ketentuan Allah yang diterangkan-Nya kepada orang-orang yang berpengetahuan.” (Qs. Al-Baqarah ayat 230)

Saling menjaga aib pasangannya

Menjaga aib pasangan dan keluarga adalah tanda bahwa pernikahan itu diridhai Allah. Apabila seorang istri gemar membicarakan tentang keburukan suami dan keluarga suaminya yang tidak perlu diceritakan kepada orang lain, maka sebenarnya ia tidak mengetahui tentang inti dari sebuah pernikahan.

Apalagi menceritakan kepada orang lain dengan menambah-nambahi cerita itu agar berkesan menarik simpati orang lain sehingga orang akan menilai bahwa istri itulah yang kelihatan paling benar dan suami yang salah.

Perubahan sifat yang lebih baik setelah menikah

Apabila setelah pernikahan perilaku istri atau suami ternyata lebih baik dari pada sebelumnya, maka ini bertanda bahwa pernikahan yang kalian jalani itu diridhai oleh Allah.

Apabila perilaku suami atau istri malah sebaliknya, maka segeralah introspeksi diri. Seseorang berumah tangga bertujuan untuk memperbanyak keturunan, menjalankan sunah yang diajarkan Rasul Saw, hidup yang harmonis, bahagia, bukan malah menjadi lebih buruk.

Mengubah keadaan agar pernikahan diridhai Allah

Jika jalannya pernikahan diwarnai dengan banyaknya pertengkaran, permusuhan bahkan dendam kepada istri dan suami, diantara orang tua dan anak, diantara saudara sendiri, diantara saudara suami atau istri, jangan pernah diam saja.

Ketika melihat situasi seperti ini karena hal ini adalah salah satu tanda bahwa pernikahan yang sudah dilakoni tidak diridhai Allah Swt. Maka dari itu introspeksi diri agar lebih baik dan pernikahan mendapat ridha Allah Swt.

Saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing

Ketika kedua calon sudah saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing dan saling melengkapi kekurangan dari masing-masing calon, maka pernikahan yang dilakoni akan mendapat ridha Allah Swt. Insya Allah.

Paham tentang arti pernikahan

Mengerti tentang arti pernikahan bukan hanya mencintai pasangan, namun juga mencintai keluarga sebagai bentuk cinta kepada Allah, sehingga di dalam Islam diwajibkan bagi calon pasangan yang akan menikah untuk mengenal keluarganya masing-masing terlebih dahulu.

Sebelum menikah kedua keluarga harus bertemu dan merestui adanya pernikahan yang akan mereka langsungkan, terutama restu dari orangtua yang telah membesarkan anaknya masing-masing dan mengantarkan untuk menikah nantinya.

Terakhir, pernikahan yang bahagia adalah penyatuan dua orang yang bersedia saling memaafkan dan memperbaiki diri, semoga bermanfaat ya.

Oleh: Tim Trenlis.co, disunting dari beberapa sumber.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan