TANGGAL 8 Januari 2018, untuk pertama kalinya, Trenlis.co menayangkan kisah yang saya tulis. Ini jelas spesial buat saya, karena sebelumnya, saya enggak pernah nulis cerita fiksi. Keren banget, kan, Trenlis bisa maksa saya untuk nulis fiksi?

Nah, teman-teman bisa baca tulisan fiksi pertama saya di sini. https://trenlis.co/kak-kutunggu-kamu-mendatangi-ayahku/

Setelah baca, teman-teman bisa bandingkan juga dengan tulisan saya yang belum lama tayang. Kalau teman-teman cermati, ada banyak perbedaan di antara keduanya. Setahun berselang, ada banyak perbaikan di tulisan saya, baik dari teknik penulisan mau pun unsur cerita. Iya, kan?

Nah, untuk merayakan satu tahun saya menulis kisah fiksi, saya mau kasih bingkisan spesial untuk teman-teman. Yaitu, 8 Rekomendasi Kisah Trenlis Versi Hapsari. Rekomendasi ini diambil dari kisah-kisah yang jadi favorit saya selama setahun ini. Kenapa cuma delapan? Sebenarnya hanya menyesuaikan tanggal aja. Namanya juga perayaan tanggal 8. Heu-heu.

Sulit sekali untuk memilih delapan tulisan yang keren dari semua tulisan yang ada di Trenlis, karena sebetulnya ada lebih dari delapan kisah yang saya sukai. Bagi saya, kisah yang berhasil tayang itu sudah keren. Gimana enggak sih, makin lama standar Trenlis makin naik soalnya. Tapi, enggak mungkin dong, saya ulas semuanya. Bisa jadi butuh waktu setahun untuk selesai mengulasnya. Terdepak nanti saya dari Trenster karena enggak kelar-kelar nulis tema lainnya.

Oke, kita mulai aja, ya.

Yang pertama, Jodoh itu, Nggak Cuma Sayang Sama Kamu.

Kisah yang ditulis oleh Kak Oky E. Noorsari ini saya baca berkali-kali, lho. Begini, selain secara teknik penulisan sudah bagus—beliau lebih jago dari saya—saya juga merasa punya kegelisahan yang sama dengan apa yang dialami si tokoh.

Saya enggak mengalami hal serupa, tapi sebagai remaja—yang udah mulai masuk dewasa awal—saya merasa suara saya soal jodoh terwakili di sini. Ya, kita kan kalau cari jodoh pasti punya kriteria tertentu, kan. Nah, kalau teman-teman punya keresahan apa lagi soal jodoh?

Yang kedua, milik Kak Mariana. Bila Hatimu Terlalu Gaduh, Kejarlah DIA Sedapat yang Kau Mampu.

Media sosial itu bisa banget dijadikan medan riset. Kasus sederhana yang terjadi di dunia maya bisa jadi konflik dalam sebuah kisah, lho. Salah satu buktinya adalah kisah satu ini, pasti ada kan, tokoh yang perilakunya enggak jauh dari tokoh dalam kisah ini? Coba, mana suaranya yang rajin buka medsos? Daripada dipendam, mending ceritain aja deh.

Lanjut …

Bukan karena ada kata ‘jodoh’ di dalam tulisan ini. Tapi …

Eh, coba baca dulu, deh tulisan Mbak Mustika yang satu ini. Surat Cinta untuk Mas Jodoh yang Masih Dirahasiakan-Nya.

Nah, ini jadi kisah pertama yang bentuknya surat tanpa alamat. Bagi teman-teman yang merasa kesulitan bikin dialog, bisa coba memulai dengan model tulisan kayak gini. Kenapa saya suka tulisan ini? Lagi-lagi, karena saya merasa curhatan saya terwakili di sini.

Kedua, karena ternyata ada banyak perasaan kita yang bisa tersampaikan lewat tulisan semacam ini. Saya juga pernah coba nulis surat tanpa alamat. Ada yang sudah baca surat saya untuk (calon) ibu mertua?

Eh iya, saya kasih bocoran sedikit nih. Mbak Mustika adalah salah satu Trenster yang tulisannya sering banget mencapai top view!

Oke, next

Biasanya, selain karena kisah itu bagus, alasan lain kenapa saya bisa baca berulang-ulang kisah yang sama adalah karena tulisannya rapi. Nah, saya dulu mengamati tulisan Kak Kayla untuk mencari tahu bagaimana cara menulis kisah fiksi dengan rapi dan cantik. Iya, saya belajar dengan membaca tulisan ini lebih dari satu kali.

Di kisah berjudul Awalnya Aku Hanya Ingin Tampil Trendi Saja, ada beberapa kata yang saya suka, seperti “sepulas senyum” dan “kutarik dua sisi bibir.” Saya belajar bagaimana Kak Kayla menggambarkan cara tokoh tersenyum, bukan cuma menuliskannya dengan kalimat, “lalu aku tersenyum.”

Sudah ada empat kisah, sekarang kita bahas yang kelima (jangan pakai nada lagu Tombo Ati, lho). Pindah dari haluan yang berbau-bau jodoh dan romance, saya kasih rekomendasi kisah yang segar. Jualan Online Boleh (Anti) Baper. 

True story yang dibawakan dengan gaya semi-ngebanyol ini masih jarang disaingi penulis lain. Ya, di tengah kisah Trenlis yang dibawa dengan gaya manis, romantic, dan bikin hati keiris-iris, kisah ini menawarkan kesan yang lain. Fresh.

Baca ini, saya jadi ketawa sendiri, ya menertawakan diri saya sendiri karena jualan online juga. Ayo, siapa lagi yang bisa bikin kisah penuh makna dengan gaya rada-rada stand up comedy gini?

Sekarang, saya mau kasih cerita yang nuansanya agak sendu-sendu gitu. Kisah yang ditulis Kak Sri Bandiyah yang berjudul Ya Allah, Kenapa Aku Lahir dari Keluarga Miskin. Pertama jelas sekali, tulisannya rapi. Kedua, ada solusi yang ditawarkan dalam tulisan ini. Jadi, selain menghadirkan masalah atau konflik, ada sisi bersebrangan yang dihadirkan.

Memang enggak semua orang dapat ujian miskin, tapi kisah ini juga mengangkat soal ujian bersyukur. Ini bisa jadi teknik menyindir yang apik! Kita kan kadang kurang bersyukur, ya? Itu alasannya saya suka tulisan ini. Nyindir halus. Jadi kita tersentil dengan elegan.

Sudah berapa? Enam, ya?

Oke, sekarang kita ulas kisah ketujuh.

Ada satu true story yang jadi favorit saya, berlatar belakang gempa Jogja, 2006 silam. Judulnya Jika Saat Itu Benar-Benar Kiamat, Apakah Tetap Ada Cinta di Antara Kita? Kalau saya gambarkan tulisan ini, kurang lebih begini: apa pun pesan yang didapat dari situasi dan konflik dalam cerita, semua harus kepada kepercayaan kita kepada-Nya. Udah, gitu aja. 

The last but not least.

Eh, by the way, urutan kisah rekomendasi saya ini random, ya. Bukan berdasar dari yang paling saya sukai. Saya curhat dulu, nih, enggak mudah nyari satu per satu kisah yang sudah tayang di Trenlis. Coba aja deh, apalagi sampai nyari postingan setahun lalu. Beuh.

Baik, kembali ke rekomendasi tulisan.

Kak Nurwa adalah salah satu penulis yang hampir semua tulisannya di Trenlis saya sukai—setelah Kak Oky E. Noorsari. Heu-heu. Tapi, salah satu tulisannya yang paling jleb adalah kisah bertema Bapak. Kak Nurwa memberi kita pandangan lain soal hubungan anak dan Bapak. 

Bapak yang (Tak) Dirindukan bukan sekadar kisah curhat semata. Pelajarannya kental banget, bagaimana si tokoh “aku” enggak memilih bersikap buruk, karena dendam atas cara si Bapak memperlakukannya.

Soal kerapian dan teknik nulis, udah jempol banget deh. Coba perhatikan cara menulis dialog, bahasa daerah dan tanda baca lain. Dari satu tulisan ini saja, kita bisa dapat banyak pelajaran menulis.

Nah, sudah lengkap delapan kisah!

Sebetulnya, kalau mau nulis di Trenlis, kita enggak perlu jauh-jauh nyari konflik. Dari delapan kisah yang saya pilih, kayaknya 80% kisahnya adalah curhatan para penulisnya. Ha-ha-ha ….

Kalau mau jujur, sebetulnya hidup kita enggak jauh-jauh dari masalah, kan? Jadi … mari, teman-teman, kita ubah segala gelisah menjadi naskah! []

Oleh: Hapsari T. M.

Ilustrasinya dari sini.

Facebook Comments

This is a demo store for testing purposes — no orders shall be fulfilled. Dismiss

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: