AKU mengintip tidak sabar dari jendela rumah, berharap tukang sayur segera lewat. Hari ini, aku mesti menyelesaikan sebuah misi penting. Beberapa menit kemudian, suara klakson yang dipanjang-panjangkan terdengar. Pertanda tukang sayur sudah berhenti di depan rumah. Aku masih menunggu, soalnya targetku belum muncul.

Setelah orang yang kutunggu sampai di tukang sayur keliling untuk belanja, aku tersenyum dan bergegas keluar. Aku menyapa semua orang yang ada di sana dengan senyuman lebar.

“Ada apa, nih, pagi-pagi udah senyum gak jelas?” tanyanya dengan nada bercanda. Aku semakin melebarkan senyuman.

“Ah, si Kakak. Senyum, kan, ibadah.”

Dia tergelak sambil memilih sayuran. Kira-kira ada lima orang ibu-ibu lain yang ikut memilah sayur. Aku mengamati tiap gerakannya, mencari momen yang tepat untuk mengutarakan keinginan. Dia sedang memegang seikat bayam sewaktu menangkap pandanganku. Dia mengernyit.

“Ada apa, sih, Dek, liat-liat?”

Aku tersenyum salah tingkah, berusaha melempar pertanyaan senatural mungkin. “Enggak, Kak. Cuma mau tanya aja,” kataku hati-hati.

“Mau tanya apa?” tanyanya sambil kembali memilih sayur.

“Kakak udah lama jadi guru ngaji?”

“Belum, paling baru 5 tahunan gitu. Kenapa? Mau saingan?”

“Dih,” sahutku sambil tertawa. “Mana bisa aku saingan sama pemenang MTQ tingkat Desa.”

“Sst, tingkat desanya jangan dibilang, dong, Dek,” katanya, ikut tertawa. Suasana hangat langsung merebak di langit-langit sekitar gerobak sayur.

“Kak, mula-mula jadi guru ngaji, gimana, sih?”

“Memang kenapa, Dek? Kok, kayak lagi wawancara gitu?”

“Ah, enggak. Mau tau aja, Kak,” kataku beralasan. Kalau kubilang terang-terangan sedang mewawancarai dia, bisa-bisa heboh satu kampung. Nanti muncul gosip bahwa aku sudah jadi wartawan, padahal, kan, bukan begitu kenyataannya.

Dia mengangguk-angguk, lalu mulai bercerita, “Dulu, pas pertama pindah, Adek ngaji di mana?”

“Di belakang, Kak. Tempat Pak Fid.”

Saat itu, aku baru pindah rumah. Sebagai anak PNS, wajar saja kalau rumah juga berpindah-pindah. Ketika itu usiaku baru 11 tahun, baru mau masuk SMP. Orangtuaku segera mencari di mana rumah guru mengaji, supaya aku bisa melanjutkan belajar Qur’an. Didapatilah rumah seorang yang menguasai makhraj huruf dan tajwidnya. Rumahnya hanya berbeda gang dengan rumahku. Beliau memang guru ngaji yang sudah diakui, bahkan anak didiknya ada yang juara MTQ di kabupaten. Bukan main.

Orangtuaku mendaftarkan aku ke sana. Hanya saja, belajar mengajinya malam hari. Ba’da maghrib hingga pukul sembilan malam. Dari gang ini, kami pergi beramai-ramai naik sepeda, sehingga tidak terlalu merasa takut. Toh, di kumpulan kami ada beberapa anak lelaki.

Murid yang mengaji di sana rata-rata berusia SMP, tidak ada satupun yang SD. Kalaupun ada, paling tetangga dari si guru ngaji.

“Terus, gimana, Kak?” tanyaku adanya yang masih belanja di tukang sayur.

“Dulu, waktu ngaji di sana, gimana kamu rasa?”

“Bagus, sih. Bapak itu tegas, menguasai tajwid, meskipun agak sedikit galak,” kataku sambil mengingat-ingat.

“Bukan itunya. Kalau itu, Kakak tahu. Soalnya, Kakak juga murid Bapak,” katanya. Aku mengernyit.

“Terus, apanya yang gimana, Kak?” tanyaku balik. Kakak itu tersenyum.

“Di jalan, pas mau ngajinya. Gimana?”

Aku teringat dulu pernah dikejar anjing saat pergi dan pulang mengaji. Soalnya, kami melewati rumah orang yang memelihara anjing galak. Hampir setiap lewat, kami digonggongi. Memang dasar anak-anak, hal itu membuat kami berhenti lama atau melempari batu supaya si anjing pergi.

Setelah beberapa hari hanya menggonggong, tibalah bagi si anjing untuk mengejar. Kami mengayuh sepeda sekuat tenaga di jalan berbatu, hingga tubuh kami terpantul-pantul dan mulut kami berteriak-teriak. Si empunya anjing bukannya keluar menolong, malah pintunya semakin rapat. Warga yang lain juga jarang yang keluar, soalnya di kampung kami pukul 9 malam itu sudah larut. Dan ada yang bahkan sudah tidur. Hanya ramai saat malam minggu saja.

Sering kali peristiwa anjing menggonggong ini membuat kami malas untuk mengaji. Capek, iya. Takut digigit, iya. Belum lagi kalau ada angsa yang telurnya baru menetas. Wuih, repotnya enggak habis-habis. Setelah berhasil melewati anjing, kami mesti hati-hati juga dengan angsa yang bisa terbang demi menyosor. Iwan, salah satu kawan mengajiku, pernah menjadi korban sosoran angsa. Mengingat hal itu kadang ingin membuatku tertawa, sekaligus kasihan.

“Gimana dulu, waktu ngaji di belakang?”

Aku nyengir mendengar pertanyaan dia. “Ya, gimana, ya, Kak. Kalau dipikir sekarang, jadinya seru-seru lucu gitu. Dikejar anjing, angsa. Minta tolong sama abang-abang yang mau malam mingguan supaya jagain kami dari anjing, hehe.”

“Iya, sekarang kalau dikenang seru, kan? Dulu waktu ngalaminya?” desaknya. Aku tersenyum malu-malu.

“Takut, Kak. Serius. Kayaknya, dulu aku pernah mikir kalau suatu hari nanti aku bisa kena rabies gara-gara anjing. Soalnya anjingnya gak terawat gitu lagi. Malah ada air liurnya.”

Dia tertawa. “Dulu, Kakak juga pernah mikir gitu.”

“Kakak, juga?” tanyaku kaget sekaligus senang. Asyik, aku berhasil memancingnya bercerita. Sang sumber inspirasi mengangguk.

“Dulu, waktu zaman kami mengaji anjingnya udah ada. Mungkin yang gonggongin kalian itu anaknya. Susah, lah, dulu. Belum lagi kami naik sepeda kumbang yang setirnya tinggi. Kaki kami pendek, dikejar anjing, dan naik sepeda kumbang.”

Mau tidak mau aku tertawa. Para ibu yang belanja di sana juga tertawa mendengar ceritanya. Wah, ternyata bukan hanya aku yang serius menyimak kisahnya.

“Terus, gimana, Kak?”

“Ya enggak gimana-gimana. Tapi, 5 tahun lalu Kakak mikir. Oh, mungkin gara-gara ini makanya yang belajar mengaji di sana rata-rata anak SMP-SMA. Anak SDnya sedikit, sekali. Kalaupun ada, paling hanya tetangga-tetangga beliau saja. Iya, kan?”

Iya juga, sih. Pikirku. Meskipun dulu Iwan, Emi, dan Aldi juga masih SD waktu mulai mengaji di sana, tapi sudah kelas 6. Sudah tergolong remaja. Bukannya anak SD yang masih piyik-piyik, begitu. Padahal, dulu di kampung lama, aku belajar mengaji sejak kelas 1 SD. Dan mulai belajar di kelas 6, menurut sebagian besar warga kampung, tentu sudah terlambat.

“Jadi, Kakak inisiatif, buka jadi guru mengaji untuk anak-anak kecil. Biar sebelum ke Bapak di belakang, bisa tahu huruf dulu. Minimal, tahu cara membaca huruf sambungnya, lah. Tahu panjang-pendeknya, biar enggak digalakin sama Bapak. Biar ilmunya nempel terus,” ceritanya melanjutkan.

“Kakak datang ke rumah Bapak, konsultasi. Mau buat rumah mengaji untuk anak kecil di rumah Kakak. Buka mulai ba’da ashar sampai menjelang maghrib. Bapak setuju, malah dukung Kakak. Karena, kan, Bapak maunya anak-anak diajari sejak kecil juga. Ya udah, karena Bapak setuju dan enggak ada persaingan, Kakak berani buka rumah mengaji di sini.”

Aku mengangguk-angguk mendengar ceritanya. Benar sekali apa yang dpikirkannya. Penting sekali mengajarkan Al-Qur’an pada anak-anak sejak kecil. Karena medan menuju ke rumah Bapak berat, jadi kehadirannya ibarat mata air bagi anak-anak. “Kakak dulu murid Bapak juga, kan?”

Dia mengangguk. “Makanya Bapak lebih setuju lagi. Soalnya, Bapak juga tau gimana Kakak mengajinya, gimana Kakak menguasai tajwidnya. Enggak sebagus Bapak, sih, tapi lumayan, lah, untuk anak-anak.”

“Terus, awal Kakak buka rumah mengaji itu gimana? Lancar?”

Dia menggeleng, “Ya enggak juga, Dek. Tahulah, orang kampung gimana. Mereka pada ragu sama Kakak. Mungkin karena Kakak anak bawang, ya? Enggak ada yang mau ngaji sama Kakak. Padahal, Kakak udah tawarkan sama semua yang punya anak kecil. Mereka enggak mau daftarkan anaknya ke Kakak. Soalnya, mereka enggak yakin Kakak bisa. Tahu sendirilah, Kakak masih muda waktu itu. Sementara orang kampung sini tahunya guru ngaji yang udah tua.”

“Kakak merasa gimana, ya? Ya sedih, ya kecewa. Tapi wajar, sih. Jam terbang Kakak, kan, memang belum ada. Palingan, Kakak pengalaman jadi guru nasyid, bukan guru ngaji.”

“Bahkan ada yang bilang Kakak enggak pantes jadi guru ngaji. Masih muda, apalagi waktu itu Kakak belum menikah. Jadi, ya, agak disuruh tahu diri gitu. Kakak enggak patah semangat, masih aja bujuk anak-anak SD buat belajar ngaji sama Kakak. Tapi, orang tuanya enggak kasih. Mereka lebih milih anaknya belajar sama Bapak waktu SMP ketimbang sama Kakak.”

“Pertama-tama yang ngantarkan anaknya ke Kakak itu Wak Sri, tetangga depan. Karena anaknya enggak punya sepeda untuk ke belakang. Ya, Kakak terima aja. Udah dua bulan dia mengaji sama Kakak, Wak Sri bantu promosi. Anaknya juga ngajak teman-teman mainnya buat ngaji sama Kakak. Ya udah, dari satu orang jadi 5 orang. Terus nambah sampai sekarang. Anaknya juga udah ganti-ganti,” katanya.

“Itu Kakak yang megang terus, sampai besar?”

Dia menggeleng lagi. “Enggak, Dek. Kalau udah bisa baca Qur’an, Kakak lempar ke Bapak. Biar lebih paham lagi tajwidnya. Kakak juga takut salah, kalau megang sampai besar. Karena, kan, ilmu tajwid Kakak enggak sehebat Bapak.”

“Sekarang udah banyak, yang ngaji ke Kakak, kan?”

“Alhamdulillah, Dek. Makanya rata-rata yang mengaji ke Kakak itu anak SD yang masih krucilan. Memang itu tujuannya, buat ngajarin yang masih kecil-kecil. Yang belum kuat mental buat dikejar anjing,” katanya sambil tertawa, aku ikut tertawa mengenang.

“Iya, anakku juga ngajinya sama dia. Bagus, sih. Nanti kalau kamu punya anak, ngaji sama dia aja,” sambung para Ibu Bangsa lain, menimpali. Duh, malah anakku disuruh ngaji sama si Kakak. Bu, hilal jodohku saja belum kelihatan, gimana mau punya anak.

Obrolan malah jadi ngalor-ngidul, meskipun masih seputar guru ngaji. Setelah selesai bercerita, Si Kakak menghitung belanjaannya pada tukang sayur, lalu berlalu pergi. Aku yang datang ke sini hanya untuk mengorek informasi, pada akhirnya hanya membeli jajanan ringan dan ikut kembali masuk ke rumah. Sambil berusaha mengingat detail cerita yang dia ceritakan.

***

Sorenya, aku langsung membuat draft di buku tulis. Kupisahkan menjadi lima bagian dan bertekad akan menyelesaikannya hari itu juga. Sebelum lupa detail ceritanya. Beberapa orangtua, yang anaknya bahkan belum masuk SD, lewat. Membonceng si Anak yang sudah berpakaian muslim sambil menyandang ransel yang di dalamnya, bisa kupastikan Iqra’, alif-alif, ataupun Qur’an. Beberapa anak lagi lewat pakai sepeda.

Aku tersenyum. Sempat heran kenapa aku kebingungan mencari orang yang bisa dijadikan sumber inspirasi, padahal jarak antara rumahku dengan rumahnya hanya berselang empat rumah. Aku mencari terlalu jauh, padahal mata air bagi anak-anak itu berada sedekat 25 meter dari tempatku duduk sekarang.

Ah, mata air anak-anak. Benar, dia mata air untuk anak-anak di kampung kami. Dan mata air itu bernama Lisnawati Saragih.

****

Diceritakan sesuai dengan pengakuan sumber, dengan bahasa yang sudah diperhalus.

Oleh: Dina Pertiwi.

Ilustrasinya dari sini.

 

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: