Inilah Ciri-Ciri Istri Shalihah. Kamu Termasuk?

Setiap posisi selalu ada konsekuensi ganda, yaitu kewajiban dan hak. Begitu pula dalam kehidupan rumah tangga. Seorang istri memiliki kewajiban-kewajiban yang harus dia tunaikan.

Jika kewajiban seorang istri sudah ditunaikan, maka ia berhak mendapatkan hak-hak yang memang seharusnya ia terima.

Lalu apa saja kewajiban istri itu?

Kewajiban istri adalah menaati suami, selama ketaatan itu tidak bertentangan dengan syariat.  Jika perintah suami bertentangan dengan syariat maka kewajiban itu gugur.

Misalnya, seorang suami mengajak hubungan suami istri ketika istri sedang dalam keadaan haid atau nifas, maka istri tidak perlu mengikuti perintah suami.

Ketaatan seorang istri kepada suami adalah yang paling utama setelah ketaatan kepada Allah Swt dan Rasulullah Saw. Karena ketaatan kepada suami hukumnya wajib, maka seorang istri harus memprioritaskan suami dari pada ibadah-ibadah yang tidak wajib. Berikut konsekuensi ketaatan istri kepada suami:

Jika istri pada malam hari hendak melaksanakan shalat malam, lalu suaminya mengajak untuk melakukan hubungan suami istri, maka istri wajib mengikuti keinginan suaminya.

Jika ia mengikuti keinginan suaminya, maka ia mendapat dua pahala yaitu pahala shalat malam dan pahala menaati suami. Jika ia memaksakan diri dengan melaksanakan shalat malam dan menolak ajakan suaminya maka ia berdosa dan pahala shalatnya diberikan kepada suaminya.

Lalu apa saja hak istri itu?

Istri memiliki hak yang harus ditunaikan oleh suami. Seorang istri perlu mengetahui apa saja hak yang diperoleh agar ia tidak dizalimi oleh suaminya, juga agar ia tidak banyak menuntut apa yang bukan haknya.

Hak istri dibagi menjadi dua. Pertama yang bersifat materi. Kedua yang bersifat nonmateri. Hak istri yang bersifat materi adalah mahar, nafkah, dan warisan jika suami meninggal dunia.

Dalam pernikahan, yang pertama kali diberikan suami adalah mahar, dan ini wajib diberikan oleh suami kepada istri. Kesalahan yang sering terjadi di masyarakat bahwa mahar itu diberikan kepada keluarga istri atau mertua. Bukan, mahar itu bukan diberikan kepada mertua, tetapi kepada istri.

Hak istri terkait harta yang lain adalah nafkah.

Istri berhak mendapat nafkah sesuai dengan kebutuhannya, yaitu kebutuhan makan, minum, pakaian, dan tempat tinggal. Tidak ada batasan khusus secara nominal terkait dengan nafkah ini. Namun semestinya, seorang suami memberikan makanan, pakaian, dan tempat tinggal yang layak untuk istri dan anak-anaknya.

Sebisa mungkin makanan istri seperti makanan suami, pakaian pun senilai dengan pakaian suami, dan jika lebih, maka itu lebih baik. Tempat tinggal yang diberikannya pun harusnya tempat tinggal yang aman.

Tidak ada ketentuan makanannya harus senilai berapa, pakaiannya harus senilai berapa, dan tempat tinggalnya harus seperti apa. Untuk tempat tinggal, jikalau suami belum memiliki rumah sendiri pun, menyewa kontrakan yang layak sudah termasuk mencukupi kebutuhan tempat tinggal.

Jika suami tidak memberikan hak ini kepada istri, maka dibolehkan sang istri menuntut di pengadilan atau mengambil sebagian harta suami sesui dengan kebutuhan, bukan sesui dengan keinginan.

Hak istri terkait dengan harta yang ketiga adalah hak waris bila suami meninggal. Di dalam Islam, bagian warisan untuk istri sudah ditetapkan, yaitu jika suami meninggal dunia dan meninggalkan anak, maka istri dapat warisan seperempat dari harta suami.

Dan bagian itu sudah ditentukan sehingga orang lain tidak boleh menghalanginya. Yang sering terjadi, seorang suami meninggal dunia tidak meninggalkan anak, lalu keluarganya menghalangi sang istri mendapatkan bagian warisan karena tidak atau belum memiliki anak. Ini adalah bentuk kezaliman yang bisa dilaporkan ke pengadilan agama terkait dengan warisan.

Ada pun hak yang sifatnya nonmateri adalah hak untuk dipergauli dengan baik dan hak mendapat perlindungan. Sebagaimana suami, istri juga memiliki hasrat seksual. Oleh karena itu, ia berhak mendapatkan kebutuhan seksual dari suaminya.

Jika sampai tidak memberikan kebutuhan seksual, maka ia berhak melaporkan hal ini ke pengadilan. Hak nonmateri yang dimiliki istri adalah hak perlindungan. Seorang istri berhak mendapat perlindungan dari suaminya. Jika ia dizalimi orang lain, maka suami harus menjaganya.

Jangan lupa mengajak suami taat beribadah

Suami memang pengendali rumah tangga. Dialah pengatur keluarga. Meskipun demikian, tidak ada salahnya istri menjadi motivator bagi suami untuk rajin beribadah.

Kenyataannya, banyak wanita yang memotivasi suaminya untuk shalat berjamaah di masjid, menghadiri majelis taklim, dan sebagainya.

Saat mengajak suami taat beribadah, ajaklah dengan cara bijaksana dan tutur kata yang baik. Sebab, mengajak suami taat beribadah termasuk bagian dari dakwah.

Berupaya menjadikan keluarga sakinah

Apakah sakinah itu? Sakinah berasal dari kata sakana yang artinya tenang. Kata sakinah biasa diartikan tenang atau tenteram. Tenteram jauh lebih dibutuhkan dari pada senang. Apa perbedaan antara tenteram dan senang?

Seseorang yang hidupnya tenteram pastilah ia merasa senang. Tidak ada orang yang menderita karena hidupnya tenteram. Akan tetapi, seseorang yang hidupnya senang belum tentu tenteram.

Mereka yang senang main selingkuh, maka ia tidak akan merasakan ketenteraman, mereka yang korupsi, kolusi, mencuri, dan yang lainnya tidak pula merasakan ketenteraman.

Mewujudkan mawaddah wa rahmah

Selain sakinah dalam rumah tangga, dibutuhkan juga mawaddah dan rahmah. Mawaddah biasa diartikan cinta, sedangkan rahmah biasa diartikan kasih sayang. Semestinya antara suami dan istri saling mencintai seperti cinta pria pada wanita dan sebaliknya.

Bagi pasutri baru, mawaddah ini akan lebih dominan. Lihatlah orang yang berada di awal pernikahan. Mereka ke mana-mana selalu bersama selalu tersenyum gembira seakan tak ada masalah yang mendera.

Cerdas mengelola harta suami

Kecerdasan, kepinteran, dan kecakapan seorang suami dalam mencari harta menjadi tidak terlalu berarti apabila seorang istri tidak cerdas dalam mengelola harta suami.

Oleh karena itu, harus ada kesimbangan antara kecerdasan mencari harta yang dilakukan seorang suami dan kecerdasan membelanjakan harta yang dilakukan oleh istri.

Menjaga keutuhan rumah tangga

Ikatan pernikahan bukanlah yang seenaknya bisa putus kemudian disambung kembali. Ikatan pernikahan adalah ikatan yang kuat, diharapkan bukan hanya sebatas kehidupan duniawi saja, melainkan juga kehidupan ukhrawi.

Oleh karena itu, perceraian meskipun dibolehkan oleh Allah, tetapi itu adalah jalan terakhir. Bila bahtera rumah tangga sudah tidak dapat dipertahankan lagi, jalan itu baru boleh diambil.

Nah, sudah siap menjadi istri yang shalihah dengan membahagiakan suami sepenuh hati?

Oleh: Tim Trenlis.co

Referensi: Masykur, Muhammad Syafii. 2017. Minhajul Muslimah. Genta Hidayah.

Tinggalkan Balasan