Akhir-akhir ini, kamu sering dengar orang yang diklaim sebagai ulama. Bukan hanya diklaim, tapi ada juga kan, yang ngaku-ngaku sebagai ulama? Apa yang ada dipikiranmu ketika mendengar kata ‘ulama’? Berjubah, berjenggot, berpakain putih, sering ngisi ceramah sana sini, pintar berbahasa arab, fashih membaca al-Quran dan lain sebagainya?

Benarkah jika orang memiliki ciri-ciri tersebut bisa dikatakan sebagai ulama? Biar nggak salah paham, coba deh kamu kenali ciri ulama menurut Syaikh Imam Nawawi Al-Banttani berikut ini:

Memilki iman yang kokoh

Yap, pertama adalah memilki iman yang kokoh. Tanpa iman, keberislaman seseorang masih pincang. Kenapa picang? Karena iman dan Islam bak dua kaki yang harus sama-sama ada pada diri seseorang. Bagaimana seseorang bisa dikatakan beriman?

Jawabannya simpel, yaitu ketika disebut nama Allah maka bergetarlah hatinya. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka.” (QS. Al-Anfal:2).  Ini kata al-Quran, ya. Bukan kata saya. Jadi sudah jelas.

Istiqomah pada kebenaran atau jalan Allah Swt

Kamu pernah dengar kata istiqomah, kan? Salah satu ciri ulama adalah ia yang istiqomah dalam jalan Allah dan kebenaran. Baik dalam keadaan sempit maupun lapang. Orang yang istriqomah tidak akan terpeleset dengan aji mumpung atau mengambil kesempatan dalam kesempitan.

Minimal ia berkata jujur walaupun ia sendiri akan menerima risiko sebesar ancaman akan dibunuh apalagi sekecil digelitik. Ia tidak akan membiarkan kedholiman terjadi.

Menjadikan sifat kerasulan sebagai jiwanya

Sudah disepakati bahwa ulama itu pewaris nabi. Makanya, ulama itu harus menjadikan akhlak nabi sebagai acuan utamanya. Apalagi menurut Siti Aisyah yang tak lain adalah istri Nabi Muhammad. Ia berkata ‘Akhlak nabi adalah al-Quran. Beliau adalah Al-Quran yang berjalan’. Kamu tahu sendiri, kan, sifat Shidiq (jujur), Amanat (amanah), Tabligh (menyampaikan), Fathana (cerdas).

Setidaknya, ulama itu ialah orang yang jujur dalam berkata dan berbuat. Amanah alias tidak berkhianat ketika dipercaya. Ia menyampaikan ilmunya sebagaimana Rasulullah sudah menegaskan, “Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.” (Hadits).

Maksudnya, sampaikan ilmu yang ia miliki kepada orang lain. Cerdas dalam menyikapi suatu masalah dengan penuh kebijaksanaan.

Paham ilmu agama

Tanpa paham agama, seseorang tidak bisa dikatakan ulama. Karena sudah jelas, ulama pewaris nabi. Sedang hadirnya nabi di dunia ini membawa agama. Walaupun sebelum Nabi Muhammad tidak dikatakan Islam tapi agama tauhid. Namun kan intinya mengajak untuk beriman dan mengesakan Allah.

Untuk konteks ulama ini, maka sudah jelas seorang ulama harus memiliki pengetahuan yang luas perihal ilmu agama. Paling tidak, bisa menjawab permasalahan yang berkaitan dengan agama. Tentu acuannya al-Quran, hadits, ijma’ dan qiyas. Sebagaimana sudah disepakati para salafusshalih.

Mengenal sikon masyarakat

Ulama tentu ya manusia. Sebagai makhluk sosial, manusia tentu hidup bermasyarakat. Sebagai salah satu panutan masyarakat, ulama harus mengenal masyarakat pun dengan masalah yang menimpa mereka.

Mengenal situasi dan kondisi (sikon) masyarakat adalah bekal bagi ulama yang ingin menyampaikan dakwah islamiah. Apalagi setiap individu, perkumpulan individu (masyarakat) dan adat budaya tidak sama satu sama lain. Untuk berdakwah harus mengenal sikon terlebih dahulu.

Tidak usah ambil pusing, contohnya saja Wali Songo. Mereka menyampaikan agama Islam tidak langsung datang ke pasar, naik pohon, naik bukit lalu berteriak menyerukan masyarakat kala itu untuk masuk Islam. Tidak. Tapi Wali Songo mencoba menyatu dengan masyarakat, menyelami adat budaya masa itu. Dari situlah Wali Songo memasukkan nilai-nilai keislaman melalui sikap dan memberikan keteladanan akhlak yang baik, menghilangkan kedholiman dan lain sebagainya.

Sebagai tambahan, menurut Prof. KH. Ali Mustafa Yaqub, ciri seseorang bisa dikatakan ulama adalah:

Paham agama

Untuk yang ini tidak jauh berbeda dengan penjelasan pada poin yang menurut Syaikh Imam Nawawi Al-Bantani diatas.

Takwa

Arti takwa adalah mengerjakan perintah Allah dan menjauhi larangn-Nya. Takwa yang dimaksud menurut Prof. Ali Mustafa ini adalah orang tersebut memiliki rasa khasyah (takut melakukan kemaksiatan).

Sederhanya begini. Seseorang tidak akan melakukan perbuatan yang sudah jelas dilarang oleh Allah. Baik dalam keadaan sendiri maupun di depan orang lain. Karena ia sadar, Allah melihat perbuatan hambaNya.

Zuhud

Sifat zuhud memiliki arti sederhana dan berorientasi pada akhirat pada setiap keputusan hidupnya. Ada juga yang mengartikan zuhud anti duniawi. Tapi kamu jangan salah paham dulu. Bukan berarti ulama lebih tepatnya seseorang yang memiliki sifat zuhud ini anti dunia dalam arti sempit seperti kebanyakan orang.

Orang yang memiliki sifat zuhud bukan pakaiannya lusuh, tidak kerja di kantor, tidak berdagang apalagi tidak makan. Bukan begitu yang dimaksud. Melainkan, dalam berbuat selalu diorientasikan pada urusan akhirat. Lebih tepatnya berhati-hati dalam melakukan sesuatu karena ia yakin setiap perbuatan akan mendapat balasan dan diminta pertanggungjawabna di akhirat kelak.

Berumur 40 tahun

Untuk bisa dikatakan ulama, setelah ciri yang sudah disebut tersebut sudah ada dalam diri seseorang, maka orang tersebut harus berusia 40 tahun. Lha, misalkan tidak berumur 40 tahun, tapi semua syarat tersebut sudah dimiliki, apakah tidak bisa dikatakan ulama? Nah, jangan salah paham dulu ya.

Maksud Prof. Ali Muftafa, harus umur 40 tahun itu karena menisbatkan kepada umur para nabi yang rerata umur 40 tahun diangkat jadi nabi dan Rasul. Kecuali Nabi Isa. Kalau mau tahu sejarahnya, baca Sirah Nabawiyah, ya.

Pada umur 40 tahun, seseorang tidak labil lagi. Pemikirannya matang dan bijak dalam berbuat. Ini ukuran normal. Bukan upnormal. Sudah jelas ya. Nah, mulai sekarang, jangan sampai salah paham lagi perihal ulama. Semoga bermanfaat.

Oleh: Gafur Abdullah.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: