Mendekati hari raya Idul Adha seperti sekarang ini, akan banyak bermunculan panitia kurban yang siap menerima, memotong dan menyalurkan daging dari hewan sembelihan. Para panitia itu bisa dari takmir masjid, komunitas atau lembaga sosial yang berangkat dari niat baik yang sama yaitu menyukseskan ibadah kurban.

Nah, untuk mewujudkan tujuan mulia itu, hendaknya panitia kurban memiliki 3 prinsip utama yang harus dipegang dan diupayakan. Ketiga prinsip itu berturut-turut adalah:

Keikhlasan

Maksud utama dari dibentuknya kepanitiaan kurban tidak lain adalah membantu para pekurban mengurus, menyembelih dan mendistribusikan daging kurban. Supaya terkoordinasi dengan baik dan tersalurkan pada pihak yang tepat. Juga agar pelaksanaan ibadah kurbannya sah dan bernilai pahala melimpah disisi Allah Swt.

Maksud yang baik ini hanya bisa dicapai dengan proses yang baik pula. Dan hulu dari segala proses yang baik adalah hati yang ikhlas. Ketulusan dari panitia kurban inilah yang akan mengundang keberkahan selama perhelatan ibadah kurban.

Dan telah sama kita ketahui, segala rupa peribadatan mensyaratkan keikhlasan pada nomor pertama. Tidak hanya untuk para pekurban agar ibadahnya diterima, tetapi juga untuk jajaran panitia kurban yang membantu prosesnya. Bukankah menolong sesama itu adalah puncak bukti kita sebagai seorang hamba Tuhan?

Allah swt berfirman, “Dan saling menolonglah kamu dalam kebaikan dan ketaqwaan.” (QS. Al-Maidah ayat 2)

Sebelum mendeklarasikan diri, ada baiknya jika para anggota panitia ini duduk bersama menyatukan dulu visi dan misinya. Agar tidak ada tumpang tindih kepentingan pribadi atau golongan tertentu yang berujung pada tidak maksimalnya kinerja panitia.

Profesional.

Fakta di lapangan menyebutkan bahwa hampir seluruh pekurban memercayakan hewan sembelihannya kepada panitia kurban, baik di mesjid maupun melalui instansi tertentu. Malah seringnya mereka ‘pasrah bongkokan’ terhadap panitia. Bahasa pasarnya mungkin begini, “Terserah mau diapain itu hewan, yang penting saya sudah niat, yang penting nanti saya dapat jatah dagingnya.”

Iya, pekurban yang menyembelih sendiri hewannya, menguliti, menyincang lalu meyedekahkannya tanpa melalui panitia kurban dapat dihitung dengan jari.

Nah, kepercayaan ini tentu tak boleh disia-siakan oleh panitia kurban. Mereka dituntut profesional ketika berani mengajukan diri sebagai panitia. Nomor satu, panitia ini harus pro dalam hal keilmuan. Kurban itu ibadah, dan setiap ibadah ada ilmunya.

Dimulai dari bagaimana cara merobohkan hewan dengan cepat tanpa menyakiti? Saluran mana saja yang harus putus ketika menyembelih? Siapa saja yang berhak menerima distribusi dagingnya? Dan lainnya.

Maka seharusnya, para panitia ini dipilih khusus, serta dibekali ilmu tentang pelaksanaan ibadah kurban secara serius. Salah satu upaya yang bisa ditempuh misalnya dengan mengadakan kajian fiqih kurban. Ibadah kurban itu ibadah yang sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Semua hal mengenai ibadah ini, lengkap sudah dibahas para fuqoha dalam kitab-kitab mereka.

Kita hanya tinggal potong kompas mempelajari darinya, tanpa perlu bersusah payah merujuk langsung ke ayat al-Quran atau ke hadis Nabi saw yang mencapai jutaan. Salah-salah malah kita keliru menafsirkan ayat atau maksud hadist Nabi saw.

Keprofesionalitasan panitia kurban dalam hal ilmu, bisa menenteramkan hati para pekurban yang berkurban lewat jasanya. Bagaimana tidak, mereka tak perlu bersusah payah bekerja sendiri, cukuplah mereka membeli hewan kurban, lalu menyerahkannya pada panitia. Biarkan sistem yang bekerja, mereka tinggal duduk manis menunggu hasil yang maksimal.

Keterbukaan.

Poin yang ketiga ini erat kaitannya dengan teknis pelaksanaan. Meski diberi mandat khusus oleh pekurban, panitia tetap harus melibatkan pekurban dalam berbagai hal. Seperti dua pihak yang ingin langgeng menjalin hubungan, tidak boleh ada rahasia di antara mereka. Semua sifatnya harus adil dan terbuka.

Misalnya soal sumber pendanaan untuk biaya operasional, dua pihak ini bisa bermusyawarah dengan tenang. Kalaupun akhirnya pekurban dimintai biaya tambahan, mereka akan ringan memberinya karena senang merasa dilibatkan dan tahu persis ke mana biaya itu dibelanjakan.

Atau misalnya terang-terangan pihak panitia ingin mencari profit dari jasanya itu. Loh, apa dibolehkan yang seperti itu? Jawabannya tentu saja boleh dan sah-sah saja. Asalkan upah atas kerja keras mereka tidak diambilkan dari daging hewan sembelihan (dalam fiqih, hal ini tidak diperkenankan).

Lagi-lagi keterbukaan panitia sangat penting dalam hal ini. Sama pentingnya keterbukaan mereka soal jumlah daging yang diterima, lalu kepada siapa atau wilayah mana saja daging itu didistribusikan. Semua itu harus ditulis dalam sebuah laporan pertanggungjawaban oleh panitia kurban.

Bisa juga poin ini diluaskan dalam arti keterbukaan pikiran dan wawasan. Sehingga panitia kurban mampu berinovasi dan berkreasi agar pelaksanaan ibadah kurban makin luas syiar Islamnya, semakin meriah dan tidak terkesan monoton gitu-gitu saja.

Tentu saja selama masih dalam koridor syariat dan tidak melanggar norma masyarakat. Misalnya di beberapa tempat, panitia menyiapkan sertifikat tanda terima kasih dan kenang-kenangan bagi para pekurban. Atau misalnya membuat semacam pesta rakyat makan sate bersama seluruh warga untuk menguatkan rasa syukur dan kerukunan di antara mereka.

Akhirnya, selamat hari raya Idul Adha kepada seluruh kaum muslimin sedunia. Semoga ibadah kita diterima dan dibalas dengan pahala yang baik oleh Allah Swt. Tak lupa kami ucapkan terima kasih kepada seluruh panitia kurban yang rela berlelah demi membantu pelaksanaan kurban tahun ini. Jazakumullah ahsanal jazaa.

Oleh: Wildan Jauhari.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: