kisah orang rajin sedekah

Inilah Cara Kami ‘Berdagang’ dengan Allah

Baru tiga hari aku sampai di pulau Sumatera, rasa lelah sudah tidak aku rasakan lagi. Tidak seperti pulang liburan empat bulan lalu, perjalanan yang panjang membuatku kelelahan dan jatuh sakit. Sengaja, pulang kali ini aku minta tiket pesawat yang langsung turun di dekat rumah kami.

Ya, rumah kami di pinggir kota Lubuklinggau, tiga menit dari bandara Silampari. Di kota ini, aku sebagai pengajar di sebuah Sekolah Tinggi dan tinggal bersama suami serta anak kami. Dua tahun lalu, aku mendapat tugas untuk melanjutkan pendidikan di pulau Jawa. Terpaksa dan disengaja untuk berpisah, karena dengan berpisah bisa saling menghargai setiap pertemuan. Berpisah untuk menuntut ilmu adalah sebaik-baiknya sebuah perpisahan, berpisah untuk sementara bukan untuk selamanya.

***

Di pulau Jawa, aku berusaha memanfaatkan waktuku untuk bergabung dalam komunitas. Bukan komunitas saat aku masih muda belia dulu, di sana ada masa lalu yang suamiku kurang menyetujuinya. Komunitas yang aku cari adalah komunitas yang dapat mengembangkan keilmuanku dan menjadikan aku menjadi orang yang berwawasan lebih. Belajar dan terus belajar, banyak ilmu yang diperoleh dari belajar dan dengan ilmu itu pula kehidupan dapat terarahkan dengan baik dan benar—selamat dunia akhirat.

Dunia akhirat seorang istri selamat itu karena suami—ridho suami. Jadi segala sesuatu yang aku kerjakan, selalu aku minta izin suami. Sebenarnya bulan ini kegiatan di kampus dan komunitasku sedikit padat, namun suamiku meminta aku pulang karena anak kami sakit. Sakit karena rindu dengan ibunya.

“Dek, pulanglah dulu. Annisa sakit, badannya anget. Dia tidak sekolah hari ini,” suara suami membujukku untuk pulang.

“Iya yah …” lirih aku jawab

“Kalau aku dan Annisa yang ke Jogja, biaya akan sangat besar. Lebih besar biaya daripada adik yang pulang ke Linggau” jelas suamiku.

“Tapi … aku masih ada beberapa kegiatan di sini, bagaimana?” sedikit memaksa untuk tinggal pun tidak bisa aku lakukan.

Baiklah tanpa debat panjang lebar dengan suami, aku mengikuti perintahnya untuk pulang. Pulang dengan syarat, hanya tiga minggu di Sumatera. Karena aku ingin segera menyelesaikan tugas belajarku dan bisa segera kumpul kembali dengan keluargaku. Niat yang kuat aku sematkan di hati, bahwa aku ingin ridho dan rela suamiku sepenuhnya untukku di pulau Jawa nantinya.

***

Banyak membaca buku, wawasan akan semakin bertambah dan hati mulai bergerak dan bergetar sesuai dengan apa yang telah atau sedang dibaca saat itu. Aku harus merealisasikan beberapa misi dari apa yang telah aku baca dalam waktu tiga minggu di Linggau, selain untuk mencari ridho dan rela suami. Ada beberapa agenda yang akan aku lakukan, di antaranya meminta izin pada suami untuk menyedekahkan printer kami yang masih dapat digunakan tapi tidak kami gunakan karena perlu ganti cartridge.

“Yah, boleh tidak? Kalau printer yang tidak ayah gunakan, adik bawa ke Jogja?” pintaku secara halus.

“Untuk apa? Itu belum bisa digunakan karena belum dibelikan cartridge. Printer adik yang lama masih adakan?”

“Iya masih, adik ingin bersedekah. Di komunitas penulisan yang adik ikuti ada program baru, tidak hanya sekedar teori lagi saat kita bertemu tapi langsung praktik dan butuh sarana seperti printer yah …. Pengurus komunitas pasti sudah menyiapkan, adik hanya ingin sedikit membantu. Semoga printer yang hanya diam di lemari itu bisa bermanfaat bagi orang banyak,” jelasku sedetail mungkin dengan suami tercinta.

Akhirnya suamiku mengizinkan, tanpa aku sadari akhir-akhir ini suamiku juga membaca buku tentang arti sedekah. Manfaat sedekah yang tidak hanya untuk orang lain saja, tapi kembali lagi kepada yang bersedekah. Tanpa berpikir panjang, aku kontak pengurus komunitasku dan aku ceritakan akan maksud tujuanku akan printer itu. Gayung bersambut, alhamdulillah mereka menerima dan mengucapkan terimakasih. Perasaan senang di hati tidak terkira, rasanya air jernih mengalir di kerongkongan yang dahaga dengan lancarnya. Misi satu terselesaikan.

***

Perayaan hari kemerdekaan RI bulan Agustus Tahun 2018 begitu terasa sangat meriah di perumahan tempat tinggal kami, tidak kalah meriahnya dari daerah-daerah lain. Ramai jalanan depan rumah kami, tidak seramai dengan hatiku saat itu. Gemuruh dalam hati mencabik-cabik rasa  dan mengekspresikan dalam tingkah lakuku. Bimbang dan ragu merasuk dalam hati, ingin meminta persetujuan dalam menjalankan misi keduaku.

“Yah, kenal Buyung tidak? Teman adik di Pasca dulu? Dia tinggal di Lombok Utara lo ….” aku mengawali cerita dengan suami.

“Iya, kenapa?” jawabnya datar.

“Lombok Utara, termasuk lokasi yang terparah karena gempa kemarin. Boleh tidak kalau memberi bantuan kesana?”

“Bantuan apa dek? Bantuan tenaga? Adik mau kesana untuk mencari Buyung dan membantu keluarganya?” jawab suamiku sambil memandangku penuh pertanyaan.

Jelas saja suamiku bersikap seperti itu, aku pernah bercerita padanya tentang pengalamanku menjadi relawan saat gempa Jogja di tahun 2006. Aku masih muda saat itu, belum mengenal suamiku. Jenjang Sarjana sedang aku tempuh, sedang aktif-aktifnya menjadi mahasiswa dan aktivis yang militan. Berminggu-minggu aku jadi relawan di Kabupaten Bantul, sangat bersemangatnya aku dalam membantu orang lain dan tidak menghiraukan badanku sendiri sampai-sampai aku jatuh sakit. Hal ini yang tidak diinginkan suamiku saat ini.

“Bukan yah, aku ingin membantu tapi tidak langsung datang ke sana jika ayah tidak menginginkannya. Bisa membantunya dengan tenaga dari sini yah?” jelasku pada suami.

“Trus, mau gimana membantunya?” suamiku sedikit bingung.

“Kumpulkan baju-baju yang masih layak pakai dan di cuci ulang, lanjut diseterika, packing kemudian di kirim deh ….” leganya hatiku jika suamiku mau menuruti permintaanku.

“Adik ini serius?”

“Iya, baiklah … bisa dimulaikan yah!”

Panitia 17-an sibuk menyiapkan acara lomba untuk warga perumahan di lapangan depan rumah kami, tetangga tidak kalah sibuk menyiapkan dagangan untuk para penonton dan pemain lomba. Kami pun sibuk mencuci dan menjemur pakaian, di depan halaman rumah kami. Sebenarnya, kami ada jemuran di halaman samping rumah tapi karena pakaian yang di cuci terlampau banyak jadi terpaksa kami buat jemuran lagi—jemuran dadakan.

Awalnya, suami ragu aku melakukan hal ini. Pertama, baju yang kita pilih terlampau banyak. Aku memaksa untuk mencucinya semua, air di sumur sudah mulai kering dan harus berhemat agar cukup untuk mandi. Kedua, jemuran tidak akan cukup kalau di jemur di depan rumah malu dengan tetangga. Ketiga, suamiku takut aku kelelahan karena fisikku yang lemah dan mudah lelah. Alhasil, suami memenuhi permintaanku.

Hampir sebagian tetangga sibuk dengan dagangannya di lapangan, kami pun sibuk dengan ‘dagangan’ kami di depan rumah. Baju terjejer rapi dan rapet dijemuran, itu adalah ‘daganganku’ pada Allah. Aku meminta pada-Nya, untuk labanya segera kembali atau pun masih esok aku berusaha ikhlas.

Keikhlasanku pun diuji, saat semua cucian terselesaikan dan akan mandi. Air di sumur habis total, mandiku pun kurang bersih dan aku berusaha bersabar. Saat akan pergi keluar rumah, untuk membeli perlengkapan packing baju-baju tersebut. Air PDAM mengalir dan seketika dengan cepat suami mengalirkankan ke dalam sumur.

Alhamdulillah, Allah memberikan laba dari niatku berdagang pada-Nya langsung, seketika—sebelum barang itu sampai pada orangnya. Misi keduaku terealisasi. Lanjut Misi ketiga, berharap ridho dari suami akan dapat kasih sayang dari Allah. []

Oleh: Dona Ningrum.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan