inilah rahasia di balik setiap ujian hidup kita

Inilah Rahasia di Balik Setiap Ujian Hidup Kita

Ini kisah tentang dua pekerja yang sedari pagi hingga sore telah menguras energi untuk bekerja di sebuah rumah mewah. Sebut saja nama mereka: Si A dan Si B. Kisah ini dimulai ketika keduanya hendak pulang, sebab memang hari sudah sore, matahari sudah berada di kaki langit sebelah barat sana. Tetapi, tiba-tiba sang majikan berseru kepada keduanya, “Apakah kalian bersedia membantu saya?”

“Apa yang bisa kami bantu, tuan?” tanya Si A.

“Aku minta kalian untuk memanen buah mangga yang ada di belakang rumah,” jawab sang majikan.

Si A tersenyum, lalu mengiyakan, “Baiklah tuan, kami akan merampungkan pekerjaan itu.”

Sang majikan pun, kembali ke dalam rumah. Sedangkan Si B merasa tidak suka dengan keputusan Si A. “Seharusnya kita memanen mangga itu besok saja,” keluh Si B.

“Sebaiknya kita lekas kerjakan saja,” jelas Si A, “sebab besok masih banyak pekerjaan lain yang harus kita bereskan.”

Dengan berat hati, Si B pun mengikuti langkah Si A menuju belakang rumah. Sesampainya di bawah pohon, Si A bergegas menaiki pohon mangga itu. Ia memetik mangga-mangga yang sudah matang dan memasukkan ke karung. Sedang Si B, dengan begitu malasnya memunguti mangga-mangga yang telah jatuh dan memasukkannya ke karung yang ia bawa. Padahal mangga yang diambil Si B itu sudah banyak yang busuk.

Si A pun menegurnya, “Hai, kenapa kamu mengumpulkan mangga yang sudah busuk itu?”

“Biar saja,” jawab Si B dengan entengnya, “yang penting aku sudah mengumpulkan mangga dalam karung ini. Toh nanti tuan akan memilihnya sendiri.”     

Duapuluh menit berselang, mereka sudah berhasil mengumpulkan banyak mangga di karung masing-masing. “Ayo kita serahkan mangga ini kepada tuan,” ajak Si A.

Mereka melangkah menuju ke ruang tengah rumah dan menemui sang majikan di sana. “Kerja bagus,” kata sang majikan, “sepertinya aku tidak perlu memeriksa mangga-mangga itu.”

Si A dan Si B saling bertatapan. Mereka kebingungan. “Apakah tuan tidak ingin menjual semua mangga ini?” tanya Si B.

“Oh, tentu saja mangga-mangga itu tidak perlu dijual,” jelas sang majikan, “aku yakin kalian sudah memilih mangga-mangga yang bagus, jadi aku hadiahkan mangga-mangga itu untuk kalian saja. Bawalah pulang mangga yang sudah kalian kumpulkan itu. Agar adil, bawalah mangga yang ada di dalam karung yang kalian bawa itu.”    

Alhamdulillah …” kata Si A bahagia, “terima kasih tuan, terima kasih.”

Sial! batin Si B, aku malah mengumpulkan mangga busuk, andai saja sejak awal diberi tahu kalau mangga ini boleh dibawa pulang ya pasti aku memetik yang masih bagus-bagus.

***

Begitulah, meskipun kedua pekerja tersebut diberikan kesempatan yang sama, tetapi cara mereka menggunakan kesempatan itu sangatlah berbeda, tentu hasilnya pun akan berbeda. Termasuk juga dalam kehidupan kita sehari-hari. Saat kita diberikan ujian oleh Allah—dan kita tidak tahu ada rahasia apa dibalik ujian tersebut—tentu Allah Swt tidak bermaksud jahat kepada kita.

Pertama, meski ujian itu sangat membuat hidup kita tidak nyaman, namun ketika kita mampu menyikapinya dengan positif, pastilah hasil kebaikan itu akan kembali kepada diri kita sendiri. “Hal jazâ ul-ihsân ilâ ihsân, tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (Qs. Ar-Rahman [55]: 60).

Maka jangan sampai kita menyia-nyiakan semua kesempatan berbuat baik, jangan sampai terlewat begitu saja, agar kita tidak menyesalinya di kemudian hari.

Kedua, bukan seberapa besar masalah yang menghadang kita, tetapi bagaimana reaksi kita saat menghadapinya. Jangan sampai kita menghabiskan banyak waktu untuk menyelesaikan satu masalah, padahal kita bisa merampungkannya dengan cepat. Sebab sering kali energi dan waktu kita terbuang cuma-cuma karena suka mendramatisir masalah. Sehingga masalah yang sebenarnya ringan jadi terasa berat.

Memang manusiawi ketika kita terkejut saat melihat kenyataan tidak sesuai dengan harapan kita. Sebab kita belum bersiap diri menghadapi segala kemungkinan yang bakal terjadi. Tapi alangkah beruntungnya bagi kita yang tetap berpikir positif dan lekas merampungkan apa pun masalah yang kita hadapi. Jangan membuang-buang waktu dan jangan kalah oleh masalah!  

Oleh: Dwi Suwiknyo, penulis buku laris Ubah Lelah Jadi Lillah.

Ilustrasi dari sini.

Tinggalkan Balasan