Cowok kamu sudah siap menikah?

Menikah bukan perkara suka sama suka kemudian akad. Menikah tidak pernah sederhana. Menikah memiliki tahapan panjang yang proses menuju bahagianya tidak mudah. Ada banyak tikungan dan tanjakan yang mesti dilalui.

Dari pengalaman saya pribadi, ada beberapa tahapan penting yang mesti dilalui dan membuat saya mantap untuk menikah. Ini hanya pengalaman pribadi saja. Sekadar berbagi tips menuju jalan halal.

Jelas siap materi.

Materi adalah perangkat menikah yang paling menyulitkan. Bagaimana tidak, di saat mentalmu sudah kuat dan pasanganmu siap dipinang. Namun kemampuan finansialmu masih tanda tanya. Tentu semuanya tidak akan berjalan sesuai dengan keinginan.

Saya ditinggal menikah sekali dan lamaran ditolak sekali. Keduanya memiliki kemiripan sebab, yakni saya tidak siap secara materi. Uang memang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang. Bukankah cetak undangan saja butuh uang? Pertimbangkan lagi.

Siap mental.

Saya memikirkan tentang menikah saat saya mengerjakan skripsi di semester akhir. Memikirkan adalah tahapan awal untuk membangun mental. Namun kesiapan mental butuh waktu dan tempaan yang keras. Semakin saya memikirkan tentang menikah semakin merasa saya jauh akan menikah dengan segera.

Lulus kuliah tekanan menikah semakin deras. Apa lagi perempuan yang selalu menagih untuk segera dilamar desakannya begitu luar biasa. Apakah saya menyerah? Tentu tidak. Perempuan itu yang menyerah dengan menerima pinangan laki-laki yang lebih siap segalanya.

Punya pekerjaan.

Menikah tanpa memiliki pekerjaan tetap adalah uji nyali. Saya mengutip salah satu perkataan motivator yang namanya saya lupa. Beliau mengatakan begini, “Pekerjaan pertamamu bukanlah pekerjaan utamamu. Kau masih akan keluar dari pekerjaan itu dan mencari pekerjaan di tempat lain.”

Setelah lulus saya bekerja di dua kantor sebelum memutuskan untuk menekuni dunia pendidikan untuk menjadi guru yang sudah saya jalani sejak tahun 2013.

“Kerja di mana, Nak?”

Jika jawaban yang kamu punya cukup menjual di telinga calon mertua. Kamu sudah siap menikah.

Ilmu mengelola kehidupan.

Apakah hidup saya masih berantakan? Apa saya masih boros belanja? Apakah saya tidak sering begadang lagi? Apakah saya sudah menghilangkan kebiasaan buruk mengkonsumsi indomie tiap hari? Apakah saya sudah bisa menabung untuk masa depan?

Jika kesemua pertanyaan tersebut memiliki jawaban yang positif dalam artian kualitas hidup kita semakin baik. Itu berarti kamu sudah siap hidup berdua dalam satu atap. Sikap egois terhadap diri sendiri harus sudah hilang sebelum memutusan menikah.

Semua pertanyaan di atas telah saya taklukkan. Buatlah pertanyaanmu sendiri yang mencermikan sifat-sifat burukmu. Jika kamu sudah mampu mengubahnya menjadi baik, menikahlah.

Refleksi.

Lakukan refleksi terhadap lingkungan sekitarmu. Saya sering mengamati orang-orang di lingkungan saya dalam mengelolah urusan domestik rumah tangga mereka. Baik itu keluarga atau teman-teman dekat.

Pertama, saya mengamati rumah tangga yang selalu harmonis. Konflik hampir tidak pernah pecah. Begitu adem dan sepertinya nyaman dalam menjalaninya. Saya belajar dari rumah tangga seperti itu. Bagaimana keharmonisan itu dibangun dan dijalani. Jika penasaran saya tidak bisa dibendung saya akan memberanikan diri untuk bertanya apa yang membuat rumah tangganya bisa sedamai itu.

Hasil yang saya dapat tentu saya tiru dan modifikasi serta menyesuaikan kebutuhan rumah tangga saya kelak. Paling tidak saya memiliki referensi sumber ketenangan dalam rumah tangga. Saya tak hanya mengamati rumah tangga yang damai. Saya pun mengamati rumah tangga yang sering pecah konflik. Saya belajar dari peristiwa-peristiwa yang memicu kenapa bisa terjadi konflik.

Apakah itu urusan salah bicara, kondisi ekonomi, urusan anak, atau yang paling fatal adalah adanya pihak ketiga yang masuk mengacau. Saya belajar celah-celah mana saja yang mampu mengundang pertikaian dalam rumah tangga. Sehingga ketika saya menikah saya sudah tahu mana yang harus dihindari dan mana yang perlu dijaga.

Agama.

Saya bukan pakar agama atau mengerti banyak tentang agama. Yang saya tahu Tuhan memberikan saya kehidupan yang naik turun dengan tujuan membuat saya belajar banyak hal dari apa yang telah saya lewati. Prosedur hidup saya hanyalah menaati segala perintah Tuhan dan berjarak dengan larangannya.

Saya tidak bisa mengkategorikan diri saya suci. Biar Tuhan yang menilai semua itu. Urusan ketaatan bukanlah perkara yang bisa ditawar. Namun bisa dilakukan pemakluman jika belum sempurna, oleh sebab itu ada proses belajar memperbaiki diri.

Ilmu agama saya begitu dangkal. Hal tersebut sempat membuat saya minder untuk meminang. Kemudian saya menjelaskan kapasitas agama saya yang memalukan itu, perempuan yang hendak kupinang itu hanya memberi pertanyaan,

“Njenengan salat lima waktu?”

“Tentu saja.” Kujawab tanpa ragu hanya demi menjaga gengsi.

“Lamaran njenegan saya terima.”

Tanpa ada pertanyaan lanjutan dia langsung menjawab mau. Di dalam rumah tangga tetap ada proses belajar. Sehingga tidak ada istilah semua mesti matang sebelum menikah.

Itulah enam hal yang menjadi pedoman saya ketika memutuskan mantap untuk menikah. Keenam hal tersebut tidak mutlak berlaku pada semua orang. Cukup dijadikan sebagai referensi pengetahuan untuk modal meminang.

Jika sudah siap, menikahlah!

Oleh: Rahmat Suardi.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: