Ilustrasi dari Merdeka.com

Inilah yang Harus Kamu Lakukan Ketika Punya Masalah

Ada banyak bukti-bukti sejarah yang telah menunjukkan, bahwa di balik sebuah kesulitan akan ada banyak kemudahan. Seperti dalam kisah Nabi Yusuf, Nabi Ayyub, Nabi Nuh, Nabi Musa, terjadi kepada banyak hamba, begitu pula para sahabat, para solihin, dan secara sadar atau pun tidak kita pernah mengalaminya.

Oh … ternyata gara-gara saya tidak lulus mata kuliah A, malah saya mahir di bidang mata kuliah B. Atau saat seseorang ditolak judul skripsinya, mungkin nanti dia menemukan sesuatu yang lebih penting dan berharga di masa depannya.

Kita semua memang sudah tahu bunyi ayat: innama al usri usron, tapi masalahnya kita yakin atau tidak? Apakah ketika kita terkena suatu musibah, kita langsung teringat dengan surat ini. Saya ambil contoh: semisal kita kehilangan dompet, apakah kita langsung teringat fainnama al usri usron.

Bersama hilangnya dompet mungkin kita akan menemukan yang lainnya yang lebih baik. Dan itu bukan cerita sinetron dong, ya! Atau bisa saja kita tidak diterima di kampus favorit yang kita inginkan, eh… malah kita sekampus dengan si dia, pahamlah siapa yang dimaksud dengan dia.

Banyak kisah yang mengenai kalau di balik kesulitan ada kemudahan, tapi tinggal kita yakin nggak tentang hal itu?

Yakin nggak, bahwa jika ada kesulitan terus kita yakin kepada Allah, justru itu kemudahan yang sejatinya. Ini masalah yakin, kita yakin nggak dengan ayat tersebut? Sehingga yang sekarang kita coba belajar, bukan tafsir atau definisi innama’al usri usron innama’al usri usron. Kita tidak belajar tentang itu tapi kita belajar tentang iman (keyakinan).

Membaca Al-Qur’an, kita tidak hanya belajar memaknai, tapi belajar yakin dulu sebelum memaknai semakin dalam. Sehingga dulu ada sahabat bernama Abdullah bin Mas’ut ketika menghafal Al-Qur’an, sekali dengar beliau langsung hafal. Berbeda dengan kita, kalau kita menghafal sekali dengar bukannya hafal malah bingung dan lupa. Jangankan ayat Al-Qur’an, nomor handphone saja kalau kita bacanya hanya sekali saja pasti lupa.

Abdullah bin Mas’ut sekali dengar langsung hafal, tidak hanya satu ayat melainkan satu juz. Apakah beliau jenius yang IQ-nya di atas rata-rata? Tidak! IQ beliau biasa-biasa saja. Terus apa yang membedakannya? Kata beliau Ta’alamnal imani qoblal qur’an, beliau belajar iman sebelum belajar Qur’an.

Jadi, belajar yakin sebelum belajar membaca, sebelum belajar tafsir, sebelum belajar fikih, sehingga ketika kita sudah yakin apa pun makna dari ayat itu mudah dipahami, kalau sudah yakin apa pun perintah di dalam ayat itu mudah diamalkan, kalau sudah yakin apa pun larangan di dalam surat itu mudah ditinggalkan. Belajar yakin yang sekarang kita tingkatkan lagi, bukan belajar faham doang, termasuk sesederhana ayat fainnama’al usri usron innama’al usri usron.

Misalnya dulu para sahabat Rasullah ketika turun ayat tentang jibal. Begitu turun tentang menutup aurat untuk wanita, wanita-wanita di Madinah baru mendengar ayat itu dari suami-suaminya. Ketika para suami pulang, sampai di rumah para suami bilang, “Wahai istri-itriku, sudah turun ayat kepada Rasulullah tentang menutup aurat.” Lalu wanita muslimah di Madinah spontan menutup aurat dengan apa yang mereka bawa.

Mengapa wanita muslimah Madinah bisa spontan gitu ngamalinnya? Tetapi kenapa kita yang baca ayat itu berkali-kali belum bisa? Apakah kita tidak tahu, apakah kita tidak mengerti? Kita tahu, kita mengerti. Ini bukan masalah ngerti atau tidak ngerti, tapi ini masalah iman.

Kenapa orang-orang dahulu gampang banget mengamalkan Islam?

Karena zaman dulu mereka sudah belajar yakin (iman). Ini yang kita coba belajar, seperti potongan ayat: Wabasirissobirinnaladzi na idza asobad hum musibah qholu innalilahi wainnailaihi rojiun. Sampaikanlah berita gembira kepada orang sabar.  Kalau kita sudah percaya kepada ayat: wabasirissobirin, lalu kenapa kita selalu bertanya sabar, sabar dan sabar sampai kapan? Pertanyaan itu karena kita belum yakin, emangnya mudah sabar?

Sebetulnya mudah banget kalau kita yakin, masalahnya bagaimana kita belajar yakin?

Bahwa sabar itu memang berita gembira, pertolongan Allah itu datangnya lewat shalat dan sabar. Jadi, mari kita belajar iman jangan hanya untuk menambah wawasan, menambah wawasan belum tentu menambah iman. Terus kenapa sekelas Bilal bisa baik dalam menjalankan islam padahal wawasannya pas-pasan? Karena dia telah mempelajari iman.

Salah satu kisah Al-Qur’an yang sangat panjang yang membenarkan ayat fainnama’al usri usron yaitu pada kisah Nabi Yusuf as. Mari kita pelajari bersama tentang Surat Yusuf, biar kita sama-sama tahu bahwa di dalam kisah Nabi Yusuf as kaidah innamaal usri usron fainnamaal usri usron itu sangat berlaku banget dalam kisahnya.

Kalau kita mempelajari sampai tuntas tentang Surat Yusuf, kesimpulannya ialah untung Yusuf diilemparkan ke dalam sumur, andai saja kakak-kakaknya tidak melemparkannya ke sumur, mungkin dia akan menjadi manusia biasa-biasa saja dikampungnya.

Ketika di dalam sumur yang dangkal tapi susah untuk naik bagi anak kecil, dia ditemukan oleh seorang musafir lalu diperbudak, diperjual belikan, hingga akhirnya dia masuk istana, serta ada fitnah dari perempuan di istana yang menyebabkan Yusuf masuk penjara.

Oh untung dulu beliau difitnah oleh perempuan itu sehingga masuk penjara, kenapa kok malah bilang untung saja

Karena waktu di dalam penjara beliau menunjukkan kelebihan yang bisa membuat dirinya ‘naik’, apa keahliannya? Yaitu menafsirkan mimpi. Di dalam penjara sesama narapidana (napi), ya … namanya sesama napi curhatlah napi itu, dia mengatakan bahwa semalaman bermimpi aneh, Yusuf pun menafsirkan mimpi tersebut dan jadi kenyataan.

Karena Yusuf menafsirkan mimpi dan menjadi kenyataan, maka ketika sang raja bermimpi ia memanggil Yusuf. “Wahai Yusuf saya dengar kamu mahir dalam menafsirkan mimpi, coba kamu tafsirkan semua mimpi saya, semua para ahli hikmah tidak bisa menafsirkannya.”

Nabi Yusuf menafsirkan mimpi sang raja secara logis, ketika mimpi itu terbukti benar sesuai tafsir Nabi Yusuf. Nabi Yusuf mendapatkan jabatan sebagai menteri kesejahteraan masyarakat, dan dengan potensi itu Nabi Yusuf menunjukkan keahliannya sehingga Nabi Yusuf meningkatkan kesejahteraan orang-orang mesir dan akhirnya naik lagi menjadi raja.

Coba bayangkan! Diawali dari dilemparkan ke sumur oleh kakak-kakaknya, dilanjutkan oleh fitnah dan masuk penjara, hingga pada akhirnya menjadi raja. Fainnama’al usri usron innamal usri usron, setiap kesulitan pasti ada kemudahan, dan di setiap kesulitan itu membawa kita kepada kemudahan.

Hikmah yang bisa  kita  petik ialah, di dalam kesulitan yang kita hadapi sehari-hari, akan mudah ketika kita yakin  mempelajari tentang iman (keyakinan), dan segala sesuatu jika kita lakukan dengan yakin itu akan mudah bagi kita yang akan melakukannya.

Jadi jangan mudah putus asa saat menemukan kesulitan di dalam diri kita, yakinlah bahwa kita bisa menyelesaikannya.

Oleh: Tim Trenlis.co.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan