Ilustrasi dari Kompas.

Inilah Bapak Saya. Bapak Inspiratif Sepanjang Masa.

Saat kami berbincang hangat di motor, tetiba Bapak menekan klaksonnya dengan kuat, namun suaranya tak lagi terdengar karena saya dan Bapak sudah berguling-guling di atas aspal hitam pekat hingga tanah di samping jalan. Dengan cepat rasa sakit menjalar ke seluruh tubuh, sejenak kerja otak terhenti hingga pikiran kosong. Saya lihat Bapak sudah terduduk dengan posisi yang sama di depan saya.

Kejadian itu terjadi begitu cepat, seorang anak lari melintas di jalan yang kami lalui saat itu, dan Bapak dengan refleksnya membanting motor ke kiri supaya tidak menabrak anak tersebut. Warga yang melihat kejadian segera memboyong kami menuju warung terdekat, dibaringkan dan ditenangkan di sana.

Setelah keadaan agak tenang dan beberapa kali menelepon keluarga di sana, Bapak melirik saya dan bertanya, “Masih kuat, Boy? Kita lanjutkan dulu pakai motor sampai rumah sakit terdekat,” usul Bapak tanpa mengintervensi sedikit pun.

Saya mengangguk setuju walau warga di sana beberapa kali mencegahnya, tapi saya tahu, ia adalah Bapak saya, Bapak terkuat yang saya punya, seorang yang selalu pantang untuk merepotkan orang lain selama bisa melakukannya sendiri, belum lagi tempat kami terjatuh memang jauh dari rumah sakit umum karena termasuk daerah pelosokan.

“Pak, gak apa-apa? Itu lukanya lumayan banyak,” ucapku pada Bapak saat dalam perjalanan.

“Gak apa-apa, kamu tahan, ya, Boy sakitnya. Maaf Bapak tadi kurang fokus di jalan sampai gak lihat ada anak yang nyebrang.”

Saya termenung lama mendengar permohonan maafnya. Itulah Bapak saya, Bapak kehidupan saya. Darinyalah saya belajar banyak tentang cara memaknai hidup, tentang hati yang lapang. Kesalahan yang diperbuat anak kecil yang menyebrang sambil berlari itu sama sekali tidak Bapak bahas, ia pantang untuk menyalahkan bahkan jika iya dia benar. Satu sifat berharga yang langka dimiliki manusia.

Sebenarnya bisa saja Bapak menuntut keluarga anak itu untuk mengganti semua kerugian yang kami dapat dari kecelakaan tersebut, tapi tidak Bapak lakukan, ia lebih memilih untuk menyalahkan dirinya sendiri dan segera mencari solusi atas masalah yang tengah kami hadapi.

Setelah kami sampai di rumah sakit, keluarga sudah menyambut dengan raut muka penuh khawatir, segera membawa kami ke ruang perawatan. Tak ada yang bertanya kronologis kecelakaan, semua tahu sifat Bapak, ia tak akan bercerita panjang tentang hal sepele seperti itu.

Saya mendapati luka ringan saja sebenarnya, lain dengan Bapak yang punya banyak luka di tangan dan kakinya, perawatannya pun cukup menghabiskan waktu lama.

Kami dirawat dalam ruangan yang sama, hanya dipisahkan oleh tirai putih khas kepunyaan rumah sakit di seluruh dunia.

“Udah gak apa-apa, Boy. Besok-besok Bapak anter lagi kamu ke pesantren,” ujar Bapak nyengir sambil membukakan tirai yang memisahkan kami.

Saya hanya mengangguk dan tersenyum saja menanggapi ucapannya sambil fokus melihat banyak perban yang menempel di kaki dan tangannya.

“Tapi kenapa ya, kok kita bisa kecelakaan gini?” Lagi-lagi Bapak bertanya seolah tak ingin membiarkan saya memikirkan banyak hal.

“Kan karena anak kecil tadi nyebrang ngedadak sambil lari, Pak,” jawab saya cepat.

Saya lihat Bapak menggeleng kecil tak menyetujui argumen yang saya utarakan.

“Kurang tepat, Boy.” Khas sekali, ia begitu pantang untuk mengatakan kata salah pada siapapun yang tidak sepaham dengannya. “Apa mungkin karena Bapak lupa berdoa ya tadi pas mau pergi? Kamu ngedoa gak, Boy?

Saya tertegun sesaat, lalu cengengesan karena menyadari saya memang tidak berdoa saat mau pergi tadi.

“Nah, iya kan.”

“Hehe …”

“Pemilik semua yang ada di semesta ini kan milik Allah ya, semuanya jinak juga ya karena Allah yang berkehendak, Allah yang nyuruh. Kalau kita gak berdoa ke Allah ya siapa juga yang jinakin tuh motor kita, tangan kita, anak yang nyebrang tadi juga. Jadi ya wajar aja ternyata kalau anak itu tiba-tiba mau nyebrang dengan cara lari, wong Allah gak jinakin kaki anak itu karena kita memang gak minta ke Allah di awal kita berangkat. Astaghfirullah …”

“Iya juga ya, Pak. Astaghfirullah …”

Itulah Bapak saya. Bapak inspiratif sepanjang masa. Ia mengajarkan saya bahwa hukum sebab-akibat memang benar adanya. Apa yang kita lakukan saat ini adalah sebab dari apa yang telah kita lakukan pada masa yang lalu. Ia selalu mengajarkan untuk intropeksi terhadap diri sendiri daripada menyalahkan orang lain.

Semua hal yang Bapak lakukan terkhusus dalam kejadian itu begitu melekat erat dalam otak, membuat diri dengan spontan merefleksikan semua yang dilakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk saat ini, saat raga sudah jauh dari Bapak namun ideologisnya tertancap begitu dalam di jiwa. Saya, dalam kecelakaan yang sama dalam waktu yang berbeda mempraktikan apa yang dulu Bapak lakukan.

Waktu saya diserempet dan jatuh lagi dari motor di negeri orang, meski saya dalam posisi yang tak salah, sedikitpun tak ada rasa ingin menyalahkan, meminta rugi atas segala apa yang dilakukan pelaku penyerempetan. Saya bahkan meminta maaf terlebih dahulu karena merasa sudah begitu banyak merepotkan banyak orang. Dan meski dengan luka yang cukup untuk membuat nyeri, saya sekali lagi mempraktikan apa yang Bapak lakukan dulu, saya bawa lagi motor sendiri untuk pulang ke kosan.

Semua terjadi begitu refleks tanpa embel-embel pertimbangan. Sikap Bapak dalam pandangan saya sudah cukup menjadi  representasi dalam memandang hidup. Karakter yang tumbuh dalam diri saya adalah isi jiwa dalam Bapak dulu. Beberapa kali saya bersyukur memiliki Bapak, ia adalah sumber pelajaran. Benar saja kata pepatah, ‘Pengalaman adalah guru yang terbaik’. Ya, pengalaman memiliki ayah seperti Bapak lah yang menjadi guru terbaik dalam menghadapi hidup.

Bapak telah mengajari saya bahwa tugas ayah bukan hanya sekadar memberi makan, tapi juga menyontohkan kebenaran, bukan hanya sekadar memimpin, tapi juga membimbing. Bukan pula hanya sekadar pencari uang, tapi juga sumber pemberi kasih sayang. Bapak, ia adalah Bapak kehidupan.

Oleh: Tazkia Royyan Hikmatiar.

1 thought on “Inilah Bapak Saya. Bapak Inspiratif Sepanjang Masa.”

  1. Tulisannya oke, sangat mengispirasi sebagai manusia–mahluk sosial tidak bisa berbuat selalu menyalahkan orang lain. tapi instropeksi diri akan lebih baik dan berpikir positiflah lebih baik untuk diri sendiri. Terimakasih kak Tazkiya Royyan

Tinggalkan Balasan