Inilah 9 Nasihat Penyemangat Hidup dari Ibnu ‘Athaillah

Ibnu ‘Athaillah, bagi sebagian orang nama tersebut mungkin sedikit asing. Namun tidak bagi umat muslim yang gemar membaca nasihat-nasihat sufistik.

Ibnu ‘Athaillah merupakan salah satu tokoh muslim yang terkenal di bidang spiritualitas atau sufi. Nasihat spiritualnya mampu menyejukkan serta menenangkan hati yang gelisah, mampu memberikan kesejukan pada hati yang gersang dan mampu mengembalikan semangat yang kendor.

Salah satu karyanya yang cukup terkenal dan fenomenal adalah kitab Al-Hikam. Sebuah kitab yang berisi nasihat-nasihat spiritual. Tentang introspeksi diri, tentang hubungan manusia dengan Allah, tentang hubungan manusia dengan manusia, juga bagaimana seharusnya kita menjalani kehidupan di dunia.

Berikut ini beberapa nasihat-nasihat spiritual dari Ibnu ‘Athaillah dalam kitab Al-Hikam:

  • Orang yang terlalu mengandalkan kekuatan usaha, tanda bahwa sangat lemah pengharapannya kepada Allah. 
  • Allah memang menganjurkan manusia untuk berusaha semaksimal mungkin. Namun bukan lantas kita berharap hasil kepada usaha tersebut. Sebab Allah satu-satunya tempat berharap.

Ketika kita sudah terlalu mengandalkan kekuatan usaha, sama saja kita menduakan Allah. Padahal Allah tetap yang pertama dan utama. Begitu pula dalam belajar maupun mencari rejeki.

Kita boleh berharap memperoleh ilmu atau rezeki, tapi berharaplah hanya kepada Allah. Bukan kepada usaha tersebut. Karena kadang cara dalam usaha bisa ditiru, tapi rezeki tetap tidak bisa ditiru. Semua bergantung pada kehendak Allah.

  • Rajinmu ingin mencapai sesuatu pasti akan sampai kepadamu. Serta kekuranganmu dalam setiap kewajiban yang ditugaskan kepadamu menandakan butanya mata hatimu.

Nasihat Ibnu ‘Athaillah yang satu ini hendak menegaskan bahwa rezeki setiap makhluk sudah dijamin oleh Allah. Itu adalah janji Allah. Asal mau berusaha, kesuksesan sudah pasti akan menghampiri. Itu janji Allah.

Dengan syarat, kita penuhi kewajiban sebagai hamba-Nya. Kalau kita sampai meninggalkan kewajiban hanya karena sibuk mengejar janji Allah, maka itu pertanda bahwa hati kita telah buta. Kita sibuk bekerja sampai lupa shalat. Itu sama halnya kita mengejar sesuatu yang sebenarnya sudah terjamin, tetapi melupakan tanggung jawab.

  • Jangan sampai dirimu ragu tentang janji Allah sekalipun janji itu belum terlaksana atau sudah tiba masanya. Agar keraguan hatimu itu tidak menyalahi pandangan mata hatimu, atau memadamkan cahaya hatimu.
  • Dalam menjalani kehidupan, kita kadang terlalu berharap pada sesuatu yang sepertinya sudah pasti.

Misalnya kita punya hutang, dan besok gajian. Saat ditagih, kita terlanjur mengatakan bahwa besok akan bayar. Tepat setelah menerima gaji. Tapi kenyataannya setelah esok hari, gaji belum cair karena laporan keuangan terlambat. Akhirnya, rencana untuk membayar utang pun tertunda.

Nah, dalam posisi seperti ini, Ibnu ‘Athaillah melarang kita berkecil hati. Apalagi sampai terselip keraguan kepada Allah akan janji-Nya. Agar keraguan tersebut tidak membuat hatimu gelisah hingga lalai dari mengingat Allah.

  • Amal lahiriah ibadah merupakan kerangka. Dan ruhnya ialah keikhlasan hati dalam melakukannya.

Amaliah merupakan jenis ibadah fisik. Tanpa keikhlasan (yang merupakan salah satu ibadah hati), amal menjadi sia-sia. Kita memang harus shalat, berpuasa, bersedekah dan menolong orang yang membutuhkan. Tapi setelah itu, lupakan semua amal tersebut. Anggap kita tidak pernah melakukannya. Karena di situlah letak keikhlasan hati dalam ibadah.

  • Menunda-nunda amal hanya karena menanti kesempatan yang baik, adalah suatu pertanda kebodohan yang sudah menyatu dengan jiwa.

Kadang dalam satu sesi hidup, kita cenderung menunda-nunda pekerjaan dengan berbagai alasan. Kadang menganggap saat itu sedang tidak mood. Kadang pula menunda pekerjaan karena menganggap waktunya kurang tepat. Padahal, kebiasaan menunda-nunda menurut Ibnu ‘Athaillah merupakan tanda kebodohan yang sudah mengakar.

  • Janganlah berteman dengan seseorang yang tidak bisa mendorongmu lebih semangat taat kepada Allah. Serta perbuatan dan kata-katanya tidak membimbing kamu di jalan Allah.

Dalam hal mencari teman pun, Ibnu ‘Athaillah mewanti-wanti kepada kita. Agar berhati-hati dalam mencari teman. Berkawan akrablah dengan orang yang mampu mendekatkan kita kepada Allah. Untuk orang yang hanya menjauhkan kita dari Allah, boleh saja kenal, tapi tidak perlu berkawan akrab. Kecuali bila kita yakin mampu mempengaruhi mereka untuk lebih dekat kepada Allah dan membimbing mereka menuju jalan-Nya.

  • Suatu harapan harus disertai dengan amal (tindakan). Kalau tidak, harapan itu hanya lamunan belaka.

Soal cita-cita, siapa pun berhak untuk memiliki cita-cita yang tinggi. Ingin menjadi pengusaha sukses sehingga bisa mendermakan harta kepada orang yang membutuhkan, misalnya.

Atau, ingin menjadi penulis agar bisa berbagi ilmu. Atau mungkin, ingin menjadi pemimpin (presiden) agar bisa menegakkan keadilan di muka bumi. Namun kalau cita-cita tersebut tidak disertai usaha kuat untuk mencapainya, hanya menjadi mimpi di siang bolong.

Gunanya apa? Sama sekali tidak ada. Hanya memperpanjang angan-angan belaka. Jadi kalau kita punya mimpi, imbangi dengan tindakan. Sehingga tidak mejadi angan-angan belaka.

Itulah beberapa nasihat spiritual dan motivasi dari Ibnu ‘Athaillah. Semoga bisa menjadi bahan renungan sekaligus melejitkan semangat kita untuk hidup lebih baik lagi. Siap?

Oleh: Gafur Abdullah.

Tinggalkan Balasan