Ilustrasi dari Labana.

Inilah Kesalahan yang Sering Dilakukan Penulis Pemula

Menulis merupakan aktivitas yang mensinergikan antara aktivitas otak dan perasaan. Aktivitas menulis bagi sebagian besar orang adalah pekerjaan yang amat membosankan. Berkutat pada buku-buku bacaan dan referensi lainnya. Namun, bagi sebagian orang yang suka menulis, hal ini merupakan gairah yang mesti dikembangkan. Ketika menulis telah menjadi passion, maka meskipun menulis berjam-jam rasanya seperti terasa kurang.

Saking asiknya menulis, waktu pun menjadi relatif terasa sedikit. Menuls merupakan kegiatan positif untuk dapat menyampaikan gagasan kepada pembacanya atau orang lain. Menulis juga merupakan warisan bagi generasi mendatang. Melalui tulisan, kita bebas mengekspresikan apa pun yang ada di dalam pikiran kita ke dalam bentuk tulisan.

Sayang, banyak penulis pemula yang tidak menyadari telah melakukan kesalahan pada proses menulis maupun hasil tulisannya. Apa saja itu?

Menulis dengan pembuka yang biasa

Paragraf pertama yang sama sekali tidak menarik untuk diikuti dan terasa biasa-biasa saja. Padahal pembaca mau melanjutkan membaca tulisan atau tidak banyak dipengaruhi oleh paragraf pembuka ini.

Memperkenalkan tokoh misalnya dengan bahasa terlalu lurus tidak menawarkan sesuatu yang berbeda pada pembaca. Pengenalan yang seperti ini sudah sangat banyak dan sering dilakukan oleh orang lain. Sebisa mungkin hindari hal tersebut.

Dominasi kata aku

Biasanya penulis pemula karena belum tahu teknisnya, maka dia akan memakai kata “aku” di setiap penggambaran tokoh. Jadi kata aku tersebut malah cenderung penulisnya yang curhat, bukan menceritakan kehidupan tokohnya.

Kalimat tidak efektif

Kalimat tidak efekti membuat sebuah tulisan menjadi membosankan, membuang waktu pembaca, membuat kesan penulis suka bertele-tele. Kita mengulangi kata yang sudah ada, memberi info yang sudah disampaikan sebelumnya. Buatlah kalimat efektif, sehingga tulisan tidak terkesan sengaja dipanjang-panjangkan.

Contoh kalimat tidak efektik: aku berjalan dengan kakiku. Nah mengapa tidak efektif? Karena, semua orang tahu bahwa berjalan pasti pakai kaki.

Menulis sekaligus mengedit

Salah satu kesalahan umum yang membuat penulis pemula tidak selesai-selesai menulis naskah yakni menulis sekaligus mengedit. Untuk awal mula menulis, menulislah sebagai penulis, terus tulis dan jangan menjadi editor dulu sampai selesai menulis.

Semua orang tentu saja ingin tulisannya sempurna, tetapi mengedit tulisan sebelum selesai pasti membuat kita tidak bisa menyelesaikan tulisan dengan baik.

Tidak percaya diri

Ini masalah yang kerap menimpa penulis pemula. Sering kita bergulat dengan perasaan kita sendiri. Kita merasa belum punya banyak bekal menjalani dunia penulisan ini. Akibatnya, kita sama sekali tidak pernah memiliki karya yang tuntas.

Menunggu sampai tahu semuanya

Kalau masih selalu berpikir belum bisa EBI (EYD), belum menguasai penggunaan kalimat efektif, tidak paham kalimat majemuk, dan tata bahasa lainnya, maka bagi penulis pemula tidak bisa menghasilkan tulisan apa pun.

Menulis tanpa tujuan, tanpa rencana

Ingat, untuk mencapai cita-cita, kita harus memiliki tujuan dan rencana yang jelas. Hari ini mau nulis apa, tentang apa, akan ditujukan untuk siapa tulisan kita, semua harus direncanakan.

Sehingga hasil tulisan kita juga akan jelas sasarannya. Membuat kerangka atau mind mapping atau outline. Untuk tulisan juga dianjurkan agar tulisan nantinya sesuai dengan tujuan yang kita harapkan.

Kurangnya kosa kata (miskin diksi)

Kurangnya kosa kata dalam penulisan akan membuat tulisan kita relatif sedikit dan tidak berbobot. Kurangnya kosa kata yang disebabkan oleh kurangnnya membaca. Untuk menambah kosa kata yang kita miliki, perbanyaklah membaa buku-buku bacaan atau artikel-artikel yang berkualitas.

Tidak sabaran

Ini adalah kesalahan yang sering dialami oleh para penulis pemula. Banyak penulis yang ingin cepat-cepat mengeluarkan buku pertamanya. Namun, terkadang ada yang dilupakan oleh penulis bahwa kesabaran kunci utama dalam proses kepenulisan.

Bagaimana tidak, coba bayangkan saat kita memasukan naskah ke penerbit mayor, diminta menunggu selama tiga sampai enam bulan lamanya. Katakanlah naskah kita diterima, kita harus menunggu lagi proses pengeditan oleh editor yang mungkin membutuhkan waktu satu sampai dua bulan.

Setelah edit, terkadang editor meminta revisi, jika naskah begus tidak perlu ada revisi. Prosesnya bisa satu per satu bisa juga bersamaan, cukup panjang kan prosesnya.

Mudah putus asa

Banyak penulis pemula yang berguguran karena putus asa dan kecewa dengan hasil yang diperolehnya yaitu “penolakan”. Merasa naskahnya sudah keren dan sempurna, lalu ternyata penerbit menolak naskahnya, maka tidak sedikit dari calon penulis yang enggan meneruskan keinginannya menjadi penulis.

Kurang riset dalam menulis

Riset adalah hal yang penting dalam menulis, baik itu menulis fiksi ataupun nonfiksi. Jika tidak melakukan riset maka naskah yang kita tulis akan menjadi sangat tidak enak untuk dibaca. Misalnya, kita menulis tentang naskah kedokteran, tokoh utamanya mengalami kanker darah, penulis lalu menyebutkan bahwa kankernya sudah mencapai stadium tiga.

Menurut kalian di mana letak kesalahannya?  Ya, kanker tersebut keganasannya tidak menggunakan level stadium. Jadi, jika naskah kita kebetulan dibaca oleh praktisi kedokteran, maka mereka akan menertawakan isi naskah kita.

Ingin cepat popular

Kesalahan berikutnya sebagai penulis pemula adalah keinginan untuk cepat terkenal. Nah, jika sebagian besar dari kita ada yang bercita-cita seperti itu, maka buang jauh-jauh. Karena menjadi penulis itu bukan untuk mengejar popularitas, tetapi jembatan untuk berbagi ilmu dan pengalaman. Jika ingin mengejar popularitas bukan di dunia penulisan, tetapi bisa di youtube atau media sosial lainnya.

Malas membaca buku

Bagaimana mungkin tulisan kita akan menjadi bagus kalau kita malas membaca buku? Kalau kita malas membaca buku, tulisan kita pasti begitu-begitu saja (tidak ada kemajuan) dan akan sangat membosankan ketika dibaca.

Begitu juga sebaliknya, semakin kita gemar membaca buku-buku yang berkualitas, maka pikiran kita akan lebih tercerahkan.

Nah, sekarang kita sudah tahu kan kesalahan-kesalahan yang biasa terjadi atau dilakukan oleh penulis pemula, maka dari itu hindari semua kesalahan tersebut. Pastinya terus belajar dan berusaha maksimal dan konsisten. Silakan share bila tulisan ini bermanfaat ya.

Oleh: Tim Trenlis, dikutip dari beberapa sumber.

Tinggalkan Balasan