cara menghindari PHP

Inilah Cara Agar Tidak Menjadi Korban PHP

Kena PHP adalah pengalaman yang paling pahit, menyakitkan, dan tak diinginkan oleh siapa pun. Namun sayangnya, tidak semua orang bisa selamat dari jebakan seorang ahli PHP!

Tahu tidak, seorang master pemberi harapan palsu biasanya dapat membuat korbannya tak sadar bahwa ia sedang masuk perangkap PHP. Ini jelas sangat merugikan bagi yang kena PHP, kan? Rugi perasaan.

Dan bila semakin lama kita bersama orang yang PHP-in kita, maka makin terbuang-buanglah waktu kita untuk perhatian kosongnya. Ujung-ujungnya kita hanya akan kecewa berat dan menanggung luka sejarah teramat perih. Apalagi nanti kita telah sadar bahwa kita hanya korban PHP saja. Duh.

Maka penting untuk kita tahu bagaimana cara supaya tidak kena PHP?

Jangan ngarep terlalu besar.

Bila kita suka sama dia, silahkan dekati dia, luluhkan hatinya dan buat dia bertekuk lutut pada kita. Tapi, jangan pernah NGAREP alias berharap besar kalau dia akan semakin dalam membuatmu terjebak ke dalam harapan palsu yang ditebarnya.

Berharap si boleh, berdoa boleh, tapi ngarep yang tidak boleh. Ngarep itu berbeda dengan berharap, kalau berharap itu berdoa kepada Tuhan dengan harapan semuga apa yang diharapkan dikabulkan.

Beda dengan ngarep, ngarep itu artinya menghayal, itu yang disebut ngarep. Ngarep itu biasanya terjadi akibat ekspektasi tinggi tapi minim realisasi akibatnya hanya jadi ilusi.

Jangan GR.

Dia pernah memberikan kita bunga? Dia pernah memberikan kita cincin? Dia memberikan kita hadiah mewah? Jangan buru-buru GR dulu! Barang tersebut karena cuma ingin ngasih saja ke kita dan tidak ada maksud apa-apa.

Maka dari itu sebaik apa pun dia sama kita, sebaiknya kita jangan buru-buru membuat penafsiran sendiri atas apa yang dia lakukan ke kita. Lagi pula kita bukan ahli tafsir kan?

Yang apa-apa selalu kita artikan dan kita kait-kaitkan bahwa apa yang dia lakukan atau dia berikan sama kita itu selalu pertanda bahwa dia ada kecocokan sama kita.

Bisa saja dia memberikan kita bermacam-macam pemberian itu cuma disebabkan karena dia hanya orang baik yang coba baik sama kita. Clear kan?

Jangan murahan meladeni perasaan.

Contoh saja nih ya Andrea dan Leo adalah rekan sekantor yang baru belakangan ini jadi akrab karena ditugaskan sebagai satu tim. Leo sangat berpengalaman dan cekatan membantu Andrea yang tergolong introvert dan masih junior di sana.

Kekaguman Andrea pada leo tidak hanya sebatas area profesi, tapi juga pada kepribadiannya yang lucu, hangat, dan tidak suka jaim. Tidak jarang Leo membelikan Andrea menu makan siang yang unik, atau mengantar Andrea pulang saat sama-sama lembur, atau berkali-kali dengan santai minum air dari gelas di meja Andrea.

Hari demi hari Andrea semakin terpikat Leo, sampai suatu hari Leo membatalkan janji lembur, dijemput seorang wanita bernama Felice dan bergandengan tangan keluar menuju resepsi pernikahan teman lama mereka.

Jelas Andrea langsung patah hati dan menulisakn chat kepada adiknya, “Benar katamu, semua cowok itu sama.”

Jangan cepat serius.

Semua itu didasarkan dari obrolan PDKT (pendekatan) yang manis, menyenangkan, penuh keakraban, kecocokan, dan merasa sudah menyatu. Punya visi dan misi sama, dan bahkan terbuai dengan bayang-bayang sendiri asyiknya bersama hingga bertahun-tahun lamanya.

Sayangnya itu hanya prasangka saja, menduga saja, hanya sesaat saja. Akhirnya PHP juga. Kitanya sih yang terlalu serius menangkap sinyalnya itu.

Terlalu terbawa perasaan.

Ketika kita merasa menjadi korban PHP yang terjadi sebenarnya adalah kita terlalu terbawa perasaan. Kita berasumsi kebaikan dan perhatian dari lawan jenis adalah perasaan yang sama.

Cobalah untuk lebih mengendalikan perasaan kita. Bersikap lebih hati-hati dan realistis akan menghindarkan kita dari PHP.

Mau menerima kenyataan.

Di sini kita bilang tentang kenyataan, lalu kenyataan yang ada memang merupakan kenyataan yang pahit. Yap! Kita di PHP. Kita kecewa, tapi harus bisa menerima itu, jangan marah, jangan bingung, apalagi sampai mau bunuh diri. Waduh jangan ya! Seiring waktu perasaan kita akan kembali tenang, tetapi terimalah itu.

Jangan beranggapan negatif pada semua orang.

Untuk hal ini, kita jangan beranggapan bahwa semua orang itu semuanya memiliki sifat yang sama, suka PHP, dan kita akhirnya menutup diri. Bisa-bisa kesepian seumur hidup kalau sikap kita seperti itu.

Kita harus belajar menjadi lebih dewasa dan lebih bijak, jadikan peristiwa di PHP sebagai pembelajaran untuk ke depannya, bukan menutup diri dan bukan berasumsi buruk pada semua orang.

Yang lalu biarlah berlalu, tapi tetap waspada. Oke?

Oleh: Tim Trenlis, dikutip dari berbagai sumber.

Ilustrasi dari sini.

Tinggalkan Balasan